Jauh dari Peradaban, Hidup Mengandalkan Alam

Sukses Membuang  Stress di Bario Highlands (3)

Cerita saya pertama kali yang berkesan tentang Bario, Sarawak, Malaysia adalah; sinyal telepon dan internet yang tidak berfungsi. Cocok, sebab saya memang ingin membuang stress di sana. Tapi semua keterbatasan komunikasi itu terobati dengan udara segar sepanjang waktu yang membuat hidup saya menjadi bahagia di Bario.

bario3-suasana kaki gunung Semua itu sungguh menenangkan. Di Bario, saya jadi teringat dengan kawasan Dieng di Indonesia. Itu terasa saat begitu mendarat Bario. Udara terasa sejuk padahal sudah pukul 11 siang. Waktu itu matahari bersinar terang benderang. Tapi sesiang itu, cuaca berkisar 18 derajat Celcius sehingga jaket harus dirapatkan.

Saya berjalan antusias dari landasan pacu menuju ruang kedatangan dan sabar menunggu tas. Bandara di pegunungan ini sangatlah sederhana. Hanya ada 1 konter check in, 1 ruang tunggu dan 1 ruang kedatangan yang terdapat 1 roda berjalan untuk mengambil barang.

bario3-tepian sawah dikaki gunungDi luar bandara, seorang pria dengan gaya petualang menghampiri kami. Dialah Scott Apoi, pemandu saya selama berada di Bario. Scott tak lain pemilik guest house Ngimat Ayu, di mana saya dan teman-teman tinggal selama di Bario.bario3-jalan masih tanah keras

Penerimaan Scott yang ramah dan hangat membuat kami langsung dekat. Sebelum menuju guest house, kami mampir ke sebuah kantin. Segelas barley hangat adalah pilihan tepat untuk menyesuaikan diri dengan suhu dan cuaca di Bario.

Di kantin itulah saya melihat beberapa orang penumpang juga menikmati minuman hangat. Termasuk pilot yang tadi mengantar kami semua dari Miri ke Bario. Sembari menikmati minuman, saya bertanya apakah di mana toko, kafe atau hotel bagi pengunjung?

Scott menjawab sambil tertawa. Ia mengatakan kalau kawasan Bario merupakan daerah yang bisa dibilang jauh dari sentuhan budaya modern. “Kita berada ratusan mil jauhnya dari peradaban dan Anda berada di Bario Highlands,” katanya meyakinkan. Wah, benar-benar tempat yang tepat untuk membuang stress nih.bario3-jembatan di jalan kampung bario

Kami lalu diantar Scott menggunakan mobil 4WD dengan tambahan bak terbuka di bagian belakang. Saya sendiri memilih naik di belakang bak mobil. Dengan cara itu saya bisa melihat beberapa warga yang menyapa dengan melambaikan tangan pada saya. Sungguh mereka sangat ramah dengan pendatang.

Bahkan menurut Scott semua orang di Bario mengenal satu sama lain dan tahu silsilah keluarga sehingga setiap pendatang akan sangat mudah dikenali. Apalagi kalau ada yang pacaran antar penduduk kampung, maka bebet, bobot, bibit langsung ketahuan seketika tanpa bisa ditutup-tutupi.

Scott sendiri adalah anak mantan kepala kampung. Maka sudah pasti setiap warga kampung yang lewat menyapanya termasuk kami yang dibawanya pergi. Lokasi Bario boleh dibilang terisolasi dari jangkauan masyarakat pada umumnya, tapi justru inilah membuat desa Bario menjadi unik dan menantang untuk dikunjungi.bario3-padi baru tanam

Sepanjang mata memandang banyak sekali lahan hijau, sawah yang baru selesai dipanen dan tentu saja rumah-rumah yang asri penuh tanaman bunga. Selama perjalanan ini saya berusaha menghirup udara sebanyak-banyaknya untuk memenuhi paru-paru.bario3-bunga dihalaman

Inilah yang menyenangkan di Bario. Bagi saya yang hidup dengan segudang aktivitas modern dengan lingkungan perkotaan, tinggal tiga hari di Bario membuat saya menemukan gaya hidup yang unik dan berbeda. Hidup dengan mengandalkan alam.

Menghirup udara segar sepanjang hari. Belajar menikmati berbagai macam tradisi dan kekayaan alam serta aktivitas di alam membuat saya menemukan kesederhanaan tanpa modernisasi. Jauh dari nada dering panggilan telepon atau bunyi notifikasi dari jejaring sosial.

bario3-sungai sebelum kampung pa'umorTidak sibuk mengecek email atau stress dengan pekerjaan sembari memandang laptop. Jauh dari mal dan kehidupan malam penuh hura-hura serta tidak terjebak macet dengan bunyi klakson memekakan telinga. Tidak ada polusi dari knalpot kendaraan.

Interaksi setiap hari langsung bertatap muka satu sama lain. Tidak ada keramahan semu di sini. Semuanya menyapa dengan tulus. Hidup menjadi sangat akrab dengan satu sama lainnya. Saya sangat menikmati hidup di sini, jauh dari kemewahan dan peradaban elektronik.

bario3-menuju sore didepan ngimat ayuMeski jauh dari peradaban namun banyak aktivitas asyik di Bario seperti bird watching. Sebab ada dua jenis burung endemik yang hanya ada di Bario. Jangan lupa juga untuk mencoba sensasi bermain kayak di dataran tinggi yang pastinya berbeda dengan di daerah lain.

Oya, saya mengingatkan bagi yang tidak terbiasa berada di dataran tinggi untuk berhati-hati dengan mountain sickness karena teman saya ada yang mimisan karena belum pernah kedataran tinggi sebelumnya. But overall, saya makin yakin jika Bario adalah obat manjur menjauh dari stress! (teks dan foto: Dony Prayudi/editor: Heti Palestina Yunani/bersambung)