Jalan Sunyi Menuju Langtang Track

Jelajah Nepal; Negeri Impian Para Petualang (1)

Dream Impossible dream! Kalimat itu keluar dari mulut seorang teman ketika tahu niat saya ingin ke Nepal, sebuah negeri para petualang. Kata-katanya sangat ampuh seperti senjata pamungkas, yang mendorong-dorong saya mewujudkannya. Ia bahkan menantang saya dengan bilang; “Discover the possibility. But dont be a dreamer.”

Seperti sihir, saya akhirnya memang mencapai impian itu. Apalagi sudah banyak teman saya yang pergi ke Nepal. Bolak-balik layaknya pergi ke Bali atau Yogyakarta saja. Di mata mereka, Nepal menjadi semacam negara ke dua.

Cerita perjalanan mereka ke sana membuat saya cukup menelan ludah. Mereka bicara tentang kota-kota tua, keramahtamahan, makanan, sampai harga peralatan outdoor yang meski KW, tetap berkualitas dan memenuhi standar petualang. Nepal mulanya seperti sebuah mimpi yang tidak murah untuk kantong ibu rumah tangga seperti saya.

Bagi seorang avonturir, Nepal memang surga bagi para petualang. Bukan saja bagi para pendaki gunung yang menawarkan banyak pilihan sesuai kantong. Tapi juga tentang sejarah kota-kota tua yang masih terawat keasliannya. Padahal gempa bumi sempat menghancurkan beberapa situs bersejarah pada tahun 2015.

Saya putuskan harus ke Nepal mulanya tergiur promo tiket Malindo Air CGK-KTM PP. Tanpa pikir panjang, saya langsung mengeksekusi tiket untuk keberangkatan selama 10 hari. Saya pikir 10 hari cukuplah untuk menjelajahi Himalaya. Belakangan, mengertilah saya kalau waktu selama itu kurang. Utamanya jika ingin melakukan perjalanan ke pergunungan impian bagi setiap orang yang pergi ke Nepal; Everest Base Camp (EBC).

Itu termasuk dalam destinasi utama saya ke Nepal. Ada kalimat puitik yang saya ibaratkan bagaimana gunung itu sangat menarik dalam agenda sebagai petualang; “Langit adalah kitab yang terbentang. Dan gunung salah satu ayatnya.” Puitik kan? Padahal beberapa teman yang pernah ke sana sebenarnya tidak merekomendasikan EBC sebagai jujugan para pendaki macam saya.

Selain EBC, satu tempat lagi yaitu Annapurna Base Camp (ABC) juga tak disarankan. Alasannya karena waktu tempuh yang sangat riskan terhadap beberapa kemungkinan. Bisa jadi karena cuaca, aklimatisasi, dan AMS atau penyakit di ketinggian. Larangan teman itu juga mengingat saya berangkat di bulan Oktober.

Katanya, bulan itu adalah awal dibukanya rute favorit EBC dan ABC. Jadi, sudah pasti kawasan tersebut sangat padat oleh pendaki dari penjuru dunia. Ini jadi wacana penting karena Bandara Lukla di Nepal, yang menjadi pintu masuk para pendaki Everest dari seluruh dunia kerap dihantam cuaca yang tak menentu.

Terkadang, bila cuaca buruk, dalam sehari, tidak ada penerbangan yang beroperasi. Bandara yang diambil dari nama pendaki pertama yang berhasil naik ke Everest tanpa bantuan oksigen, -Tenzing-Hillary-, itu kondisinya unik. Ia termasuk bandara yang terkenal dengan landasannya yang pendek (sekitar 500 meter).

Tenzing-Hillary juga berdampingan dengan tebing. Pesawat berkapasitas 19 orang yang terbang dari Kathmandu ke Lukla hanya beroperasi hingga jam 12 siang. Bisa-bisa secara mendadak, bandara tidak beroperasi apabila cuaca tiba-tiba berubah ekstrem.

Dari beberapa literatur, termasuk konsultasi dengan teman dan kenalan guide di Nepal, saya putuskan untuk mengambil trek Langtang Gosaikunda. Ketinggiannya tercatat 4381 m dpl atau lebih tinggi 250 m dibanding Annapurna Base Camp yang berada di titik 4130 m.

Langtang memang destinasi alternatif bagi pendaki setelah EBC dan ABC. Namun bagi mereka yang tidak menyukai keramaian, Langtang adalah trek yang menawarkan bentang sunyi yang luar biasa. Guide saya yang baru pulang dari EBC sehari sebelum mengantar saya ke Langtang, mengatakan bahwa jalur trek EBC sangat padat.

Jalur pendakian idaman itu layaknya antrean yang mengular di antara jalan setapak yang tidak begitu lebar. Sebelum saya bercerita tentang Langtang Track, ada baiknya saya menginformasikan apa itu EBC dan ABC. Serta mengapa keduanya menjadi destinasi favorit para pendaki. Wait ya! (naskah dan foto: Menur Kusuma/editor: Heti Palestina Yunani/bersambung)