Bagi Tips Sukses untuk Almamater

Dunia kerja selalu dinamis. Untuk menghadapinya, orang harus bergerak cepat agar tak tertinggal kesempatan. Pesan itu disampaikan CEO PT Indocre Lintas Usaha, Ardantya Syahreza dalam acara talkshow literasi “Dressed for Success” bertema “kreatif dan Produktif di Era Digital” di Aula SMAN 5 Surabaya (27/9), kepada sejumlah anak muda di almamaternya.

Dalam kesempatan rangkaian dan menjelang reuni perak angkatan 1994 pada 26 Oktober 2019 mendatang, ia mendorong peserta talkshow menemukan problem solving dalam dunia kerja yang akan mereka hadapi segera. Di tengah arus percepatan teknologi komunikasi, penting bagi anak-anak berpikir kritis dan kreatif sejak dini.

Dijelaskan pria yang karib dipanggil Dacil itu, berpikir kritis dan kreatif itu diperlukan agar mereka siap menghadapi segala kondisi yang sering berubah cepat. Pemiliran ini penting agar kalau ada kesulitan misalnya, jangan serta merta mereka tidak bisa menerimanya. Namun justru mendorong mereka segera mencari apa jalan keluarnya.

Ia memisalkan bila ada siswa yang gagal mendapatkan nilai di atas 7 untuk sebuah mata pelajaran, maka waktunya berpikir kritis dan kreatif. “Dalam kondisi tak menguntungkan begitu, ia sebenarnya didorong memutar otaknya untuk bereksperimen metode belajar yang cocok agar ia bisa memperoleh nilai yang diinginkan,” tuturnya.

Berpikir kritis dan kreatif itu juga termasuk membiasakan diri dengan selalu mencari pertanyaan-pertanyaan, ‘mengapa harus begini?’, ‘mengapa tidak begini?’, atau ‘bisa tidak kalau begini?’. ”Sehingga anak itu selalu men-challenge diri sendiri,” lanjutnya.

Dalam eksperimen mencari problem solving, memang remaja seringkali gagal. Itu adalah hal wajar. ”Yang tidak wajar adalah orang-orang di sekitar remaja itu yang selalu mem-bully atau mengolok-olok kegagalannya. Karena itu kalau ada teman gagal jangan mencelanya,” kata laki-laki 42 tahun itu.

Dalam kesempatan itu, Dacil berbepasa bahwa jangan takut kegagalan. Setiap orang akan menemui hal itu. Yang harus ditanamkan dalam diri remaja adalah selalu ucapkan dalam diri sendiri jika dirinya tidak akan gagal. “Ini semacam sugesti agar ketemu suksesnya,” ucap Reza.

Untuk membangun mental agar remaja mau berusaha dalam mencoba suatu hal, dia menyarankan orang tua untuk membiarkan remaja mengeksplor apa pun. ”Misalnya, kalau ada pemula yang ikut klab dance, biarkan dia bereksplorasi. Jangan paksa dia untuk jadi dancer sukses dulu,” ucapnya.

Karena, yang lebih penting adalah konsisten dan komitmen berlatih dance. Menurut Reza, boleh menargetkan diri menjadi dancer profesional. Tapi itu bukanlah tujuan akhir. Akan lebih baik lagi, lanjut dia, bila remaja memiliki list target-target ke depan. Misalnya, setelah lulus SMA mau kuliah ke mana, setelah lulus kuliah mau bekerja sebagai apa, dan seterusnya.

”Namun, yang perlu dikoreksi oleh guru-guru atau orang tua adalah, mereka sering menyuruh anak-anaknya menulis target-target tanpa membuat tahapan-tahapan apa yang harus mereka lakukan untuk menggapainya,” kata dia. Sehingga, target-target itu hanya berakhir sebagai tempelan di dinding dan tanpa ada artinya.

“Ketika menuliskan target itu, kita harus tahu kenapa memilih mimpi itu? Kenapa penting buat kita? Setiap bekerja pikirkan setidaknya apa kontribusinya untuk masyarakat, apa impact untuk masyarakat dengan pekerjaannya itu,” jelasnya. Ini menurut Dacil akan mencegah tidak mudah menyerah dengan tantangan kerja dan mudah resign dari pekerjaan.

Sementara itu sharing juga disampaikan Lusi Agustina, seorang ibu rumah tangga dan praktisi digital marketing. Senada dengan Dacil, Lusi mengatakan bahwa saat ini kebanyakan generasi muda lebih memilih pekerjaan di bidang start up. Pilihan ini menurutnya tepat karena mereka bisa belajar bertanggung jawab dengan pekerjaan yang ditekuninya sendiri.

Apalagi menurutnya generasi Y dan Z kini lebih cepat bosan dalam satu bidang pekerjaan. Salah satu penyebabnya adalah karena, mereka punya tuntutan sukses itu tidak harus menunggu di usia tua. ”Anak muda sekarang sudah berpemikiran beda, menurut mereka maju dan sukses itu bisa terjadi cepat atau sebelum di usia 30,” kata dia.

Maka, dari itu, kalau pekerjaannya dirasa tidak membuat sukses cepat, akan membuatnya memilih pekerjaan yang lain. ”Jadi, ini juga menjadi tantangan bagi anak muda untuk menciptakan dunia kerja sendiri yang lebih kondusif dan sesuai untuk para generasi Y dan Z,” tandasnya. (penulis: Kartika Sari/editor: hena)