Heni dan Wina Kaya dan PD Berkat Literasi

fam-2 Peluang penulis semakin besar di era digital. Diperlukan keluwesan menerima perubahan zaman, kemampuan menguasai teknologi dan keluasan jaringan pertemanan supaya penulis bisa bertahan. Bagaimana caranya? Ternyata bisa lewat literasi. Di tengah keluarga besar FAM (Forum Aktif Menulis Indonesia) Surabaya yang tengah merayakan ulang tahun ke-4, seorang blogger Heni Prasetyorini tak pelit membagi pengalamannya sebagai penulis di blog yang mampu mendulang banyak benefit di dunia teknologi dan literasi sekaligus yang kini ia tekuni.

Bersama Wina Bojonegoro, penulis sembilan buku, yang kerap dipanggil Bunda Wina itu, Heni mengisi sharing santai dalam talkshow di lantai 2 Perpustakaan Provinsi Jatim Jl Menur Pumpungan dengan bercerita tentang minatnya sebagai ibu yang mula ingin mengisi waktu dengan kegiatan positif. Ia menemui jika blog yang dipunyainya sejak 2009 berguna untuk dijadikannya sebagai media curhatan sebaai ibu rumah tangga. Tak mau sekadar sebagai ajang bicara soal pribadi dan keluarganya, Heni lantas menjadikan blog-nya, Heniprasetyorini.com sebagai caranya menjangkau dunia lebih luas lewat kebisaannya menulis.fam-4

Ia berinteraksi dari blog dengan siapa saja dengan topik materi yang beragam.  Selama enam tahun, Heni merasakan jika blog bukanlah hal sepele. Ia membuktikan bahwa agar bisa berdiri di tengah kerumunan entah apapun bentuknya baik di dunia maya atau kenyataan keseharian, penulis lepas sepertinya harus memilih fokus pada satu bidang unik yang bisa dijadikan ciri khas. “Saya anggap blog adalah ruang saya yang privat namun juga menjadi ruang publik yang begitu ajaib. Saya makin menjadi ‘seseorang’ dengan apa-apa yang saya lakukan hanya dengan nge-blog,” katanya.

Senada dengan Heni, Wina-novelis yang baru saja melahirkan bukunya yang ke-9 Mozaik Kota Kenangan, memiliki talenta menulis ibarat memiliki sejuta kemampuan menjadi apa saja di tengah masyarakat. Seperti dirinya sendiri yang tak jadi galau ketika menjadi pensiunan Telkom pada 2011. Menulis yang ia tekuni sejak 1988 mampu membuatnya bertahan dari badai apapun termasuk krisis kepercayaan diri. “Justru setiap buku saya lahir, saya seperti menjadi orang baru. Bahkan setiap saya menulis setiap hari, saya setidaknya menjadi orang yang paling kaya karena memiliki segalanya untuk dituliskan,” kata CEO PADMA Tour Organizer itu.

famKehadiran dua pembicara itu bagi FAM Surabaya cocok dengan keinginan mendorong lebih banyak orang lagi di dunia literasi. Sesuai tema peringatan tahun ke-4 Menginspirasi Bangkitkan Semangat Literasi, baik Heni dan Wina makin menyuntikkan semangat bahwa berliterasi harus tiada henti apalagi di tengah gempuran teknologi. Justru Heni, lulusan S2 Teknologi Pendidikan Unesa itu membuktikan bahwa teknologi adalah dukungan bahkan jadi kemudahan. Siapapun bisa menjadi blogger dengan blog gratis yang tersedia atau berbayar dengan biaya murah.  “Kalau mau sekarang juga Anda bisa jadi blogger, sambil jalan, banyak hal yang bisa dipelajari kok,” katanya.

Malah ibu dua anak itu merasa, literasi mendorongnya menemui banyak keajaiban hidup. “Dulu saya ingin sekali jadi sastrawan, pas memilih masuk kelas bahasa waktu SMA, namun dilarang orangtua dan harus masuk kelas IPA. Ternyata, perjalanan hidup mengarahkan saya kembali ke dunia aksara, tulis menulis di blog sampai akhirnya ketemu lagi dengan dunia sastra bersama FAM Surabaya,” terangnya. Pernyataan Heni inilah  sebagian semangat baru yang diletupkan FAM  Cabang Surabaya di ultahnya yang ke empat, sesuai keterangan ketuanya, Yudha Prima.

fam-1Tentang keajaiban, ditegaskan Wina yang juga memiliki percetakan PADMedia itu, bahwa literasi banyak membawanya menemui hal itu. Di antaranya teman-teman baru yang tak hanya di lingkup literasi, tetapi juga kalangan pengusaha, seniman dan akademik serta lainnya yang ia jangkau hanya dari buku-buku yang diterbitkan. “Yang enak ya mendapatkan kepuasaan secara materi. Literasi juga memberikan saya duit kok selain juga jalan-jalan gratis sebagai pembicara di sana sini,” katanya. Ditambahkan Wina, sekalipun dunia percetakan tengah mengalami kelesuan, namun tidak berarti jagat literasi mundur. Malah harus banyak menyiasati bagaimana dunia literasi berkembang dengan dukungan teknologi. Hanya saja, ada perpindahan media penulisan menjadi kebutuhan di era gadgetisme ini.

fam-3Konsekuensinya, para penulis juga harus melek teknologi. Diharapkan pula, para orang tua dan pendidik dapat memotivasi generasi muda untuk memanfaatkan modernisasi teknologi informasi guna memproduksi karya dalam bentuk tulisan. Ditegaskan Wina, para pegiat literasi tidak usah terbebani oleh berbagai label yang disematkan publik, entah itu disebut sastrawan atau predikat-predikat lainnya karena yang terpenting dari semua sebutan itu adalah berkarya. Sesi tanya jawab yang seru dipandu penulis muda Reffi Dhinar itu diisi pula dengan pembacaan puisi anti korupsi oleh Hayyul Faridah Athar. Yang bikin acara hepi, FAM dan Wina juga membagi-bagi buku. Di akhir foto bersama, banyak perserta yang masih melakukan talkshow di luar panggung bersama Wina dan Heni. Beberapa di antaranya dimanfaatkan penyuka literasi Nawang Wulan dan bahkan yang sudah memiliki buku seperti Agus Salim dan Syaifuddin Jayanto. (naskah dan foto: Heti Palestina Yunani)