Gagal Bermalam di Bajawa Demi Bung Karno

Road Trip Nekat Mengeksplorasi Selatan Indonesia (18)

18-Perbaikan Jalan Akibat LongsorSelesai sarapan, Si Jangkrik sudah siap melaju kembali di Trans Flores menuju ke arah barat lagi. Sesuai perkiraan untuk tidak terburu-buru kembali ke Ende, perjalanan pun tertahan di KM 18 karena perbaikan jalan dari longsor panjang yang kemarin dilalui. Beruntung hanya tertahan sekitar 30 menit karena saya tiba sekitar pukul 11.30. Setelah melalui perbatasan palang proyek, saya terus melaju menuju Ende.

Tujuan saya hari itu bermalam di antara Kota Bajawa atau Ruteng karena di Ende hanya ingin melihat Rumah Pengasingan Bung Karno di Ende dan Taman Soekarno, tempat bapak negara itu merancang Pancasila di bawah pohon sukun. Tiba di Ende pukul 13.15 dan mengetahui kota tersebut sangat terkenal sebagai sentral kain Flores, maka saya pun menyempatkan membeli beberapa potong untuk menjadi buah tangan.

18-KarnavalKain songket di Ende sangat bervariasi, di tempat saya membeli, sang pedagang tidak hanya menjual kain bermotif Flores, Timor hingga Sumba, dari pulau kecil hingga kota besar pun ada. Sungguh menjadi penguras dompet bagi penyuka kain-kain etnik Nusantara. Dari sana saya segera bergeser menuju Rumah Pengasingan Bung Karno yang ternyata sedang ditutup.

Tampak masyarakat Ende banyak yang berpakaian tradisional dari anak kecil hingga orang tua. Heran saya dibuatnya, pesta rakyat ini ada dalam rangka menyambut apa? Setelah memarkirkan motor dan bertanya pada masyarakat, ternyata mereka semua sedang merayakan Hari Lahir Pancasila yang tepat dirayakan pada hari itu. Saya sebagai penyuka segala bentuk pesta rakyat, langsung antusias untuk melihat keseluruhan rangkaian konvoi masyarakat yang begitu panjang.

18-Pesta Rakyat Ende Pesta rakyat seperti beberapa bulan sebelumnya di Bandung, Konferensi Asia Afrika, yang begitu dipadati orang tak lepas dari kunjungan saya yang saat itu masih merantau bekerja di luar Bandung. Melihat wajah-wajah masyarakat Ende berpakaian adat dan berkumpul banyak sekali di pusat kota merupakan kondisi yang tidak diharapkan. Bonus perjalanan yang begitu menggembirakan.

Sambil berjalan menyusuri ruas trotoar kecil akhirnya saya tiba di Rumah Pengasingan Bung Karno. Tahun 2011 saya melihat dan mengunjungi rumah pengasingan beliau di Bengkulu, akhirnya sekarang bisa melihat rumah pengasingan lainnya. Kondisi rumah ini lebih kecil daripada yang di Bengkulu. Barang yang dipajang tidak terlalu banyak. Sumur di belakang juga sama seperti rumah beliau di Bengkul, tetapi ada cerita cinta yang lebih kuat di rumah pengasingan Ende.

Rumah itu menjadi saksi kuat kesetiaan Ibu Inggit Garnasih dan Bung Karno untuk saling mendampingi. Sebelum akhirnya Bung Karno menceraikan Bu Inggit karena tidak berhasil membuahkan keturunan dari rahimnya. Hanya Ende yang mengetahui cinta mereka sehari-harinya selama di pengasingan sebelum Bung Karno memutuskan untuk berpoligami sementara Bu Inggit menolak untuk dimadu.

18-Monumen Sukarno dan Pohon SukunSelain cinta mereka, Ende adalah saksi bisu lahirnya dasar negeri ini. Pancasila menurut sejarah yang ada merupakan buah pemikiran Bung Karno selama diasingkan di Ende, yang salah satu kegiatannya adalah duduk di bawah pohon sukun. Di pohon itulah kelak Bung Karno membuahkan sila menjadi 5 seusai ujung daun pohon tersebut. Sebuah taman di pusat kota dinobatkan sebagai Taman Pancasila karena itu merupakan lokasi pohon di mana Bung Karno sering berteduh.

Pohon sukun di taman itu sampai sekarang menaungi dan melindungi patung besar Bung Karno yang sedang duduk di atas bangku di tengah kolamnya. Kental sekali rasa nasionalis saat saya berada di Ende. Sejarah ini yang menjadikan masyarakat Ende begitu antusias dan kompak merayakan Hari Lahir Pancasila. Indonesia yang begitu java centris ini ternyata memiliki masyarakat di kota kecil begitu nasionalis dalam menghargai Pancasila. Hari itu pun saya menggagalkan rencana untuk bermalam di Bajawa atau Ruteng karena Ende sebagai Kota Soekarno yang begitu menghipnotis untuk tetap mengikuti pesta rakyat warganya hingga menjelang malam hari. (naskah dan foto: Geraldine Fakhmi Akbar/editor: Heti Palestina Yunani/bersambung)