Jatuh Hati di Angkringan Lek Man

Sisi Lain Yogyakarta Pascaerupsi Kelud (2)

erupsi-4Bangun pagi di hari kedua, rasa lelah setelah perjalanan darat dari Surabaya hingga berkeliling Yogyakarta belum sirna. Saya putuskan untuk berkeliling kota saja sembari memulihkan stamina. Mirota Batik di ujung Malioboro menjadi  destinasi pertama saya. Bukan untuk membeli batik, melainkan berbelanja berbagai lulur dan wedang-wedangan yang jarang saya temui di kota asal.

erupsi-9Meski tidak berniat membeli batik, tangan ini tetap khilaf mengambil sebuah blouse batik cantik berwarna ungu. Setelah membayar, saya langsung bergegas menyeberang ke Pasar Beringharjo. Lagi-lagi bukan untuk berbelanja, melainkan untuk membeli sate gajih yang tidak saya jumpai di tempat lain. Tidak sehat, memang.

Tapi gurihnya membuat saya ketagihan. Gerimis mulai turun. Satu hal yang patut disyukuri karena Yogya benar-benar membutuhkan hujan u tuk meluruhkan abu yang selama ini beterbangan dan membuat sesak nafas dan perih di mata. Perut sudah mulai keroncongan.

erupsi-7Pilihan saya siang itu adalah naik andong sambil menikmati gerimis menuju Pendopo Dahar Bu Lies, spesialis gudeg komplit yang rasanya tak tertandingi. Seporsi gudeg ayam, lengkap dengan telur dan sambel krecek tandas. Ah… tiba-tiba saya mengantuk. Kembali ke hotel dan beristirahat sejenak lagi-lagi menjadi pilihan saya. Malam harinya saya bertemu dengan sahabat-sahabat lama di restoran ikan bakar Jimbaran, Kaliurang.

Menikmati menu seafood dan obrolan ngalor-ngidul membuat malam berlari tanpa terasa. “Turun yuk, kita lanjutkan ngobrol di Angkringan Lek Man,” celetuk salah satu sahabat tiba-tiba. Tanpa dikomando, mereka langsung setuju. “Tapi bisa kan kita mampir ke Batik Beteng dulu? Ada oleh-oleh yang harus kubeli,” sahut teman yang lain. Sepakat. Mari kita turun. Toko batik yang berada di Jalan Brigjen Katamso ini buka 24 jam dan menjadi solusi bagi para wisatawan yang tidak sempat berbelanja batik untuk oleh-oleh.

Setelah tentengan sudah ada di tangan, beramai-ramai kami menuju Angkringan Lek Man yang ada tepat di samping Stasiun Tugu. Saya terkejut melihat teman-teman kalap mengambil aneka gorengan, baceman, sate, bahkan nasi kucing. Ke mana sea food yang mereka makan di restoran sebelumnya? Tentunya mereka tidak melewatkan Kopi Joss yang memang merupakan menu khas angkringan ini. erupsi-8

Malam semakin larut, sahabat-sahabat saya ini jatuh hati pada pemusik jalanan yang menghibur pengunjung Angkringan Lek Man, seolah kantuk tak akan pernah datang. Saya melihat jarum jam sudah tidak menolerir untuk tetap begadang karena besok pagi saya harus nggowes. Dengan berat hati saya pun pamitan, meninggalkan mereka yang masih berjoged diiringi pemusik jalanan. Pareng…. (naskah dan foto: Didi Cahya/editor: Heti Palestina Yunani/bersambung)