18 Alasan Mengapa Harus ke Surabaya (1)

Liburan ke Surabaya? Apa menariknya? Pasti kalimat itu yang pertama kali terlintas di pikiran ketika mendengar nama Surabaya. Wajar saja, sebab Surabaya memang kota metropolis yang seringkali dibayangkan sebagai pusat kemacetan, kesibukan, hingga kriminalitas yang tinggi. Namun, tahukah Anda bahwa Kota Pahlawan ini sebenarnya layak untuk dijadikan salah satu destinasi liburan Anda? Nah, agar lebih yakin, sebaiknya Anda simak 18 alasan mengapa harus ke Surabaya berikut ini:

1.      Kota Sejuta Taman

Ya, Surabaya adalah kota sejuta taman. Di setiap sudut kota dapat kita temui taman-taman cantik dan asri yang marak digunakan warga sebagai sarana rekreasi alternatif. Salah satu taman yang bisa Anda kunjungi adalah Taman Bungkul yang terletak di jantung kota. Taman ini sejatinya adalah makam seorang penyebar agama Islam di Surabaya bernama Mbah Bungkul. Dari pagi hingga malam, denyut aktivitas di Taman Bungkul seolah tak pernah padam. Dari peziarah yang sekaligus berwisata religi, pelaku wisata kuliner, anak-anak yang bermain di taman, hingga mereka yang datang utuk memanfaatkan wi-fi gratis. Terakomodirnya seluruh fungsi sosial, budaya, rekreasi, dan pendidikan membuat Taman Bungkul meraih penghargaan internasional The 2013 Asian Townscape Sector Award di Fukuoka, Jepang, pada 26 Nopember 2013.

Selain itu, ada juga Taman Jayengrono. Ini bukan taman biasa. Taman seluas 5.300 meter persegi ini adalah lokasi tewasnya Brigjen AWS Mallaby dalam peristiwa baku tembak yang terjadi pada 30 Oktober 1945. Kematian komandan tentara Inggris itulah yang akhirnya memicu pecahnya pertempuran 10 November di Surabaya. Selain taman-taman tersebut, masih banyak taman di berbagai wilayah Surabaya yang dulunya tidak terawat dan pesing kini menjadi taman cantik yang ramai dikunjungi. Di antaranya Taman Mundu, Taman Mpu Tantular, Taman Apsari, Taman Lansia, Taman Flora, dan masih banyak lagi.

2.      All-in-One Wisata Kuliner

Rujak cingur, lontong balap, semanggi, lontong kupang, tahu tek, adalah makanan khas Surabaya yang sudah tersohor di mana-mana. Selain itu, masih ada aneka nasi bebek khas Surabaya yang membuat setiap pelancong jatuh hati dan ingin kembali lagi. Mulai dari bebek ireng, bebek sambal pencit, sampai bebek sambal ijo. Tidak doyan bebek? Tenang, masih ada nasi udang Bu Rudi, penyetan Bu Kris, Sego Sambel Mak Yeye, Sego Cumi Pasar Atom, dan lain-lain. Kok serba pedas? Yang tidak doyan pedas, tidak ada alasan untuk tidak makan. Ada Rawon Setan, Rawon Kalkulator, Rawon Pak Pangat, Soto Wawan, Soto Ambengan Pak Sadi, Sop Buntut Gelora, dan aneka sate.

Tidak makan daging? Masih ada Pecel Ponorogo Bu Yatin di Ketabang Kali, Pecel Bu Kus, Gado-gado Arjuna, sampai Semanggi Dempo. Mau makanan biasa rasa ekstrem? Anda harus mencicipi Sego Goreng Jancuk Surabaya Plaza Hotel atau Mie Pecun yang pedasnya membuat kepala berasap. Makanan khas daerah lain pun ada di sini, mulai Soto Banjar Pal Satu Kedungdoro, aneka coto dan konro khas Makassar, aneka masakan Sunda, rica-rica sampai restoran Padang. Masih ada lagi cita rasa masakan Tionghoa, Arab, India, Western, apa pun tinggal sebut dan datangi.

3.      Shopping Everywhere, Everytime

Surabaya memang surga bagi para shopaholic. Mulai dari window shopping di mal tertua di Surabaya, Tunjungan Plaza, hingga Ciputra World dan Grand City Mall yang relatif masih baru. Ingin mendapatkan produk fashion dan aneka kain baik lokal maupun impor, langsung saja ke Jembatan Merah Plaza (JMP) atau Pasar Atom. Anda juga bisa berburu aneka gadget terbaru di Surabaya, dari aneka handphone di WTC dan Plaza Marina, hingga komputer dan aksesorisnya dengan berbagai merk di Hi-Tech Mall. Ingin belanja murah meriah? Cobalah ke sejumlah pasar kaget dan pasar malam yang tersebar di Surabaya, semisal Pasar Genteng, Tambaksari, hingga di Lapangan Kodam. Atau, Anda mau berwisata belanja sekaligus balik modal? Coba ke ITC Mega Grosir atau Pusat Grosir Surabaya (PGS), belanjalah secara grosir lalu bawa ke daerah asal dan dijual.

4.      Bebas Berkreasi Seni

Sebagai kota metropolitan, Surabaya rupanya masih memberikan wadah bagi pelaku seni, baik tradisional, modern, maupun kontemporer. Pementasan ludruk di Wonokromo misalnya. Meski tidak seramai dulu, tapi masih diminati warga Surabaya yang merindukan celetukan-celetukan ala Suroboyoan yang menghibur. Berbagai konser musik juga sering digelar. Musisi mancanegara seperti Earth Wind and Fire, Toto, Michael Learn to Rock, Firehouse, dan lain-lain tercatat pernah tampil di Surabaya. Sementara untuk seni panggung kontemporer, sering diadakan di IFI. Pameran seni rupa juga sering ditampilkan di beberapa lokasi, termasuk di Balai Pemuda dan House of Sampoerna.

5.      Surabaya Kota Bisnis

Kota INDAMARDI (Industri, Dagang, Maritim, dan Industri), julukan yang pernah melekat dengan Surabaya. Sebagai kota terbesar kedua di Indonesia, Surabaya menjadi jujugan bisnis, baik lokal, nasional, maupun internasional. Jalanan yang belum terlalu macet, biaya hidup yang tidak setinggi Jakarta, penduduk yang ramah, membuat Surabaya layak untuk dijadikan tempat berbisnis.

6.      Jalur Pedestrian yang Nyaman

Jika Anda harus mendatangi beberapa lokasi di sekitaran pusat kota Surabaya, lupakan mobil, lupakan sepeda motor, cobalah berjalan kaki. Jalur pedestrian sengaja dibuat lebar agar nyaman dilewati para pejalan, terutama jika ingin menikmati denyut nadi kota ini pada sore hingga malam hari. Nikmatilah berjalan-jalan di pedestrian Surabaya tanpa terganggu PKL. Bahkan, jika Anda datang di musim yang tepat dan sedang beruntung, Anda bisa menikmati guguran kelopak bunga dari pohon Sono Kembang yang ditanam di sepanjang ruas jalanan kota.

7.      Kota Lama yang Memikat

Jika ingin menikmati gedung-gedung berarsitektur kolonial, langsung saja ke kawasan kota lama. Kota lama sebenarnya merupakan kawasan bisnis di masa silam yang masih hidup hingga kini, meski di masa perjuangan gedung-gedung ini ada yang berubah fungsi menjadi markas militer. Sebut saja gedung Bank Mandiri di Jalan Pahlawan yang dulunya adalah milik perusahan dagang Belanda bernama Lindeteves Stokvis. Gedung yang dibangun pada 1911 ini sempat digunakan Jepang untuk menyimpan senjata dan kendaraan perang. Juga ada gedung Siola yang dulu bernama Whiteway Laidlaw milik pengusaha tekstil Inggris, Robert Laidlaw. Selain itu, masih ada tempat-tempat lain seperti Gedung Negara Grahadi, Balai Pemuda, Hotel Majapahit, House of Sampoerna dan masih banyak lagi.

8.      Tempat Banyak Tokoh Terkenal Dimakamkan

Mulai dari Wali Songo, Pahlawan Nasional, Seniman, hingga tokoh masyarakat, banyak yang dimakamkan di Surabaya. Sebut saja Sunan Ampel, WR Supratman, Bung Tomo, Dr. Sutomo, KH Mas Mansur, Gombloh, dan Cak Durasim. Nama Cak Durasim bahkan diabadikan sebagai nama salah satu gedung kesenian di Taman Budaya di jalan Gentengkali. Dia adalah seorang seniman penggagas berdirinya kelompok kesenian ludruk Surabaya sekitar tahun 1930-an, dan meninggal di penjara akibat kritikan-kritikan pedasnya terhadap pemerintah Hindia Belanda saat berkesenian.

9.      Wisata Religi

Surabaya ternyata bukan hanya kota yang penuh hiburan dan gemerlap dunia malam. Bagi Anda yang ingin berwisata fisik sekaligus spiritual, Surabaya mempunyai banyak tempat yang bisa menjadi jujugan. Makam Sunan Ampel, Masjid Agung Al Akbar sambil, hingga Masjid Cheng Hoo yang unik dengan gaya arsitektural Cina yang kental. Sempatkan pula berjalan-jalan ke tempat ibadah lain, seperti Gereja Kepanjen yang merupakan salah satu gereja tertua di Surabaya yang dibangun pada 1815. Mampir ke klenteng tertua Hok An Kiong yang dibangun pada 1830 dan klenteng Boen Bio di Kapasan juga perlu dimasukkan ke dalam agenda perjalanan di Surabaya. Di Sukolilo Surabaya juga ada patung Buddha Empat Wajah dengan luas 225 meter persegi dan tercatat sebagai patung Religi terbesar dan tertinggi di Indonesia oleh Muri. Pura Jagad Kirana di Jalan Gresik pun jangan sampai Anda lewatkan. (pad/hpy/bersambung)