Kagum Bonus ‘Nyeri’ Menatap Alhambra

Oleh-oleh dari Jazirah Andalusia (1)

Entah mengapa, meski hanya sejenak menelusuri Jazirah Andalusia, saya merasa jatuh cinta. Terutama pada sang delima, Kota Granada. Dalam Bahasa Spanyol, Granada berarti delima. Dinamakan delima karena para penguasa muslim di abad pertengahan yang mendirikan kota ini mengambil nama dari buah yang ada di surga. Seperti yang disebut dalam Surat Ar Rahman yaitu Ar Rumman alias delima alias granada.

Ada banyak alasan mengapa saya jatuh cinta padanya. Mungkin karena iklim kotanya yang sangat nyaman dibanding Surabaya. Bisa juga mungkin karena alamnya yang indah dengan megahnya jajaran bukit panjang Sierra Nevada yang melatarbelakangi cakrawala kota.

andalusia (3)Tapi mungkin juga karena alasan romansa. Saya telah membaca sejarah kebesaran peradaban Islam Andalusia sejak sekolah dasar. Beberapa kali mengulang-ulangnya dan selalu berhasil membuat mata berkejap-kejap karena takjub akan cerita kemegahan peradabannya. Sejak saat itu saya selalu memendam mimpi untuk menjejakinya.

Dan kali ini terjadilah. Tetapi di balik perasaan jatuh cinta, ternyata ketika betul-betul akhirnya berkesempatan datang ke Granada dan melihat dengan mata kepala sendiri apa yang dulu waktu kecil hanya bisa saya baca, perasaan takjub itu ternyata berdesak-desakan dengan perasaan lain: ada ‘nyeri’.

Menelusuri sudut demi sudut kota-kastil di atas bukit di Granada, Alhambra -yang sesuai dengan namanya ternyata dari kejauhan terlihat kemerahan juga warnanya, ketakjuban saya bercampur rasa tak enak di dada. Ketika meraba kasar halus dinding bangunan dan kaligrafi di dalam istana, tidak ada kata yang bisa mewakili rasa sebaik kata-kata dalam karya Heinrich Heine.

Penulis Jerman itu, dalam bukunya Al Mansor yang pernah ditulis Goenawan Muhammad dalam status Facebook-nya: “Betapa dalam kau terpuruk, wahai Granada!” Dalam buku itu kata GM, Heine menceritakan ikhwal seorang tokoh bernama Al Mansur bin Abdullah yang pulang ke Granada dari pengasingannya di Maroko Afrika utara, dan kembali ke kastil masa kecilnya.

Meskipun bangunan kastil itu masih tetap tegak berdiri di atas tanah yang sama, dengan lantai yang dilapisi permadani berwarna-warni yang sama, tetapi kehidupan di atasnya telah berubah. Tak ada lagi kemerdekaan menjalankan agama di sana seperti dulu yang ia kenal saat kecil. Tak ada orang Islam, Kristen dan Yahudi hidup bersama dan saling bertukar peradaban.

Kesultanan yang pernah jaya selama 3 abad sebelumnya di Granada, -karena terlena dalam kegemilangannya sendiri-, pada akhirnya justru bergelimpang jatuh ke tangan kerajaan Katolik Spanyol yang dipimpin Ratu Isabella dan Raja Ferdinand. Di akhirnya nasib kota itupun papa dan lara.

Ketika suatu saat Al Mansur bertemu kembali dengan Hassan, pelayan setia yang dulu mengasuhnya, mereka saling menceritakan muramnya keadaan. ”Aku menyaksikan ribuan orang Muslim merundukkan kepala agar dibaptis dalam ketakutan,” kata Al Mansur. (naskah dan foto: M Atoillah Isvandiari/editor: Heti Palestina Yunani/bersambung)