Jembatan Akar by Indrian Koto

Kita mungkin belum bisa ke Bukittinggi, Danau Singkarak, atau Istana Pagaruyung. Bukankah kau ingin melihat pantai? Di kampung pesisir ini ada banyak pantai yang setiap tempatnya membuat kau berdecak kagum. Sejak kau sampai di Pasar Baru hingga Muara Sakai di ujung selatan kabupaten sana, kau akan berhadapan dengan pasir yang sama bagusnya, pohon kelapa yang sama condongnya, serta hamparan pulau yang menerbitkan rasa penasaran.

Kita sudah singgah di Langkisau, melintasi Pulau Cingkuk dengan boat dan berjalan di jembatan Pantai Carocok. Ini tempat wisata andalan kota ini. Namun, pantai lainnya, dari Sungai Nyalo, Teluk Batung, Teluk Kasai, Teluk Tempurung, tak kalah menakjubkan. Ke selatan lagi kau akan terpesona di Puncak Bukit Taratak menyaksikan biru laut dan memandang tanjung dan pulau-pulau yang menghampar di utara-selatan. Sampai ke Kambang, Air Haji hingga Muara Sakai, kau akan terus bertemu laut dengan bibir pantai yang terus memakan daratan. Berkunjung ke Pesisir Selatan, kau memang tak menemukan banyak plang tempat wisata, tapi percayalah pantai dan pegunungannya menawarkan sensasi yang luar biasa.

Barangkali kita bisa melihat Pulau Cubadak di ketinggian bukit menuju Mande. Pantai dan pulau yang memesona di Tarusan itu pernah kautemukan di majalah pariwisata. Ke tempat itu, aku akan memenuhi hasratmu yang selalu laut, selalu ombak. Sebagian kecil dari Pulau Cubadak yang terhampar di kampung pelosok pinggir pantai Mande, kawasan Tarusan itu telah berpuluh tahun dikelolah oleh orang asing. Mereka lebih mengetahui tempat terpencil pantai, karang, laut, dan ombaknya yang bagus ketimbang kita pemilik wilayah. Bahkan, baru belakangan ini turis-turis lokal mulai berdatangan setelah beratus-ratus orang asing mencecap keindahan pasirnya, keindahan karangnya, keindahan pulaunya.

Kita mungkin bisa menyeberang ke Pulau Cubadak, pulau terbesar di antara gugusan pulau-pulau kecil di tepi teluk Tarusan. Kita tetap akan sangat puas memandang kerlip lampu dari penginapan itu dari Bukit Mande atau Pelabuhan Carocok. Bukan, bukan Carocok Painan. Banyak orang salah sangka, memang. Kutegaskan sekali lagi, di sini ada dua Carocok. Pertama di Painan dengan Pulau Cingkuknya, disebut Pantai Carocok. Satu lagi di Tarusan dengan hamparan pulau-pulau dan airnya yang setenang danau berupa pelabuhan dan tempat pelelangan ikan. Pelabuhan Carocok, namanya. Di sana ditambatkan tak hanya perahu-perahu nelayan, tapi juga perahu sekaligus sebagai angkutan beserta berjuta kenangan.

* * *

Kita masih punya waktu. Sebelum larut dalam labirin jalan melingkar menuju Pelabuhan Carocok di Tarusan sana, saya ingin mengajakmu ke hulu sungai. Sudah kukatakan, di Kampung Pesisir ini seluruh tempat menawarkan pesona yang berbeda. Kelapa boleh sama condongnya, ombak boleh sama deraunya, tapi pesonanya, percayalah, kau akan ingin menulis kenangan di setiap tempatnya.

Mari berbelok di Simpang Bayang. Pertigaan jalan menuju timur akan membawa kita ke Kampung di sepanjang persawahan. Bayang Utara, nama kecamatannya, dengan petak-petak sawah sepanjang pandangan mata, punya tempat yang tak kalah indah untuk kita berdua. Di sana ada air terjun Bayang Sani yang ramai dikunjungi pada musim liburan, terutama menjelang Ramadan dan Lebaran. Kita tidak hendak ke sana sekarang. Sebuah tempat nyaris di penghujung jalan aspal yang nyaris 30 km ini kita akan bertemu sebuah tempat wisata. Jambatan Aka, namanya. Dalam bahasa Indonesia ditulis Jembatan Akar. Hmm, meski benar, artinya tak selalu sama. Aka dalam bahasa Minang memiliki dua arti: akar dan akal. Apakah di sana kita akan bertemu jembatan akar atau tembatan akal, kaulah nanti yang lebih bisa memastikan.

Seperti yang lain, kita menyebutnya Jembatan Akar.

Saya sudah pernah ke sana, dulu sekali tentu saja. Masa-masa itu kendaraan dan jalan belumlah seperti sekarang. Memasuki bulan Puasa atau Lebaran, seperti yang tadi kukatakan, kami akan menyewa mobil L-300 untuk dimuati bersama-sama. Saya mengalami di masa kecil dan remaja. Ada yang menyewa mobil, menjadi ketua rombongan yang bertanggung jawab mengumpulkan orang dan membayar uang sewa mobil dan sopir. Selalu anak-anak dan remaja. Yang paling bahagia tentu anak-anak dan mereka yang baru memiliki pasangan.

Di jok terbuka mobil itu kami duduk berdempetan. Anak-anak berdiri di bagian depan dan di tengah mobil, yang remaja duduk berderet di sisa jok terbuka. Kami menyebutnya konvoi. Mobil jenis ini kami sebut oto konvoi. Sesekali ada speaker dipasang di belakang, dengan alunan house music yang menyala kencang di tengah terik matahari.

Selain bersantai, ini perjalanan religius menyambut Ramadan. Konvoi ada banyak. Jalanan macet. Semua tempat yang disebut tempat wisata air pun ramai. Kali ini bukan Pantai. Timbulun Painan. Di ibukota kabupaten banyak antrean. Salido Kecil yang dulu pernah menjadi tambang emas akan penuh berdesakan. Demikian juga air terjun Bayang Sani dan Jembatan Akar di Pulut-pulut, hulu kampung di Bayang Utara itu. Semua orang mandi dan basah. Padusan, orang Jawa bilang. Balimau, kami menyebutnya.

Aku pernah ke Jembatan Akar, Entah di masa kecil, entah di masa remaja. Rasanya tak terlalu jauh. Mobil banyak berderet-deret. Ingatanku masih cukup kuat mengingat jalinan akar di atas sungai berbatu di Kampung Pulut-Pulut, Desa Asam Kumbang yang sungainya berhulu di Solok Selatan itu. Ya, kau tahu, kampung kami berbatasan langsung dengan Solok Selatan di Timur sana, tapi tak ada jalan alternatif untuk ke sana.

Soal bagaimana sengkarut rencana jalan lintas Kambang—Muara Labuh, lain waktu akan saya kisahkan.

* * *

Kau menikmati perjalanan ini, bukan? Aku tidak menyangka jika kita akan menempuh 20 kilometer lebih untuk sampai ke sana. Dulu rasanya dekat sekali. Ah, ingatan kadang memang tak selalu bisa dipercaya. Yang dulu terasa dekat betapa kini semakin jauh.

Kau tahu, di kampung dengan satu jalan ini lahir penyair hebat bernama Riki Dhamparan Putra. Di sini pula juga tumbuh penyair muda berbakat Deddy Arsya dan Fatris M Faiz, si fotografer dan penulis catatan perjalanan itu.

Apa kau merasa menemukan bait puisi di antara petak sawah, asap, kabut dan deru sungai?

“Kuharap kita tak segera sampai,” katamu yang beberapa kali mengingatkanku untuk tidak terlalu memacu sepeda motor terlalu kencang. “Pemandangan tak begitu saja bisa dilewatkan.”

Aku tertawa senang.

Kita melewati penjual semangka di pinggir jalan. Di musim kemarau, sawah-sawah mengering dan orang-orang beralih menjadi petani semangka. Begitulah cara mereka bertahan hidup dengan apa yang mereka punya.

Jalanan datar berbelok mulai mendaki. Di depan kita sebuah bukit berbatu runcing menggoda ingatanku. Aku seperti mengenal tempat itu. Tapi, di manakah Jembatan Akar?

Kita membacai pancang beton yang dijadikan petunjuk jalan. Kampung Pulut-pulut masih agak jauh. Kita berada di ketinggian. Tempat wisata alam semacam ini memang tak terletak di pinggir jalan utama. Alam mencari tempat tersembunyi untuk menunjukkan keajaibannya.

Bukit batu runcing itu masih di sana, mendongak di antara pegunungan lain. Barangkali, kita bisa membuat rumah di puncaknya.

“Bagaimana cara turunnya?” kau bertanya. Aku tertawa.

Lalu, di seberang yang lain kita lihat sebuah gunung dengan batuan datar memanjang, seperti sebuah dinding raksasa menjulang ke angkasa. Kita segera sampai, meski aku tak tahu di mana persisnya.

Aku memacu motor lebih pelan. Di sebuah tikungan kecil kita melihat ada banyak kendaraan diparkirkan. Seseorang berdiri menghadang kita. Pulu-pulut, kampung paling ujung itu masih berjarak 10—11 kilometer. Tapi, kita bukan hendak ke sana.

“Parkir Jembatan Akar di sini,” kata seseorang, dengan santun.

Artinya, kita sampai.

* * *

Dingin menyambut kita di pintu masuk. Suara air memecah batu terdengar cukup keras. Hari belum terlalu petang ketika kita membayar karcis dan melewati jalan menurun. Bekas pos karcis sudah berdebu, pertanda tak pernah dipakai lagi. Jalan turun cukup curam dan berteralis. Kita berpapasan dengan beberapa orang yang tubuhnya basah. Segera kita berhadapan dengan kios yang menjajakan minuman dan gorengan.

Di situlah kita kini, berdiri di hadapan Jembatan Akar. Dua pohon yang berdiri tegak dari dua bibir sungai berbatu. Antara keduanya berjarak sekira 5—6 meter. Akarnya kait-mengait dan menyatu. Di antara batang raksasa itu sebuah celah terbuka, seperti sebuah pintu yang mempersilakan siapa pun masuk.

Aku merasa waktu tak bergerak di sini. Masih seperti dulu. Papan kayu yang menjadi lantai beberapa bagian serta kawat yang membantu menahan akar pohon untuk tak roboh. Akar itu masih kuat dan kokoh, namun orang-orang mencoba menjaga agar sesuatu yang buruk tak lekas terjadi.

Di bawah sana kita melihat orang-orang riuh dengan gembira. Mereka bermain air dengan tubuh menggigil. Kau menatap jembatan yang dijalin dari akar itu.

“Apakah alam yang menyatukan dua pohon yang berjauhan itu?’ tanyamu ragu.

“Tidak. Menurut riwayatnya, dulu sekali seorang petani dan guru mengaji bernama Pakiah Sokan dengan gelar Angku Ketek menaman dua pohon beringin serta pohon asam kumbang di sini. Bersama-sama masyarakat kampung ini mereka mempertemukan dan menjalin akar-akarnya agar bisa dilalui. Kau tahu kan, betapa deras dan dalamnya sungai ini dulu?” aku menjelaskan sepanjang yang aku tahu dari buku-buku.

Kau meraba jembatan itu. “Benar-benar akar. Benar-benar pohon.”

“Mendekatkan yang jauh, memperpendek jarak.”

Kau kembali meraba batang beringin besar sebelum mencoba meniti akar. Aku menyusulmu dari belakang. Beberapa orang berbaris di belakang kita. Jembatan sedikit bergoyang, tapi tak mengrangi keperkasaannya. Di bawah, sungai dengan airnya yang mening memukul batu-batu besar. Kau terus meniti dan aku ingin segera mandi.

Jika dipikir-pikir mustahil rasanya akar dua pohon yang terletak berberangan sungai bisa disatukan. Lihatlah kini, bahkan kita tak tahu, yang diinjak dan yang dipegang kiranya berasal dari pohon yang mana.

“Aku ingin kita kokoh seperti akar ini. Menyatu dan tak pernah bisa dipisahkan,” kau agak berteriak ketika mengatakan itu agar suaramu tak tenggelam dalam desau sungai.

“Ya, aku juga berharap begitu. Lekaslah, aku ingin segera mandi.”

Kau berhenti, berpaling kepadaku. “Tangan manusia bekerja, tangan alam ikut bekerja.”

“Tangan Tuhan pasti juga bekerja.”

* * *

Saya tidak tahu persisnya kapan saya pertama kali datang ke sini. Hanya saja kenangan demikian abadi. Lihat, di batu yang di utara itu, tempat akar-akar beringin menjuntai, di sanalah dulu saya berdiri dengan sebotol minuman kaleng, mengabadikan diri dalam foto bersama yang klisenya mesti dicuci sendiri-sendiri. Batuan itu masih di sana, akar-akar itu masih seperti akar yang dulu. Tapi, aku tumbuh, kenangan tetap saja seperti itu.

Kita selesai menyeberangi jembatan. Kita memandang ke seberang ke jalan mula kita masuk di antara celah pohon.

“Kau suka mana, pantai atau pegunungan?”
“Alam tak bisa dibandingkan, bukan?”

Aku mengabadikanmu dalam kamera.

“Aku ingin kembali ke sini kelak setelah kita menikah,” ujarmu parau.

Aku menusap bahumu. Kemudian kita turun ke bawah, merasai dingin air dari hulu yang tak jauh, tapi berada entah di mana.

Dari bawah, di antara arus sungai dan batuan kita mendongak ke atas. Jembatan itu tampak demikian tampan dari sudut mana pun. Menjulang di atas arus sungai, menyeberangkan ribuan orang setiap tahunnya.

“Kurasa bukan hanya jembatan dari akar pohonan, tapi juga dijalin dari aka.

Aku tertawa mendengarnya.

Kenangan selalu abadi, peristiwa tak bisa kita duga kelanjutannya, kekasih.

* * *

Mengapa akar yang berjauhan bisa menjadi jembatan untuk menyeberang, tetapi yang dekat kadang tak selalu bisa ditautkan?

Aku kembali ke sini, sendiri, mengenang ini semua dengan pedih. Di kiriku dilumuri akar, pilin-berpilin sepeninggalmu.

2014

(naskah: Indrian Koto(*)/ilustrasi: NN/editor: Heti Palestina Yunani)

(*) Indrian Koto lahir 19 Februari 1983 di Kenagarian Taratak, kampung kecil di Pesisir Selatan Sumatera Barat. Belajar sastra dan terus belajar mendalaminya. Aktif di Rumahlebah Yogyakarta dan Rumah Poetika. Mengelolah dan mengurus kegiatan jualbukusastra.com. Kontak 081802717528