Gravity;  Sebuah Kesempatan Kedua

Bagaimana rasanya menjadi satu-satunya mahluk hidup di antarika yang maha luas ini? Apa rasanya menyaksikan orang-orang di sekitar kita mati satu demi satu? Bagaimana kita membuat pilihan ketika hidup mati seorang sahabat ada di tangan kita? Bagaimana jadinya jika maut itu datang dari piranti yang kita kendalikan dan kita agung-agungkan sebagai piranti tercanggih abad ini ? Manusia sebagai mahluk paling digdaya di alam semesta, ternyata tak lebih dari selembar kertas, melayang tanpa harapan ketika menghadapi alam semesta. Itulah beberapa hal yang patut kita renungkan dari film Gravity, besutan terbaru dari sutradara Alfonso Cuaron.

Bukan Thema Baru:

Luar angkasa bukanlah cerita baru, sudah banyak pendahulunya dan selalu mendulang sukses. Hal ini merupakan tantangan tersendiri bagi sutradara dan para pemain film pengekor. Selain dibutuhkan kekuatan para pemain, trik dan teknologi yang memadai, musik adalah kekuatan yang tak dapat dianggap sepele. Steven Price sangat sempurna mengolah tatanan musik, sehingga selama film berlangsung, kita dapat merasakan kesepian, kekosongan ruang angkasa, kesendirian, kepanikan dan juga ketegangan menghadapi kematian.

Adegan dibuka oleh kegiatan tiga astronot bersama Explorer yang sedang berjuang diluar angkasa,  untuk membenahi sesuatu yang tidak beres. Seperti laiknya film-film Amerika, adegan percakapan santai dan ringan terjadi antara para astronot dan pusat pengendali luar angkarsa di Huoston.  Tiba-tiba Houston mengabarkan agar mereka segera bergegas karena ada pecahan hasil uji anti-satelit Rusia beterbangan menabrak satelit-satelit lain, sehingga menciptakan kehancuran berantai yang menghasilkan badai sampah besar.

Sampah antariksa tersebut bergerak ke arah mereka dan merusak wahana antariksa Explorer,  menjebak Kowalsky (astronout veteran) serta Insinyur biomedis Dr Ryan Stone. Dengan suplai udara yang terbatas, mereka dijembatani komunikasi satelit. Sementara Mission Control ikut hancur. Stone yang panik (manusiawi sekali sebagai perempuan, meskipun ia doktor) lepas kendali setelah terpisah dari palka kargo Explorer. Matt Kowalski menyelamatkan Stone dan mengorbankan dirinya dengan melepaskan tali yang menghubungkan mereka berdua.

Dalam kesendirian di antariksa yang luas dan sunyi, Stone nyaris putus asa. Ia berusaha bunuh diri dengan membiarkan dirinya keracunan karbondioksida. Saat ia mulai kehilangan kesadaran akibat menipisnya oksigen, Stone melihat Kowalski di luar kapsul. Kowalski memasuki kapsul dan memberitahunya untuk memakai roket pemulangan kapsul untuk bergerak ke satelit luar angkasa milik RRC. Halusinasi yang menyadarkan Stone,  bahwa selalu ada harapan dan kesempatan kedua. Adegan ini mengingatkan saya pada Padmaningrum (The Souls: Fantasia) yang berusaha bunuh diri dan menemui banyak tokoh dalam masa koma, baik tokoh absurd maupun nyata yang mengembalikan kesadaran hidupnya.

Seperti Padmaningrum, Dr Stone pun menemukan kembali kesadaran pentingnya hidup dan tidak menyerah. Akhirnya melalui perjuangan yang gigih, Dokter Stone dapat selamat kembali ke Bumi dengan kapsul milik satelit ruang angkasa China. Yang menarik adalah, ketika adegan nyaris putus asa, Doktor Stone menemukan sinyal komunikasi dengan masyarakat China. Adegan dan dialog konyol terjadi antara Stone dan seseorang. Rupanya begitulah manusia. Saat kita dihadapkan pada kesulitan yang akut, kita akan menjadi apa saja, tanpa menggunakan akal dan logika. Keputus-asaan menjadikan manusia seperti bayi, berada pada titik kemampuan paling rendah.

Secara keseluruhan, film ini nyaris sempurna. Dengan teknologi 3 dimensi, membuat penonton dimanjakan oleh gambar yang seolah nyata di depan kita. Bahkan rasanya kita ikut kejatuhan serpihan dari luar angkasa. Adegan-adegan luar angkasa yang konon memaksa Sandra Bullock harus rela berada di dalam kapsul selama 10 jam sehari selama syuting, membuat kita lupa bahwa ini rekayasa. Sutradara sekaligus penulis naskah sangat piawai meramu adegan dan dialog. Tata busana yang minim tidak membuat penonton bosan karena terhipnotis oleh gambar dan dialog.

Bahkan pemain yang hanya dua orang, George Clooney dan Sandra Bullock tidak membuat film ini kering. Patut diacungi jempol, film hanya dengan 2 pemain dan busana yang tidak gonta-ganti, serta pemandangan/lokasi syuting yang itu melulu, namun mampu mencetak box office di America dan negara-negara lainnya. Bahkan memenangkan “Future Film Festival Digital Award” di Venice Film Festival 2013. Bullock pun dianugerahi “Best Actress Award” di Hollywood Film Festival tahun ini.

Pesan Spiritualisme:

Meskipun Gravity tergolong film antariksa dengan piranti canggih dan sarat teknologi, namun pesan-pesan kemanusiaan sangat kuat disini.  Pesan-pesan spiritual pun dapat kita temukan, misalnya :

  • Sehebat apapun manusia, ketika pencipta alam semesta berkehendak, kita hanyalah serpihan kecil yang tak berdaya menghadapi keganasan alam semesta. (Adegan kehancuran semua stasiun luar angkasa)
  • Bahwa di dalam hidup, kita harus berani membuat keputusan, kadang-kadang mengandung resiko, mungkin juga berakibat terhadap orang paling dekat yang kita sayangi. (Adegan kebimbangan Stone dalam memutuskan tali yang menghubungkan antara dia dan Kowalsky)
  • Sekuat apapun diri kita, tetap membutuhkan teman, seseorang tempat kita berbicara dari hati ke hati. (Adegan Stone berbicara dengan seorang penduduk China melalui radio)
  • Gunakan kepala dingin. Jangan pernah putus asa, dalam keadaan paling buruk sekalipun, tetaplah berusaha. (Adegan halusinasi Kowalsky saat Stone berusaha bunuh diri)
  • Selalu ada keajaiban, kesempatan kedua, ketika kita percaya. Stone menggunakan semua idiom-idiom Kowalsky saat kepercayaan dirinya pulih, menunjukkan adanya pencerahan dan kesempatan kedua untuk menjalani hidup.

Namun begitu, bukan berarti film ini tanpa cela. Saya melihat sebuah keanehan yang fatal. Ketika Stone berpindah ke stasiun China Tiangong, penonton tidak melihat adanya bentuk-bentuk atau kabinet yang bisa dilepas menyerupai kapsul, driver utama justru terlihat seperti kockpit pesawat komersial. Namun ketika Stone jatuh di sebuah danau tanpa penghuni, ia berada dalam kapsul berbentuk bulat elips yang menurut saya aneh. Bentuk itu tidak dapat ditemui ketika dia duduk di dalam pesawat luar angka milik China (pesawat terakhir,  setelah berpindah beberapa pesawat ). Selebihnya: perfecto!!! Kapankah film Indonesia berlari kearah seperti ini? (naskah: Wina Bojonegoro/Heti Palestina Yunani)

INFO FILM: Judul: Gravity/Durasi: 90 menit/Sutradara: Alfonso Cuaron/Pemain: George Clooney & Sandra Bullock/Produksi: Warner Bross/Release: 2013