‘Kalap’ Njajan di Pasar Gede Solo

pasar gede-setia menanti pelanggan
Pedagang jajan pasar setia menanti pelanggan

Nyaris di semua perjalanan saya, serasa sudah wajib hukumnya melakukan blusukan ke pasar tradisional setempat disusul mencicipi kuliner pinggir jalannya. Nah, biarpun ini bukan plesir perdana ke Kota Solo, tetap saja saya kekeuh mengharuskan diri singgah ke pasar tua berarsitektur menawan pada pintu masuknya ini.

Padahal, ketika kendaraan yang saya tumpangi melipir mendekati pintu masuknya, itu Solo sedang panas-panasnya. Namanya saja siang bolong. Tapi itu tak menyurutkan tekad yang terlanjur bulat, hohoho. Penasaran mengapa pasar satu ini pernah dinobatkan sebagai pasar tradisional terbaik se-Jawa Tengah beberapa tahun silam. Kabarnya, pasar ini selalu menempati urutan atas target kunjung para pelancong yang mau berwisata kuliner.

Langsung merapat ke tekape sajalah dan cari jawabannya sendiri saja! Dijamin, melihat suasananya saja kepala manggut-manggut sebagai ganti ucapan; “O, pantes…” Hebatnya, meski begitu banyak pedagang yang mengais rejeki di pasar tua seluas sekitar 4,000 m2 ini, tak menjadikannya semrawut ataupun jorok. Semua tertata rapi dan memberi kemudahan transaksi jual-beli. Pedagang sayur, buah, makanan matang sampai jajanan pasar menjaga betul kebersihan lapak masing-masing.

Buat saya, yang paling menerbitkan air liur adalah aneka pecel serta beragam jajanan pasar. Entah bagaimana, penampilannya yang menarik, cita rasanya yang kaya ditambah harga murah meriahnya itu sepertinya sudah ‘sekongkol’ mengagalkan program diet saya yang senantiasa bertahan sebatas niat di pikiran saja, hehehe.

pasar gede-cincau yang menggugah selera
Rombong es cincau yang menggugah selera

Suhu udara yang panas mengundang dahaga. Sebuah gerobak es cincau pun jadi pelampiasan. Duh, segarnya segelas cincau hijau ‘Cao Cin Cao’ disiram sirup merah dan santan putih membasahi kerongkongan. Minuman tiga warna ini sukses mendorong saya memesan gelas berikutnya untuk dibawa ke hotel.

Puas memutari bagian dalam pasar, melihat lapak demi lapak yang teratur lantas membeli ini itu, saya memutuskan beranjak ke area luar. Ealah, godaan lain menyapa. Deretan nasi bungkustermasuk yang bertuliskan ‘selat’ yang tertata rapi di atas meja menggerakkan tangan mengeluarkan isi dompet. Terakhir njajan nih, tekad saya dalam hati.

Nyatanya tidak. Dekat pintu keluar, terhampar bermacam model, ukuran dan warna alas kaki. Semua terlihat pas di kaki. Otomatis, harga yang terjangkaupun membuat saya membeli beberapa pasang. Tentengan belanjaan di tangan kanan dan kiri sudah terasa berat. Saya pikir, itu sudah cukup memadamkan selera berbelanja. Rupanya salah. Di luar pasar, giliran penjual kue kering dan karak membuat saya kalap belanja lagi.

Saat rasa pegal di tangan akibat menenteng belanjaan segambreng tak kunjung hilang walau telah bersantai di hotel, sayapun bertanya pada diri sendiri, “Kapok?” dan jawabannya jelas, “Kapok lombok.” Artinya, sekilas dan berlalu. Buktinya? Esok harinya saya masih kepengen memburu jajanan pasar lagi kok! Anda juga pasti. (naskah dan foto: Lucy Liestiyo/Heti Palestina Yunani)