Kalap Belanja di Pasar Hamadi


Merunut Jejak Elang Timur di Bumi Papua (5)

Hari ini hari ke tiga kukelanai Papua. Pagi itu cerah, seakan mengiringi perjalananku menuju Tugu MacArthur, sebuah tugu bersejarah di dalam lingkungan Resimen Induk Kodam (Rindam) XVII/Cenderawasih Sentani. Tugu itu didirikan sejak Perang Dunia II oleh pasukan Sekutu pimpinan Jenderal Douglas MacArthur.papua 5mc arthur

Tugu yang termasuk cagar budaya itu didirikan dengan tujuan sebagai pembuktian bahwa tentara sekutu telah mendarat di New Guinea (sekarang Papua New Guinea/PNG) dan menguasai Hollandia (sekarang Jayapura). Tugu bersejarah ini dari Jayapura berjarak kurang lebih 45 km.

Tepatnya sebelum persimpangan Bandara Sentani, di seberang jalan sebelah kanan. Dari jalan cari saja penunjuk arah yang bertuliskan ‘Rindam XVII/Cenderawasi’, sebagai tanda menuju lokasi. Setelah masuk di pemuka jalan, ikuti terus jalan hingga menemui Pos Proovost Rindam XVII/Cenderawasih.

Tepat di pos penjagaan, aku berhenti. Timur yang masih setia mengantarku keliling Papua, turun, melapor dan meninggalkan KTP. Mobil boleh dipersilakan masuk asal dengan kaca terbuka. Di lokasi, aku langsung menuju museum kecil atau ruang informasi yang menyediakan berbagai informasi tentang Tugu MacArthur.

papua5mc arthurAda dipampang foto-foto pendaratan sekutu di PNG. Ruang informasi ini buka pada jam-jam tertentu yaitu pukul 14.00-18.00 WIT pada hari Senin sampai Jumat, dan pukul 10.00-18.00 WIT di hari Sabtu dan Minggu. Tarif masuknya untuk mobil Rp 20 ribu dan motor Rp 5 ribu.

Selain memberikan ilmu pengetahuan sejarah mengenai Perang Dunia ke II dan Papua, tempat ini juga menawarkan keindahan alam yang luar biasa elok. Luas pandangan dari sana begitu mengangkasa. Maklum, tugu terletak di Ifar Gunung, yang dikenal dengan Bukit Makatur.

Dulu Jenderal MacArthur saat PD II mendarat pertama kalinya di Papua, di TeLuk Hamadi (sekarang menjadi markas AL Jayapura). Ia berjalan mendaki melalui Sentani. Letak tugu sangat pas, yaitu berhadapan langsung dengan Ibukota Kabupaten Jayapura, Sentani.

Letaknya yang berada di atas bukit (ketinggian), membuat banyak sudut pandang yang elok bisa dilihat, di antaranya Danau Sentani, landasan pacu Bandara Sentani dan Kota Sentani tentu saja. Dari sini pula, kita bisa melepas pandang melihat matahari tenggelam dengan semburat jingganya.

papua 5 pemandangan dr bukit mc arthurBenar-benar memukau! Papua memang kaya raya! Usai puas menatap lepas dan merasa luas pandang hamparan pemandangan indah dan tak lupa mengabadikan gambar-gambar elok di atas bukit dan Tugu MacArthur, aku segera bergerak turun, menuju destinasi berikutnya, Danau Sentani.

Danau Sentani termasuk terbesar di Papua yang berada di bawah lereng Pergunungan Cagar Alam Cyclops. Luasnya sekitar 245 ribu hektar, terbentang antara Kota Jayapura dan Kabupaten Jayapura. Di danau yang memiliki luas sekitar 9.360 hektar pada ketinggian 75 mdpl itu terdapat 21 buah pulau kecil.

Sentani berarti ‘di sini kami tinggal dengan damai’. Kabarnya, nama itu pertama kali disebut oleh seorang Pendeta BL Bin ketika melaksanakan misionaris di wilayah danau ini pada tahun 1898. Kawasan wisata ini kaya akan keanekaragaman biota laut dan hewan-hewan endemik khas Papua.

Salah satu yang menarik di Danau Sentani adalah keberadaan hiu gergaji (Pristis microdon). Disebut begitu karena giginya berderet dan pastinya amat tajam. Hiu ini dikenal juga dengan nama ‘hiu Sentani’ karena hanya ada di lokasi ini. Satu jenis ikan lain yang khas namun jumlahnya semakin sedikit dan langka adalah gabus.

papua 5tepi danau sentaniKini Danau Sentani dijadikan lokasi wisata lengkap untuk berenang, bersampan, menyelam, memancing, juga ski air. Keheningan alam dan kebeningan airnya membuatku tak habis menikmatinya. Tampak di seberangnya tumbuhan subur sebagai latar belakang seolah melindungi 24 desa di sekitar danau. Sungguh pemandangan elok!

Di danau, kita bisa menaiki perahu atau menyewa perahu bermotor yang melaju tenang mengelilingi danau sambal menyaksikan rumah-rumah panggung di perkampungan air. Danau Sentani dan sekitarnya dahulu merupakan tempat pelatihan untuk pendaratan pesawat amfibi. Landasan ini dibangun Jepang yang diambilalih Angkatan Darat AS pada 1944.

Legenda perang Amerika Serikat, Jenderal MacArthur pernah tinggal di danau dan di 22 pulau di dalamnya. Orang-orang di sekitar danau terkenal kreatif. Hasil kerajinan tangan mereka merupakan yang terbaik di tanah Papua. Mereka biasa membuat lukisan dan baju dari kulit kayu (Pulau Ayapo) dan memahat ukiran kayu Papua.

Mereka rata-rata hidup sebagai nelayan. Karena itu, sudah umum jika mereka yang tinggal di rumah panggung itu menjaring ikan. Mereka juga sangat terbuka pada turis. Jika kita berjunjung, mereka kerap menyajikan masakan ikan gabus yang lezat. Itulah kenapa kampung-kampung atau Ondoafi di sekitar Danau Sentani itu layak dikunjungi.

Yang unik lagi, mereka juga menanam sayuran di tengah danau dan suka menyelam sambil merokok. Kok menyelam sambil merokok? Bisakah? Bisa tuh nyatanya! Eit, jangan salah dulu, mereka tidak merokok seperti umumnya.

Bara rokok yang menyala mereka masukkan ke dalam mulut, agar hawa panas dari bara rokok menghangatkan tubuh mereka sewaktu menyelam di danau yang sangat dingin. Jika mereka sudah naik ke permukaan danau, rokok kembali dihisap seperti biasa.

papua 1 pasar seni hamadiSatu hal yang sungguh sayang, aku datang ke sana saat Agustus. Mestinya Juni agar bisa  melihat Festival Danau Sentani. Tak terasa awan berarak menuju senja begitu saja. Aku mengajak Timur segera menuju Pasar Hamadi. Sebab kalau kesorean, pasar yang menyimpan aneka ragam hasil kerajian Papua itu tutup.

Di situlah salah satu surga belanja Jayapura. Seperti Bandung punya Cihampelas, Jakarta punya Tanah Abang, dan Yogyakarta punya Malioboro atau Pasar Beringharjo. Lokasi Pasar Hamadi ini berada di arah selatan Kota Jayapura, tidak terlalu jauh dari pusat kota, sekitar 3 km.

“Yakin mau borong?”

“Let see!”,  sahutku pada tanya ragu Timur saat mobil memasuki jalan ke arah Pasar Hamadi.

“Di Papua ini, ada sekitar 250 suku! Di pasar ini banyak ragam dan macam pernak-pernik semua suku! Mau borong semua?”

Pasar Hamadi terkenal sebagai pusat penjualan cinderamata khas Papua. Barang yang paling terkenal tentu saja benda-benda buatan Suku Asmat, seperti perlengkapan pakaian, pernak-pernik yang dipakai, hingga replika tongkat dan topi bulu kepala suku. Lukisan dari kulit kayu bisa digulung agar mudah dibawa.

Ada ukiran kayu, hingga patung kayu Suku Asmat yang harganya dari Rp 10 ribu hingga jutaaan. Sangat etnik, antik, unik, menarik! Yang paling identik dengan oleh-oleh Papua adalah koteka yaitu penutup kelamin pria Papua yang terbuat dari kayu. Tak hanya berbentuk kerucut panjang, tapi pangkalnya bisa bulat, bahkan bergelombang seperti senjata khas Jawa; keris.

Belum lagi berbagai macam aksesoris, gelang, kalung, anting, cincin dari kayu maupun akar pohon. Kulihat dompet dan noken (tas keranjang dari akar pohon yang biasa digunakan di kepala). Kuambil tiga tas noken dan dua dompet berwarna cokelat tanah dan yang natural sesuai warna asli akarnya.

Harganya terbilang murah. Jika dilihat dari pilinan akar yang dijalin rumit, rapi, dan sangat dekoratif, yaitu antara Rp 100-150 ribu. Setelah puas memilih dan memilah cinderamata khas dari akar kayu, kubeli dua lusin t-shirt katun halus aneka warna dengan bordir Papua. Karena beli cukup banyak, aku diberi harga Rp 45 ribu per satuannya.

Satu jam lebih aku memanjakan mata, namun jelas kurang tentu saja waktu yang ada. Segera aku menuju mobil dan mengajak Timur melihat aneka batik Papua di Toko Ilham dan Aneka Batik di pusat kota. Di dua tempat itu, aku jadi tahu ciri batik Papua yang khas; warnanya cerah dengan motif tifa dan cendrawasih yang mendominasi.

Harganya mulai Rp 25-75 ribu per meter. Ada juga yang sudah menjadi baju mulai Rp 75 ribu, tergantung jenis bahan dan model. Usai puas melihat batik Papua, aku mencoba jalan mencari cokelat Papua. Cokelat Papua tidak biasa. Ia diambil dari biji kakao dicampur rempah-rempah dan sari buah merah yang berkhasiat sebagai obat.

Toko yang menjual cokelat lezat ini ada di Jl Raya Sentani, sebuah toko dengan papan cukup besar bertuliskan ‘Coklat dan Buah Merah’. Cokelat 100 gram dijual seharga Rp 15 ribu hingga 700 gram seharga Rp 40 ribu. Sementara sari buah merah dan sarang semut sebagai ramuan obat khas Papua, bisa mudah dicari di sini.

Setelah acara shopping yang kalap itu, rasanya lelah seharian pun terbayar. Di tanganku ada aneka macam oleh-oleh yang siap kubawa ke Jakarta. Tampaknya banyak tapi kok serasa masih sedikit saja, hehehe. Puas di Papua? Belum. Untung aku masih ada waktu berkeliling Papua sehari lagi. (naskah dan foto/Kirana Kejora/Heti Palestina Yunani/bersambung)