Golden Sunrise Kelimutu; The Best

Ende, Keindahan di Antara Kisah dan Mitos (3)

Ende-The Kelimutu Crater Lakes EcolodgeDi Desa Moni banyak terdapat penginapan bagi wisatawan yang sebagian besar singgah di Moni untuk menuju Gunung Kelimutu. Harga yang ditawarkan bervariatif, mulai dari Rp 200 ribu hingga Rp 800 ribu sesuai fasilitas yang ditawarkan. Saya memilih menginap di The Kelimutu Crater Lakes Ecolodge, yang memiliki konsep resort ecolodge dengan pemandangan yang indah.

Dini hari pukul 1.30 waktu setempat saya dibangunkan oleh petugas penginapan. Walaupun dibilang ini semi-tracking yang namanya gunung, tetap dibutuhkan persiapan khusus. Mulai dari baju dingin, senter, sarung tangan, sepatu tracking, daypack karena tidak perlu membawa banyak barang, cukup air putih, permen, dan camilan ringan penambah tenaga.

Tidak ada angkutan umum khusus yang mengantarkan wisatawan yang ingin mengunjungi Gunung Kelimutu. Satu-satunya cara untuk menuju gunung ini adalah dengan menyewa mobil di Desa Moni atau mencari paket di penginapan yang menawarkan fasilitas ke Gunung Kelimutu. Jarak dari Desa Moni ke Gunung Kelimutu sekitar 30 km.

Ende-Golden sunrise, salah satu yang terbaik di Indonesia – Gunung KelimutuSetelah memastikan kendaraan siap dan wisatawan lain sudah berkumpul di lobby penginapan, saya berangkat sekitar pukul 03.00 dini hari. Sebab saya memang tidak ingin melewatkan momen golden sunrise Kelimutu yang katanya salah satu yang terbaik di Indonesia itu.

Mobil yang saya tumpangi hanya dapat parkir di area parkir. Selanjutnya saya harus berjalan kaki sekitar kurang lebih 30 menit-1 jam menuju titik puncak Kelimutu. Harus di puncak demi mendapatkan view point berupa golden sunrise terbaik. Saya ingtakan jangan lupa membawa senter karena pihak penginapan belum tentu menyediakannya.

Jalur menuju view point ini sudah berupa paving block dan ada pegangan di kiri kanan jalan. Julukan Golden Sunrise terbaik itu ternyata tidak salah disematkan pada Gunung Kelimutu. Saya beruntung tiba tepat waktu dan menikmati detik demi detik kegelapan di ufuk Timur yang berganti menjadi rona jingga kemerahan.Ende-Sinar jingga di ufuk timur – Gunung Kelimutu

Birunya langit memperjelas pemandangan indah yang terbentang di depan mata yaitu tiga buah danau dengan warna air yang berbeda. Melihat danau dengan tiga warna yang berbeda tepat di hadapan, rasanya sangat magical.

Udara dingin khas pegunungan tak mengurangi keinginan saya untuk lebih mendekat ke arah setiap danau. Masing-masing danau telah dibatasi oleh pagar pembatas yang tujuan agar kita tidak melewati batas aman baik untuk mengambil foto atau sekadar mengagumi keindahan danau Kelimutu ini.

Danau pertama berwarna hijau dan letaknya berdampingan dengan danau ke dua yang pada saat saya berkunjung danau itu berwarna hitam. Danau berwarna hijau ini disebut masyarakat lokal Lio sebagai ‘Tiwu Nuwa’ yang dipercayai memiliki arti ‘tempat arwah muda-mudi yang telah meninggal’.

Dari siapa saya mendapatkan cerita mitos itu? Tak lain dari cerita seorang warga lokal yang berjualan kopi dan aneka minuman hangat lainnya saat saya bercengkerama bersamanya. Bapak tersebut banyak bercerita tentang cerita dua danau lain.

Seperti yang saya katakan, bagaimana pun pandangan ilmiah yang telah dikemukan para ilmuwan yang meneliti danau, namun hikayat dan kepercayaan masyarakat setempat tetap menjadi legenda masyarakat tentang bagaimana terbentuknya Danau Kelimutu. Itulah daya tariknya; antara kisah dan mitos di Ende. (naskah dan foto: Yenny Fyfy/editor: Heti Palestina Yunani)