Gosaikunda, How Can I Forget You?

Jelajah Nepal; Negeri Impian Para Petualang (7)

Seperti biasa, di pagi buta saya ke ruang makan. Sepagi itu, beberapa kursi makan ditempati beberapa porter yang tidak kebagian kamar. Pandangan saya buang ke jendela. Di antara stiker peninggalan pendaki yang menempel di kaca, saya melihat bentangan Danau Gosaikunda yang menjadi titik akhir perjalanan saya ke Nepal, negeri para petualang.

Oh my God, sungguhlah indah itu. Dari jauh, Gosaikunda seolah melambai-lambai kepada saya. Tidak disangka, danau suci itu hanya beberapa jengkal dari teahouse tempat saya menginap. Langsung saja saya menyambar kamera dan turun, disusul Yuba –guide– yang tiba-tiba muncul di belakang.

Inilah mimpi saya yang terwujud itu; mencium bau tanah tertinggi di Langtang Valley. Di situlah mayoritas Suku Tamang yang beragama Buddha, menghuni. Tipikal wajah mereka lebih mirip dengan wajah orang-orang yang hidup di dataran China, putih, bermata sipit, berambut lurus.

Tahu tidak? Mimpi bisa ke tanah Suku Tamang itu sudah saya pendam selama hampir 20 tahun. Sebagai traveler saya memang menargetkan bisa menjejakkan kaki di salah satu tanah tinggi di Pergunungan Himalaya. Dan itu tercapai setelah banyak hal menciutkan keinginan.

Jujur, ada banyak rasa cemas yang menghinggapi saya sepanjang perjalanan pendakian. Mulai apakah saya mampu menapakkan kaki di ketinggian titik triangulasi Danau Gosaikunda 4381 m dpl? Bisakah dengan fisik yang kian melemah dan cedera lutut yang walau tidak parah tapi sangat terasa saat menuruni trek?

Ditambah waktu olahraga yang tidak teratur selama di Indonesia, saya tak yakin untuk bisa sampai ke Gosaikunda. Lebih-lebih saya tahu sendiri kalau banyak pendaki Eropa yang memilih bermalam untuk aklimatisasi dan mengkonsumsi obat untuk mengatasi AMS.

Padahal mereka profesional. Sementara saya ini pendaki amatir. Saya juga terbelit waktu berkunjung di Nepal yang tidak lama. Otomatis perjalanan pun harus dipercepat dari waktu tempuh pada umumnya.

Terkait danau terbesar di wilayah Langtang Valley itu, Gosaikunda adalah sebuah situs religius bagi agama Hindu dan Buddha. Dalam mitologi Hindu, Gosaikunda adalah tempat tinggal Dewa Siwa dan Gauri. Gosaikunda juga diceritakan dalam kitab suci Hindu Bhagavata Purana, Wisnu Purana dan epos Ramayana-Mahabharata.

Danau inilah yang menjadi muasal air yang mengalir hingga ke Samudera Manthan. Perairannya dianggap suci dan sangat penting selama perayaan Gangadashahara dan Janai Purnima saat ribuan peziarah dari Nepal dan India mengunjungi daerah tersebut.

Gosaikunda diyakini diciptakan Dewa Siwa saat ia menancapkan Trisula (holy trident) ke sebuah gunung untuk mengambil air. Dengannya ia bisa mendinginkan tenggorokan sesaat setelah ia menelan racun. Dengan segala daya pikat fisik dan mitosnya, sebagai pendaki bolehlah kalau saya bersyukur atas pencapaian itu.

Sebab banyak yang tak mungkin rasanya, sebelum nyata-nyata saya sudah berdiri di sana. Semua terjadi karena kekuatan Tuhan yang Mahabesar. Ia lah yang menggerakkan kaki, mental dan semangat saya untuk bisa sampai ke sana. Saya pun berdoa dan sengaja bersujud mencium tanahnya. Gosaikunda, how can I forget you? (naskah dan foto: Menur Kusuma/editor: Heti Palestina Yunani)