Habis Kekenyangan, Selfie di Eiffel

Dua Hari Menikmati Paris (1)

paris1 1 Ada yang enggan ikut dalam satu rombongan tur karena takut tak bebas. Namun saya memlih melakukannya saat melawat Paris ke Budapest dalam 10 hari. Sebab tur yang saya ikuti berbeda. Pasalnya meski bersama tur, peserta diberi kebebasan mengunjungi objek-objek wisata yang disukainya dalam satu negara.

Penyelengaara tur hanya memfasilitasi akomodasi atar negara, dan penginapan di setiap tempat yang dikunjungi. Karena itu jauh-jauh hari sebelumnya saya sudah mencoba browsing-browsing tempat wisata dari kota-kota yang jadi tujuan, biar nantinya tinggal go saja. Namun sebaik-baik persiapan saya, ternyata banyak juga meleset.

paris1-arcdetromphe2Setelah menempuh perjalanan selama 16 jam, plus transit selama 5 jam di Dubai, akhirnya saya mendarat dengan selamat di Charles Degoules Airport, dengan suhu 8C. Airportnya sepertinya biasa biasa saja, tidak nampak kesan mewah atau canggih, mungkin karena termasuk airport tua.

Setelah melewati proses imigrasi, yang tidak bertele-tele dan mengambil bagasi, saya dijemput dengan mobil jemputan semacam minibus merk Mercedes berisi 8 orang. Tujuannya ke Hotel Ibis Budget Bagnolite. Lokasi hotel ini di pinggiran Kota Paris, di samping Stasiun Metro, kereta bawah tanah; sebuah moda transportasi favorit di Eropa, karena murah dan tepat waktunya.

Setelah menyimpan kopor dan berganti baju, acara pertama saya mencari makan pertama di Paris. Tak susah karena di seberang hotel ada mall dan banyak yang menjual makanan. Setelah memilih-milih makanan, ahirnya saya mampir di Asia Resto. Di sana saya makan nasi dan teriyaki sapi. Ternyata porsinya uampuun banyaknya.

paris1-champ2Melihat begitu, saya putuskan cuma memesan satu porsi buat berdua bersama bini. Ternyata sudah dikeroyok berdua pun tetep nggak habis juga itu makanan. Setelah sejenak beristirahat, sekitar pukul 15.00, semua peserta tur berkumpul di lobi hotel. Kami mendapat briefing dari koordinator tur, tentang tata cara naik Metro. Dijelaskan tentang mana rute-rutenya serta cara berpindah rute.

Penjelasan ini langsung saya praktikkan. Bersama-sama teman satu tur, saya pergi ke Stasiun Metro, Stasiun Gallieni, yang merupakan ujung dari Metro Route #3. Lokasinya kebetulan tepat berada di samping mall. Kami membeli tiket satu kali jalan sebanyak 10 lembar, karena dengan membeli 10 lembar harganya hanya Euro13, sedang bila membeli 1 tiket harganya Euro1,7.

Untuk memasuki peron kami harus memasukkan satu tiket ke mesin pembaca kartu, yang juga berfungsi sebagai pembuka pintu. Tiket ini mesti dipegang sampai kami ke luar stasiun. Tujuan kami sore itu ke Champ D’Ellyse, untuk ke Champ d’Elysse kami mesti menaiki Metro route#3 sampai stasiun Republique, dan di situ harus ganti dengan Metro route#9 arah Port e Sevres.paris1-ArcdeTromphe1

Bagusnya begitu turun dari kereta, sudah ada petunjuk arah mana untuk menuju peron Metro rute yang dituju. Tinggal ikuti saja petunjuk-petunjuk arah tersebut, dijamin tak akan bingung. Ketika sampai di peron pun ada petunjuk stasiun-stasiun yang akan disinggahi dari kedua arah, tinggal mencocokkan saja stasiun mana yang kita tuju dengan kedua daftar, apa yang sebelah kiri atau sebelah kanan.

Setelah memperoleh arah yang tepat segera kami tunggu keretanya, yang ada tiap 3 menit. Setelah tiba di stasiun Franklin D Roosevelt, kami pun turun. Dan menjelang pintu keluar dimasukkan lagi karcis yang tadi sudah dimasukkan ke mesin pembaca, untuk membuka pintu keluar. Satu tiket Metro yang sudah terpakai tak bisa dipakai lagi.

paris1-eifel2Keluar dari stasiun, sudah berada di Champ D’Ellyses, pusat belanja yang tersohor di Paris, Sepanjang jalan berderet toko-toko yang menawarkan barang-barang bermerk, restoran-restoran, juga cafe-cafe jalanan. Senang banget bisa menikmati kawasan perbelanjaan dengan trotoar yang begitu luas, bersih, tanpa terganggu sama pedagang kaki lima.

Kios-kios penjual souvenir dan cafe kaki lima memang ada tapi semua diatur, ditata dengan baik sehingga memberi kesempatan pengunjung yang ingin berbelanja ataupun sekadar menyantap makanakan minuman tanpa mengganggu lalu-lalangnya pengunjung. jalan ini berujung di Monumen Arc du Triomphe de l’Etoile.

Monumen yang dibangun di zaman Napoleon Bonaparte menjadi tempat favorit buat ber-selfie ria sehingga agak susah untuk bisa memotret bangunan ini tanpa ada gambar pengunjung di depannya. Oh ya, untuk peringatan, jangan teledor. Sebab di sini juga banyak copet dan penipu yang berlagak mencari sumbangan atau survey. Maka perlu kewaspadaan ekstra.

Setelah kurang lebih 1,5 jam menikmati kemeriahan suasana di Champ d’Ellyse, kembali menaiki Metro menuju stasiun Trocadero, untuk menikmati ikon Kota Paris, apalagi kalau bukan Menara Eiffel. Ke luar dari stasiun sedikit berjalan arah kiri, terlihat Menara Eiffel di kejauhan arah kiri. Di sini merupakan spot favorit untuk memotret Menara Eiffel dari kejauhan.

paris1-eifel3Banyak pedagang cinderamata, kebanyakan orang-orang berkulit hitam. Banyak dari mereka yang sudah pintar menawarkan dagangannya dalam bahasa Indonesia, cuma mesti hati-hati karena mereka suka agak memaksa. Dengan menuruni undak-undakan, saya sampai di taman yang cukup asri dan romantis buat menikmati Menara Eiffel.

Maksud semula sih ingin melihat saat lampu-lampu menara dinyalakan. Tapi apa daya cuaca yang sangat dingin, angin kencang dan rasa capek dan mengantuk membuat kami menyerah. Pukul 19.00 kami pun balik ke hotel untuk beristirahat. Rasanya sudah tak sanggup lagi menunggu sampai lampu-lampu dinyalakan sekitar pukul 20.30 atau bersamaan dengan saat masuknya Maghrib. Namun overal, hari pertama di Paris sangatlah menyenangkan. (naskah dan foro: Hanif/editor: Heti Palestina Yunani)