Hujan Turun di Surabaya by Ricardo Marbun

“Bunuh diri!” cibir Sondang, adikku.

Sondang adalah orang yang kupercaya selama ini. Dalam cerita, sedikit saudara satu perut apalagi sesama perempuan bisa akur dan kompak. Dari yang sedikit itu, aku dan Sondang adalah perkecualiannya. Kami sangat dekat. Padahal, jarak usia kami lumayan jauh. Aku enam tahun di atasnya. Biar kata aku lebih tua dari dia, adikku ini mempunyai banyak keistimewaan. Terutama soal hubungan cinta-cintaan. Sondang juaranya.  Bagaimana tidak? Saat kelas dua SMP, Sondang berhasil membuat empat pemuda saling baku hantam demi memperebutkan dirinya. Bapak dan mamak kalang-kabut dibuatnya. Sang “tersangka” lugu saja menanggapi.

“Salah cowok-cowok itu, dong! Siapa suruh suka sama aku bersamaan?” protes Sondang, cuek, di hadapan bapak dan mamak.

Aku menatap Sondang ragu. Wajah judesnya membuatku semakin bergidik.

“Kakak yakin?” sembur Sondang. Matanya melotot menguasaiku.

“Dia bolak-balik mengundangku. Seingatku, ini undangannya yang ketujuh, Sondang. Bukti keseriusannya, dia telah mengatur segalanya, tiket, hotel termasuk membawaku ke tempat wisata. Semua sudah dia siapkan. Aku sudah terima buktinya di emailku. Terus aku harus bagaimana, Sondang?” ujarku memohon pengertian adikku.

“Tidak bisa. Aku tidak akan membiarkan kakak pergi seorang diri. Kakak itu tidak pernah ke mana pun. Sampai kakak seumur ini hanya pernah ke Jakarta, itu pun urusan kantor. Apa yang terjadi kalau kakak pergi seorang diri? Surabaya itu jauh, Kak?” dengus Sondang berapi-api. Aku semakin ciut tidak berdaya.

“Terus, semua hal yang sudah disiapkannya harus aku apakan?” suaraku terdengar serak.

“Kembalikan! Seharusnya dia yang kemari, bukan kakak yang ke sana. Kenal di media sosial, ujugujug menyuruh datang, aneh kan?” sembur Sondang memecah langit.

“Bagaimana bisa, Sondang?” aku berupaya mempertahankan pendirianku.

“Pasti bisa, Kak. Balas emailnya, katakan, tidak pantas kakak datang seorang diri.”

Itu percakapan kami seminggu yang lalu. Kini aku berada di Jakarta. Ada panggilan meeting dari kantor pusat. Kebetulan pelaksanaan meeting dengan undangan kunjungan itu berdekatan. Selama mengikuti meeting jantungku tak pernah tenang. Selalu resah. Ada hal yang tidak diketahui Sondang bahwa aku sudah mengambil cuti dan berencana menghabiskannya di Jakarta. Kebenarannya adalah, aku ingin merealisasikan rencanaku yakni meneruskan perjalanan ke Surabaya. Jantungku berdetak kencang tiap kali mengingat ini. Antara ya dan tidak. Aku takut tulah karena telah membohongi Sondang. Ada takut, sebab aku tidak pernah pergi sendirian. Apalagi menemui lelaki yang aku kenal lewat media sosial.

Meeting penutupan aku tinggalkan setengah jalan. Beruntung, tidak ada teman kantor yang ikut menemaniku mengikuti meeting kantor pusat ini.  Kalau ada, dalam sekejap Sondang bisa membaui aku telah melanggar larangannya. Dalam taksi jantungku berdetak kencang. Tanganku bergetar membaca tiket penerbangan Jakarta—Surabaya yang baru aku cetak tadi malam dari emailku yang di kirim Timur. Aku terus-menerus menyakinkan diri.

Timur. Awalnya aku mengganggap dia orang iseng, mempunyai banyak waktu terbuang sehingga sempat-sempatnya mengomen status terbaruku melalui inboks. Timur melakukan itu karena kami belum berteman. Aku hanya membacanya sambil lalu. Dalam benakku, lelaki iseng ini akan mundur dengan sendirinya kalau tidak mendapat respons dariku. Ternyata, aku salah besar. Dia selalu saja rajin mengomen setiap status terbaruku melalui inboks. Meningkat dari mengirim inboks, lelaki ini mengirimkan pertemanan padaku. Setengah bergidik aku mengintip profilnya. Beneran, waktu itu juga aku ingin muntah. Mual berat. Bukan tipikal aku banget. Geli melihat foto profilnya memiliki tindik telinga dan rambut gondrong ikal diikat satu warna coklat brunette. Tampang maskulin, tetapi mengerti perawatan. Geli, kan?

Kesabarannya mengirimiku inboks, mengomen statusku, sekadar menanyakan kabarku sesekali menjawilku, perlahan membuatku luruh. Imbalannya, aku menerima pertemanannya. Dunia yang selama ini sempit menjadi terbuka sewaktu diriku dengan leluasanya mencuri lihat dirinya. Aku malu sendiri jadinya. Ternyata Timur tidak seburuk sangkaanku. Rambut gondrong itu foto jadul waktu kuliah dan aktif di band. Kumpulan foto bermunculan satu per satu dari koleksi fotonya membuat aku terperangah. Timur terkini adalah sosok pria dewasa penuh senyum dengan tatapan mata penuh kehangatan. Aku tidak tahu, apa dia juga merasakan perubahanku, menjawab inboksnya lebih cepat dari biasa, rajin mengomen statusnya, betah ber-chat room dengannya. Bertambah hari kami semakin dekat.

Genangan air sisa hujan menjadi hamparan karpet menyambut kedatanganku begitu keluar dari perut pesawat. Ada rasa gamang sewaktu pertama kali kakiku menginjak Bandara Juanda yang lembab. Langit tampak mendung, namun udara terasa kering melahirkan rasa gerah. Aku masih berhenti di tempatku saat semua orang bergegas berhamburan menuju bus yang sudah menunggu kami berjarak 20 meter di depanku. Bus pelayanan menuju pintu keluar bandar udara. Aku menyempatkan merentangkan tangan sambil berteriak dalam hatiku, menyuarakan selamat datang di Surabaya. Teriakan kencang menggaung di rongga dadaku.

Satu wajah yang berusaha aku enyahkan sepanjang menyusuri jalan menuju pengambilan barang adalah Sondang. Diriku bertambah kalut saat membuka ponsel panggilan serta SMS dari Sondang menerjang masuk ke telepon genggamku. Aku tidak boleh mengingatnya kalau tidak ingin diganggu oleh telrpon atau SMS-nya. Aku melewati panggilan bahkan SMS Sondang. Aku mencari kabar dari Timur. Lututku terasa remuk saat membaca pesan pendek darinya. Timur tidak bisa menjemputku dengan alasan ada keperluan keluarga yang sangat penting yang tidak bisa ia tinggalkan. Kedua bola mataku bergerak-gerak membacanya. Baris terakhir pesan pendeknya, Timur telah mengirim utusan menggantikan dirinya menjemputku. Tidak lucu. Sangat tidak lucu. Semangatku porak poranda saat itu juga.

Maafkan kakak, Sodang. Seandainya kakak menuruti laranganmu tentu tidak seperti ini yang kakak temui di Surabaya. Berharap bertemu demi memenuhi undangan kunjungan dari Timur, justru lelaki itu membatalkan janji yang sudah kami sepakati sekian bulan dengan satu alasan yang menurutku tidak masuk akal. Keperluan keluarga super penting seperti apa sehingga lelaki itu tega membatalkan kesepakatan yang sudah kami setujui berdua? Aku tidak berminat lagi. Tidak perlu aku menemui utusan yang dia tunjuk menjemputku. Selesai mengambil bagasi, aku berencana mencari loket go show untuk membeli tiket ke Jakarta.

Rencana tinggal rencana. Kesadaranku terbang tinggi ketika melewati pintu kaca membaca namaku dengan tulisan balok terpampang merentang sejangkau tangan di depanku. Tulisan menggunakan pylox berwarna meriah. Tulisan sebesar gajah. Aku melongo membacanya. Tidak peduli entah berapa banyak orang berjalan di kedua sisi tanganku yang terkadang tidak sengaja menyenggol bahuku. Aku tetap bertahan di tempatku sampai si pembawa tanda namaku menurunkan kertas terbentang itu. Kini wajah kami saling berhadapan. Hanya berjarak dalam ukuran sentimeter, saling menatap. Melongo bersamaan.

“Ismi Meliana!” bisiknya ragu, tidak berkedip.

Aku membisu beribu kata demi memuaskan kejengkelan yang mencokol di benakku. Pria utusan penjemput ini tanggap mengambil alih semua barang bawaanku. Kebetulan, jadilah pelayanku termasuk menjadi tumbal kemarahanku. Aku jalan mendahuluinya. Penuh percaya diri, aku melenggang cepat. Panggilannya terdengar amat sopan menahan langkahku yang sudah jauh meninggalkannya. Ternyata tempat parkirnya sudah terlewati jauh. Aku berhenti tanpa malu, mengubah haluan sekenaku menuju tempat mobil di parkir. Tetap membisu.

“Mbak Ismi kecewa, ya?” ujarnya membuka pembicaraan.

Aku bergeming, tidak berminat menanggapi. Padahal, kalau mau jujur apa salah utusan yang ditunjuk Timur ini? Sudah beruntung dia mau meluangkan waktu dan bersuka rela menjemputku.

“Saya mengerti kok. Timur benar-benar ada keperluan keluarga yang tidak bisa ditinggalkan. Timur sendiri menyesal dengan kondisi ini. Lusa setelah semua urusan selesai dia segera kembali ke Surabaya menemui Mbak Ismi,” ujar pria utusan itu, sopan.

Aku menarik napas perlahan, mengisi sekat sekat rongga dadaku yang kosong. Tidak baik bersikap seperti ini, terlebih pada orang yang tidak mengerti akar permasalahannya. Kenapa tidak aku nikmati saja perjalanan singkat ini? Sebab, bagaimanapun aku sudah berada di Surabaya. Bersama Timur atau tidak itu tidak lebih dari kondisi. Aku menghembuskan napas perlahan, berusaha berdamai dengan kondisiku.

“Saya antar Mbak Ismi ke penginapan yang telah di siapkan Timur. Mbak Ismi istirahat dulu saja. Ini kartu nama saya, hubungi kapan saja, saya siap mengantar Mbak Ismi ke mana saja,” pria utusan itu menyorongkan satu kartu nama warna laut. Aku menerima dan membacanya.

Timur telah menunjukkan itikat baiknya. Tiket pesawat dia beli sesuai pesananku. Kini aku terperanjat melihat hotel yang disiapkan untukku. Hotel berbintang yang berdiri megah di tengah kota Surabaya. Aku tahu, tentu harga per malamnya cukup mahal. Untukku pribadi berpikir dua kali membeli voucher hotel semahal ini. Timur menyediakannya untukku. Aku benar-benar diistimewakan. Terlalu, kalau aku masih tidak tahu diri lalu mendumel menuntut banyak hal yang di luar perkiraaan.

“Mbak Ismi, selamat beristirahat. Ini kunci kamarnya. Nanti setelah magrib saya jemput untuk melihat-lihat kota Surabaya,” senyum hangat pria utusan ini seakan menyadarkanku.

“Terima kasih, Mas Faisal,” senyumku merekah tulus. Pria itu takjub kaget menatapku.

Faisal memenuhi janjinya menjemputku setelah magrib. Penampilannya tampak segar sekali. Harum Eternity Summer menguar lembut melintasi hidungku. Semakin menawan dia, dengan tampilan kasualnya. Mengenakan sweater lengan panjang yang ditarik hingga siku warna kalem. Balutan celana kain membungkus kuat kakinya membuatku menarik napas sejenak. Apa pengaruh suasana mendung membuatku cepat mendayu? Senyumnya melelehkan jiwaku.

“Surabaya pada waktu malam, Ismi. Kau harus melihatnya. Kalau Ismi pernah ke Jogja pasti tidak asing dengan susasana ini,” Faisal membisikiku sambil lalu.

“Tidak berbeda jauh dengan kotaku, Mas. Trotoar pada waktu malam berubah fungsi menjadi tempat nongkrong. Yang membedakan paling suasananya,” aku tersenyum.

“Ismi ingin makan apa malam ini?” tawar Faisal melirikku.

Aku masih terpesona menyaksikan kehidupan malam di Surabaya. Meluncur dari hotel, Faisal membawaku mengelilingi Kota Pahlawan ini. Faisal dengan sabar menjelaskan satu per satu tempat yang kami lalui. Kota ini penuh taman serta bunga di mana-mana. Lampu kota warna-warni. Air mancur indah di tengah kota. Tempat nongkrong terlihat berserak di banyak jalan. Surabaya sangat meriah di malam hari.

“Aku ingin mencoba rawon,” sahutku tertawa.

“Hah! Persis yang dikatakan Timur. Siap! Kita menikmati rawon malam ini.”

Timur! Sedekat apa pertemanan antara mereka? Mengapa Faisal mau meluangkan waktu menjamu diriku? Pria ini sepertinya tahu banyak cerita hubungan kami. Seberapa banyak kejutan lagi yang kelak akan menghampiriku?

“Ini tempatnya, Ismi. Kau pasti ketagihan ingin mencicipi rawon ini terus,” goda Faisal.

Aku memandang takjub. Tentu rawon ini enak sekali. Pengunjungnya sampai berjubel memenuhi halaman luar tempat makan ini. Tidak mungkin semua pengunjung berasal dari luar kota. Melihat antusias pembelinya membuat aku tak sabar hendak menikmatinya. Faisal sigap mencarikan tempat duduk sampai kami berhasil menikmati dua piring rawon.

“Benar-benar enak ya, Mas?” kataku jujur.

Faisal terkekeh mendengar uangkapan jujurku. Dia mendukungku untuk menambah lagi.

“Besok kita menikmati wisata Jawa Timur. Besok pagi, siap ya?” kerling Faisal menggoda.

Pagi ini jauh berbeda dengan tadi malam. Faisal sampai di hotel tergesa. Suaranya putus-putus terdengar dari gagang telepon. Aku sempat kalut menerimanya. Beruntung aku terbiasa bangun awal setiap pagi. Bergegas aku turun menemuinya. Faisal menyambar tanganku terbirit. Dia menyeretku setengah berlari menuju taksi yang sudah menunggu di lobi. Aku tidak sempat bertanya karena di kepung kebingungan.

“Stasiun kereta ya, Pak! Mohon cepat, Pak. Jadwal keretanya tinggal setengah jam lagi. Saya manusia yang susah bangun pagi. Tolong cepat, Pak!” desak Faisal terburu-buru.

Aku tersenyum kecil mengartikan sendiri situasi kacau ini. Kasihan Faisal, pasti dia berjuang bangun lebih pagi demi mengejar kereta paling pagi. Seandainya tadi malam dia bercerita perihal satu itu tentu aku bisa menjadi jam weker untuk membangunkannya.

“Maaf Ismi, aku paling susah bangun pagi,” sesal Faisal, malu.

“Sudah Mas. Santai saja. Tidak ada kereta masih banyak bus,” senyumku menenangkannya.

Tinggal lima menit lagi kereta berangkat kami tiba di stasiun. Faisal membawaku berlari melalui beberapa pintu. Tangannya menggenggam kuat telapak tanganku. Badanku terasa terangkat setiap kali dia membawaku berlari. Ketika mencapai pintu masuk kereta tidak tersedia pijakan kaki untuk naik. Tanpa pikir panjang Faisal menjunjung pinggangku. Tidak sadar aku menjerit geli. Kami berhimpitan di pintu yang terbuka sebelah saja. Masih bersandar sambil berhimpitan terasa kereta bergerak perlahan. Kini aku tertawa keras sekali. Faisal juga.

“Aku memilih kereta sebab jalan raya Surabaya—Malang sering macet sejak ada luapan lumpur Lapindo. Sayang waktu kita habis di jalan. Naik kereta paling lama dua jam. Sory kejadian barusan ya,” kata Faisal, lugas. Dia berjalan sambil meneliti nomor tempat duduk kami. Aku menurut berjalan di belakangnya dengan kondisi tangan masih saling menggenggam.

“Ini tempat duduk kita, silakan!” Faisal mempersilakan dengan cara lucu.

Dasar. Berbagai cara dilakukan cowok ini demi menebus rasa bersalah selama menjalani perjuangan tadi. Aku geli sendiri mengingat kejadian barusan. Aku menghempaskan diriku bersandar dekat jendela. Pemandangan khas dari balik kaca jendela kereta menggodaku.

“Kita mau ke mana, Mas?” tanyaku menatapnya.

“Kota Batu. Sampai di Malang kita sewa sepeda motor ke sana. Seru, pokoknya.”

“Tolong jangan beritahu Timur. Dia sebenarnya sudah menyediakan mobil untuk kita pakai. Aku egois menolaknya. Duduk manis dalam mobil kurang greget. Tidak ada kenangan. Aku lebih suka seperti ini. Bebasss …,” cerita Faisal di sela menjoki motor menuju Batu.

“Apa? Ih, Mas jahat.” gemes aku memukul pundaknya. Faisal semakin tertawa.

Terus terang aku menyukai pilihannya. Selama dua jam di kereta api, cowok ini menceritakan banyak hal. Setiap tempat yang kami lalui dengan sabar dia jelaskan. Bersamanya tidak ada rasa canggung untuk bersikap apa adanya. Pagi ini aku semakin mengenal pribadinya yang utuh. Sikap humornya. Proteksinya selama di perjalanan. Segala hal terurai secara natural. Kini, aku duduk di boncengan sepeda motor sewaan yang di jokinya dengan cepat. Faisal menyerahkan jaket kulitnya padaku. Batu dingin, katanya. Dia hanya mengenakan kaos rangkap. Aku sempat menolaknya, takut dia membeku selama perjalanan. Faisal tetap berkeras agar aku memakainya. Menangkal dingin tanpa sadar aku memeluknya. Benar kata Faisal, perjalanan menuju ke sana sangat memacu andrenalin. Kondisi jalan yang mendaki berulang kali membuatku teriak ketakutan. Faisal justru menertawai ketakutanku.

Jatim Park. Batu Night Spectakuler. Agrowisata. Museum Angkut. Coban Rondo sebagian tempat wisata Kota Batu diperlihatkan Faisal padaku. Waktu sehari dimanfaatkan pria ini sebaik mungkin mengunjungi tempat itu satu per satu. Penuh kesabaran, Faisal mendampingiku menikmati kota wisata yang dingin itu. Aku tersanjung sekali. Menjelang malam kami meluncur kembali ke Malang untuk mengembalikan sepeda motor sewaan. Menaiki angkot, Faisal membawaku ke terminal mencari bus menuju Surabaya. Sepanjang perjalanan bus kami terkapar kelelahan. Tidak kuasa menahan kantuk, aku terlelap bersandar di bahunya.

“Ismi … Akhirnya kita bertemu juga,” sambut Timur di lobi hotel. Dia berlari menghampiri kami berdua. Aku dan Faisal seketika membentang jarak memisahkan diri. Terhenyak kaget!

“Timur!” tatapku tidak percaya. Sungguh, tidak ada kegembiraan dalam hatiku melihatnya.

“Hei, Faisal!” sapanya ramah, ”terima kasih sudah menggantikanku menemani Ismi seharian ini. Sekarang aku sudah bebas. Sekali lagi terima kasih banyak.” senyumnya menikamku.

Aku melihat Faisal tersenyum kaku.  Faisal menggigil menahan dingin kehujanan sejak tadi.

Its OK, Timur. Ismi, sudah ada Timur. Aku balik dulu ya. Basah, nih,” ujar Faisal ceria.

Aku menggangguk pelan, memandang dirinya perlahan menghilang. Hatiku tidak utuh lagi! (penulis: Ricardo Marbun (*)/ilustrasi cerpen:net/Heti Palestina Yunani)

(*) Menulis menjadikanku semakin memiliki semangat dalam menjalani rutinitas hidup. Menulis itu cinta. Pendatang baru sejak tahun 2010, bersyukur beberapa karya berhasil dimuat pada beberapa media nasional, di antaranya Femina, D’sari, Kartini, Story, Pesona, Gadis, Republika, Tabloid Nova, Suara Pembaruan, Jurnal Kreativa dan Jurnal Nasional, Majalah Joe Fiksi, Majalah Hai, Majalah Sekar serta buku Kumpulan Cerpen Pilihan 2012 Fak Sastra Universitas Negeri Yogyakarta.