Hati-hati dengan Bangka, Pantainya Menggoda!

Kata orang, mendengarkan saran orang lokal itu banyak manfaatnya. Oh, jelas saya setuju. Berkat percakapan ‘tak sengaja’ dengan warga asli Bangka yang duduk tepat di seat sebelah saya dalam pesawat menuju Bandara Depati Amir, Bangka, sontak saya menambahkan sebuah pantai lagi untuk dikunjungi dalam plesiran akhir pekan kali ini. Sesuai perkiraan, pengemudi mobil sewaan saya mengerutkan kening saat mengetahui Pantai Rambak menjadi tujuan pertama.

rambakMeski sudah lama bekerja pada perusahaan penyewaan kendaraan tapi baru kali ini dia mendengar nama Pantai Rambak. Saya menuturkan persis arahan yang diberikan kenalan baru di pesawat tadi. Ternyata tak semudah yang dikira. Kami harus berulangkali bertanya kepada warga setempat walaupun letak pantai ini sejatinya tak seberapa jauh dari bandara.

Betapa riangnya hati ini begitu jalanan yang dilalui kian mengerucut, berganti wajah, dari aspal halus ke aspal kasar. Hingga kemudian masuklah kami jalanan kampung, alias tanah khas perdesaan yang setia menerbangkan debu halus ke mata, hasil kerjasama dengan sang bayu. Hehehe. Tapi saya merasa beruntung karena akses masuk ke pantai yang cukup berat itu artinya pantai yang saya tuju pasti belum terlalu touristy

Tiba di pantai, tak sabar benar saya berlari ke sana ke mari seolah ini pantai pribadi. Lembut butiran pasir putih menyambut mesra telapak kaki yang telanjang. Asyiknya, tak terlihat pengunjung lain. Saya bebas duduk merenung di atas bongkahan batu besar dan mendengar merdunya deru ombak diiringi belaian angin yang melenakan.

‘Kejamnya’ raja siang menyengat kulit pun termaafkan pemandangan ciamik berbalut kesenyapan yang menentramkan perasaan. Puas menyambangi beberapa pantai di Bangka Tengah, mobil meluncur ke utara, merapat ke pantai incaran pelancong, Romudong. Bentuk gapura unik di kedua sisi jalan ke arah pantai indah ini sungguh menggelitik. Jarak antara bibir pantai dengan pepohonan yang menaungi di sekitarnya amat rapat, mengesankan pantai ini cukup sempit.

Namun, hamparan butiran pasir berwarna antara putih dan krem tetap membuat Ramudong amat menggoda. Apalagi, di sini terlihat sekumpulan bocah bermain sepeda, bercanda, bercengkerama dan saling mencipratkan air ke wajah kawannya. Permukaan air laut yang teramat tenang tanpa gejolak itu seakan melambaikan tangan untuk menceburkan diri ke sana.

padma-bangka-salah-satu-sisLuar biasa! Sore itu langit berhiaskan semburat warna lembayung yang cerah. Sebuah perahu kecil yang mengambang di atas permukaan air laut yang tanpa gejolak, berpadu dengan warna langit seolah sebuah lukisan hidup nan sempurna. Perjalanan belum berakhir. Masih ada satu destinasi lagi yang harus ditempuh.

Tak sia-sia menempatkan Pantai Penyusuk yang mempunyai dua sisi pandang nan ciamik di akhir kunjungan. Keistimewaan yang jarang dimiliki pantai lainnya adalah pantai ini seakan berbentuk ‘L’. Berhubung sisi pantai di mana bebatuan besar mendominasi gejolak airnya terlihat ganas, saya lekas menjauh dan beralih ke sisi satunya.

Lumayan, di sini ombaknya lebih kecil dengan hamparan bebatuan yang seperti menyebar. Nyala mercusuar di kejauhan menghadirkan suasana romantis dan hampir saja membuat saya lupa keadaan sekitar berangsur gelap. Terlalu sebentar, tetapi inilah penutup ‘godaan’ Bangka yang begitu sempurna. Pertanda saya harus datang lagi di lain waktu. (naskah dan foto: Lucy Liestiyo/Heti Palestina Yunani)