Hasilkan 115 Tulisan, 25 di Antaranya Karya Sastra

Mengenal Kwee Tek Hoay, Sastrawan Besar Melayu-China (3)

Selain sebagai jurnalis, sejak menikah tahun 1906, Kwee bekerja sebagai pedagang yang sukses, toko serba ada yang dimilikinya bernama: Toko KTH. Kemudian dengan tekun ia melatih istrinya berdagang. Claudine Lombard Salmon menjelaskan dalam katalog mengenai sastra peranakan bahwa terdapat 115 judul karya tulis Kwee Tek Hoay yang berhasil didata.

KTH 3-c Tetapi diyakini bahwa ini adalah hanya sebagian dari hasil karyanya yang berbicara tentang berbagai hal, yaitu politik dan pendidikan, sosial-budaya, masalah kewanitaan, sastra, keagamaan, bahasa Melayu yang benar, teknik mengarang, dan lain-lain. Dari sekian banyak karyanya, 25 buah di antaranya adalah karya sastra.

9786029144246-cover.inddKarya sastranya yang banyak menjadi perhatian masyarakat pembaca di antaranya ‘Boenga Roos dari Tjikembang’ (1927), ‘Drama di Boven Digul’ (1929-1932), dan ‘Kehidupannya Sri Panggung’ (1931). Selain minatnya yang besar terhadap buku dan bacaan, yang sangat mempengaruhi karya-karya Kwee Tek Hoay adalah kemampuannya menguasai bahasa Inggris, Hokian, Belanda, Sunda, dan Melayu secara baik sekali.

Sebagai sastrawan, Kwee Tek Hoay memang sangat produktif. Dari tangannya ratusan karya tulis terlahir. Layaklah ia dianggap sebagai sastrawan besar Indonesia. Kwee Tek Hoay mulai menulis tahun 1905 ketika novelnya yang pertama berjudul ‘Yoshuko Ochida atawa Pembalesannja Satoe Prampoean Japan’ diterbitkan secara bersambung di majalah Ho Po di Bogor. Pada 1919 ia menulis sebuah drama 6 babak berjudul ‘Allah Jang Palsoe.’KTH 3-b

Drama kedua terbit pada tahun 1924 berjudul ‘Djadi Korbannja Perempoean Hina’. Itulah awal dari karir sastra Kwee Tek Hoay. Tulisannya ‘Atsal Moelahnja Timboel Pergerakan Tionghoa Jang Modern di Indonesia’ yang merupakan serial dalam Moestika Romans edisi Agustus 1936-Januari 1939, telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris. Adalah sinolog terkemuka Lea E. Williams yang menerjemahkannya dalam judul ‘The Origins of the Modern Chinese Movement in Indonesia.’

Kwee Tek Hoay banyak menulis karya drama. Dalam sebuah pengantar untuk dramanya yang berjudul ‘Korbannya Kong Eng’, antara lain ia mengakui bahwa dalam penulisan drama ia belajar dari seorang dramawan Norwegia abad ke-19, Henrik Ibsen. Dengan pernyataan itu jelas Kwee telah meletakkan dasar realisme yang lebih kokoh di dalam penulisan drama Indonesia.

KTH 3-aClaudine Lombard Salmon menjelaskan dalam katalog mengenai sastra peranakan bahwa terdapat 115 judul karya tulis Kwee Tek Hoay yang berhasil didata, tetapi diyakini bahwa ini adalah hanya sebagian dari hasil karyanya yang berbicara tentang berbagai hal, yaitu politik dan pendidikan, sosial-budaya, masalah kewanitaan, sastra, keagamaan, Bahasa Melayu yang benar, teknik mengarang, dan lain-lain.

Dari sekian banyak karyanya, 25 buah di antaranya adalah karya sastra. Karya sastranya yang banyak menjadi perhatian masyarakat pembaca di antaranya ‘Pengalamannja Satoe Boenga Anjelir’ (1938), ‘Asepnja Hio dan Kajoe Garoe’ (1940), ‘Lelakonnja Boekoe’ (1940), ‘Itoe Nona Jang Bertopeng Biroe’ (1942). (naskah: Heti Palestina Yunani/foto: net/editor: hpy/bersambung)