Jadah Tempe Mbah Carik Bukan Sandal Jepit Lho

Ngikut Didi Domba (Doyan Mbadog) Berburu Kuliner Yogya (1)

Jogjaaaa……. Dulu kalau pergi ke Jogja, jujur saja, paling males deh. Habis sehari bisa tiga kali makan gudeg yang rasanya manis, semanis Didi Domba. Tapi sekarang, kalau disuruh ke Yogyakarta, langsung semangat. Nggak pakai mikir sekian kali untuk wisata kuliner.

Ternyata kotanya Sri Sultan Hamengku Buwono ini mempunya kekayaan kuliner luar biasa. Dari yang asli, tradisional tanpa modifikasi, hingga makanan campur aduk yang kalau dikunyah ya ternyata enak. Yuk, sini tak critani, biar ngiler.

jadah-tempe-1Biar kalau ke Jogja langsung diparani. Saya ada delapan tujuan wisata kuliner yang sengaja diburu untuk menasbihkan nama belakang saya Domba alias doyan mbadhog alias suka makan. Setiap di akhir makan, saya mau ngasih bintang berapa. Paling top ada lima bintang.

Kuliner pertama Didi adalah ke Jadah Tempe Mbah Carik. Kenapa sasaran tembaknya ke warung Jadah Tempe Mbah Carik di Kaliurang. Karena jadahnya uwenak, lembut. Orang kalau nggak pintar bikinnya, walah nggigit jadah kayak nggigit sandal jepit saking uletnya.

Nah, tahun 1950-an, Sastro Dinomo, yang biasa dipanggil Mbah Carik ini mulai jualan jadah tempe di Kaliurang. Lha kok ndilalah Sri Sultan Hamengku Buwono pas ngicipi langsung doyan. Jadilah ajudan sultan ini sering diutus beli jadah sampai akhirnya terkenal.

Jadah ini sering juga disebut burger Jowo karena cara makannya adalah dua jadah ditumpuk dengan tempe bacem di tengahnya. Wes toooh pokoke bintang lima buat Jadah Tempe Mbah Carik. Ciamsoooo alias enak bingiiiits. Bintang lima ya. (naskah dan foto: Didi Domba/Heti Palestina Yunani/bersambung)