Jodoh Tak Sampai by Lenny

“Travel brings power and love back into your life.” – Rumi

Kata-kata mutiara itu terpampang besar di depan buku harianku, menjadi panutan dan pemompa semangat yang selalu diteguhkan ketika memulai hari yang baru. Kata kata tersebut juga menjadi awal kembalinya aku ke Wakatobi, sebuah pulau yang justru ingin kuenyahkan dari muka bumi.

Tak peduli berapa pun jauhnya aku pergi dari Wakatobi, sosok dia selalu membayangi. Ibarat musafir, aku berkelana ke seluruh pelosok dunia. Hiruk-pikuk Tokyo telah kuresapi. Nikmat dunia di Las Vegas telah kuteguk. Ubud yang magikal telah kusambangi. Bahkan, Kathamandu yang menyihir pun kudaki. Namun, hasilnya nihil. Hatiku tetap segersang gurun Sahara. Sosoknya tak mau pergi, selalu menyapa lamunanku. Tak ada cara lain, aku harus menghadapi kenyataan ini untuk mengobati luka hati yang semakin bonyok.

  • Wakatobi, 18 Januari 2013

Pesawat yang membawa aku dan dia tiba di bandara Matohara. Tak henti- hentinya aku mengucap syukur dapat berpijak kembali ke tanah. Sedari tadi hanya pusing dan mual yang kurasakan karena pesawat kecil yang kami tumpangi diombang- ambing cuaca buruk.

“Kamu nggak apa-apa?” tanya dia.

“Nggak kok,” jawabku sok kuat.

Tidak mungkin aku mau merusak mood kami di tengah perjalanan yang kebetulan sama dengan hari ketika kami pertama kali berkencan setahun yang lalu. Betapa suka-rianya aku ketika tahu akan ditugaskan berdua dengannya untuk meliput Kabuenga, acara adat masyarakat Wakatobi. Walaupun hatiku sedang berbunga-bunga, kami tetap berakting layaknya profesional di lapangan. Sebenarnya hal ini mudah saja, karena peraturan di kantor yang tidak berpihak pada karyawan untuk menjalin hubungan romantis maka aku dan dia jarang terlihat bersama. Bahkan, kami cenderung seperti dua orang yang tidak saling kenal.

Nama Wakatobi cukup unik karena berasal dari rangkaian gugusan pulau besarnya yakni Wangi Wangi, Kaledupa, Tomia dan Binongko. Wangi Wangi atau yang dikenal sebagai pulau wanci adalah ibukota kabupaten ini dan di sinilah Bandara Matohara dibangun. Aku masih melamunkan betapa asyiknya ber-snorkeling bareng dengan si dia untuk membuktikan jargon Wakatobi yang terkenal tentang keindahan dunia bawah lautnya, ketika kulihat Pak Kasmi telah menjemput di ruang kedatangan. Pak Kasmi selaku kepala desa di sini merupakan satu-satunya orang yang memiliki kendaraan pribadi, sedan merah tua keluaran 1960.

“Mari Mi, acara sudah mau dimulai,” sapanya, khas dengan logat suku Bajo yang kental.

Dari bandara menuju ke lokasi Kabuenga tidaklah jauh. Jalanannya hanya lurus tanpa diaspal. Aku membuka kaca jendela karena mobil antik ini tidak memiliki pendingin. Lagi pula dengan angin segar tanpa polusi begini, siapa yang butuh pendingin buatan? Tak selang lima belas menit, kami sampai di lapangan besar tempat acara berlangsung. Ratusan orang dari berbagai kalangan menyemuti area tersebut. Kabuenga merupakan salah satu perayaan lokal yang telah diadakan sejak zaman Kerajaan Buton berdiri di Sulawesi Tenggara. Kabuenga sendiri adalah ayunan setinggi kurang lebih lima meter yang bertumpu pada bambu besar yang dihiasi janur berumbai-umbai.

Di tengahnya disematkan tali serta ayunan yang dapat diduduki pria dan wanita dewasa. Masyarakat percaya bahwa pasangan yang diayun akan berjodoh. Pak Kasmi bercerita , Kabuenga ini diadakan karena dulunya para pemuda lokal yang notabene pelaut kesulitan memiliki waktu untuk bersosialisasi, sehingga mereka kesulitan mencari pasangan. Untuk menyelesaikan masalah ini, diadakanlah Kabuenga setahun sekali atau sesuai dengan kemampuan finansial masyarakat.

Dari samping ayunan raksasa telah berbaris rapi beberapa wanita muda lengkap dengan pakaian adat mereka yang berwarna-warni cerah, kontras dengan kulitnya yang eksotis terbakar matahari serta wajahnya yang penuh polesan bedak putih. Di samping mereka, sang ibunda mendampingi anak gadisnya yang segera memulai acara perjodohan. Yang membedakan mereka hanyalah konde. Sang gadis menggunakan konde bulat di atas rambut cepolnya, sedangkan si ibunda tampil lebih minimalis dengan konde yang agak runcing. Di satu sisi yang lainnya, para lelaki tampak merapikan baju batik serta peci terbaik mereka, berharap mereka tampak paling menawan di antara lelaki lainnya.

Musik dan nyanyian lagu daerah pun mulai didengungkan seiring dengan para ibu menggandeng anak gadisnya masuk memutari lapangan. Gadis-gadis itu membawa sebotol minuman bersoda dan gelas kecil yang akan ditawarkan ke para tamu dan lelaki yang diam-diam mereka titipkan hatinya. Sebagai imbalannya, sang gadis diganjar amplop berisi uang. Begitu seterusnya sampai sang tamu dan lelaki tak punya persediaan amplop lagi. Setelah itu, acara yang ditunggu-tunggu pun dimulai. Para orang tua lelaki memberikan sejumlah uang yang dikemas bersamaan dengan hantaran makanan seperti ayam atau ikan untuk diberikan kepada salah satu gadis pujaan sang lelaki.

Jika sang wanita menerimanya, berarti cintanya tak bertepuk sebelah tangan dan sang gadis menerima pinangan lelaki tersebut. Acara Kabuenga diakhiri dengan mengayun pasangan tersebut. Mereka diayun oleh para orang tua, disaksikan seluruh pengunjung.  Konon mantra Kabuenga sangat manjur. Pamor Kabuenga semakin bersinar ketika artis Hanung Bramantyo dan Zaskia Mecca diayun di Kabuenga saat berkunjung ke Wakatobi. Tak lama setelah itu, terdengar kabar mereka naik ke pelaminan. Aku yang sedari tadi melihat semburat cinta dari pasangan muda-mudi ini jadi ingin langsung merasakan kehebatan Kabuenga sebagai mak comblang. Kudekati si dia yang masih sibuk menjepret dengan kamera DSLR-nya.

“Cobain, yuk. Tuh, Kabuengannya sudah sepi,” ujarku penuh semangat.

“Males ah,” jawabnya tanpa menoleh.

Aku tak pantang menyerah. Kutinggalkan dirinya yang masih menatap lekat hasil foto di kameranya dan menghampiri Pak Kasmi. Lima menit kemudian, “Hari ini kita kedatangan tamu istimewa, Anton dan Lenny. Ayo Mi, kita persilakan mereka menaiki Kabuenga,” seru Pak Kasmi dari pengeras suara.

Anak anak desa mulai bersuit-suit dan meneriaki nama kami, membuat dia tak berkutik. Bagaikan kerbau yang dicolok hidungnya, dia pun dengan terpaksa menyeret langkahnya mendekat ke Kabuenga.

”Kamu apa-apan sih? Kita lagi kerja tau,” ketusnya, kesal.

”Sudah, nggak apa-apa. Kapan lagi, coba?” jawabku tak peduli sambil menarik lengannya menuju ayunan.

Tubuhku yang kurus bersanding dengan badannya yang gempal membuatku hampir tak bisa duduk di ayunan tersebut. Namun, kupakai kesempatan ini untuk sedikit public display affection dengan menggengam tanganya. Toh, tidak ada yang mengenal kami. Pak Kasmi dan seorang wanita meminta agar kaki kami diangkat supaya tidak menyentuh tanah. Biar sah, begitu alasannya. Setelah itu, mereka pun memegang tali ayunan dan mengayun-ayunkan kami. Aku seperti bayi yang dibuai dalam panjatan doa yang tak kumengerti bahasanya. Anak-anak desa dan warga masih mengerubungi kami dan terus menggoda, apalagi melihat pipiku yang memerah. Rasanya hubungan kami telah disetujui oleh warga sekampung yang bahkan baru kali ini melihat kami. Tak sedikit pun aku melepas senyum dari wajahku.

”Kali saja kita beneran jodoh,” jawabku pelan, menatap si dia.

Dia bergeming.

”Len, bulan depan aku dimutasi ke Jambi,” tiba tiba mulutnya yang sedari tadi terkatup mulai membisikkan kata-kata.

”Kita udahan aja, ya,” ucapnya pasti.

Dia meloncat turun dari ayunan. Sorak dan canda anak-anak langsung terhenti seiring ayunan yang menjadi timpang dan perlahan berhenti. Dalam hitungan detik dia yang di samping lenyap menghilang di antara kerumunan dan pandangan mataku.

* * *

Senja baru akan menampakkan wajahnya ketika aku tiba di Pantai Sousu. Birunya laut bersanding dengan pasir putih dibingkai dengan deretan pohon kelapa yang membentang sepanjang garis pantai. Tidak ada yang tahu, Wakatobi punya begitu banyak harta karun seperti ini. Masyarakat sekitar pun tak menyadari betapa dahsyatnya potensi pantai ini. Tetapi, bukankah sudah menjadi hal biasa bila justru masyarakat di kota sendiri terkadang bisa luput dengan objek wisata di tanah kelahiran mereka? Mereka baru tersadarkan ketika wisatawan berbondong-bondong menanyakan lokasinya atau ketika Lonely Planet telah menominasikannya dalam daftar 100 Must Visit Places Before Die.

Ah, biarlah, aku justru lebih senang begini. Tidak ada siapa-siapa. Hanya ada aku dan kenangan tentang si dia. Semua tampak sama seperti setahun yang lalu ketika aku melampiaskan patah hatiku di sini, mencari batu dan melemparkannya ke laut sambil mengutuk tindakannya. Menghempaskan diriku ke air, menanggis meraung-raung memekikkan namanya. Semua perasaan benci dan dendam yang menghantui kusimpan rapat di lubuk hati terdalam. Bagai penyakit kanker, energi negatif itu mengerogoti diriku sedikit demi sedikit. Pelan-pelan menjangkit hati dan nurani. Tak disangka aku pun berubah seperti orang pesakitan. Tidur tak lelap, makan tak nafsu. Hidupku lumpuh, terseok-seok mencari pegangan untuk bertumpu. Mimpi dan asa hanyalah pemanis belaka.

Pintaku hanyalah satu, berharap suatu saat akan tiba waktuku melihatnya datang padaku, berlutut, meminta maaf dan menghiba-hiba. Sayangnya, masa itu hanya ada dalam khayalku. Aku telanjur lelah dengan semua ini, tak sanggup lagi membawa amarah yang sesak membelenggu. Aku harus membuka kotak pandora ini, mengosongkannya dan mengisinya dengan secercah harapan yang baru.

Aku menuliskan namanya besar besar di bibir pantai: A N TO N

Lima huruf yang mengguncangkan duniaku.

Lima huruf yang mengajarkanku nikmatnya memadu kasih.

Lima huruf yang menghempaskanku ke dasar neraka.

Air laut mulai pasang dan mencolek huruf huruf tersebut.

Aku tak punya tenaga lagi untuk menghentikan ombak yang menerjang huruf tersebut.

Aku tak punya tenaga lagi untuk menghentikan ombak yang pelan tapi pasti mengikis dan menyapu bersih huruf tersebut.

Berapa pun doa yang kupanjatkan, tak akan mengubah kenyataan yang telah pergi.

Berapa pun air mata yang kukeluarkan, tak akan mengembalikan dia ke sisiku.

Inilah Wakatobi, salah satu surga terindah di dunia yang tak lebih menjadi kuburan cintaku.

Pergilah dengan tenang, wahai cinta.

 “If you love someone, set it free. If it comes back, it’s yours. If not. It wasn’t meant to be.” – Unknown. (penulis: Lenny (*)/ilustrasi cerpen: by Vladimir Potonjac-Olive Tree-1986-medium oil on board-70cm48cm-koleksi Abu Jalal Sarimon/Heti Palestina Yunani)

(*) Awal mula berkecimpung sebagai freelance tour guide di Singapura, membuat Lenny jatuh hati pada dunia wisata. Sebagai alumni pertukaran pemuda Indonesia-Australia serta penerima beasiswa ke Amerika Serikat, gadis dengan segudang prestasi dan kegiatan kepemudaan ini telah berkecimpung di dunia jurnalistik sejak tahun 2012 dengan debut membuat majalah online @NusantaraMagz serta blog Travel Diary. Beberapa karya dan profil dirinya telah dimuat di Kompas, MyTrip Magazine, CHIC Magazine, CitaCinta, PADMAgz dan berbagai media nasional lainnya. https://www.facebook.com/lendiary/http://len-diary.blogspot.com/@Lenny_Indonesia.