Financial Planning sebagai Pensiunan

Love, Art and Journey Membangun Padma (7)

Setelah resmi menjadi pensiunan, secepat itu pula saya lalu membuat perencanaan pengeloaan. Sebab saya tahu tidak mudah tiba-tiba menerima uang dalam jumlah besar, ratusan juta rupiah. Godaan pasti bejibun. Dan incaran para ‘penjahat’ pasti ada di mana-mana, terutama yang tahu kita jadi orang kaya mendadak.

Tetapi untunglah saya tahu diri bahwa masa depan saya bergantung pada uang pesangon ini. Bahwa anak-anak saya tetap membutuhkan uang ini walaupun mereka dijamin pendidikannya oleh ayah mereka. Tetapi satu poin penting yang selalu menggelayuti kepala saya adalah; saya tidak mau gagal.

Gagal, yang saya maksud adalah: tidak berhasil mengelola uang pesangon, lalu jatuh miskin,  meminta belas kasihan teman-teman sejawat, menimbulkan belas kasihan. Tidak. Saya harus mandiri. Saya harus kuat.

Saya harus menjadi sesuatu yang layak dibanggakan sebagai alumnus sebuah BUMN besar di tanah air. Saya tidak mau bikin malu lembaga yang telah menyejahterakan saya selama 28 tahun. Saya lalu membuat financial planning sebagai berikut berdasarkan nasihat beberapa pihak.

  • Pertama: Menurut perencana keuangan Safir Senduk, pertahanan paling fundamental yang harus kita buat dalam hidup adalah asuransi. Mengapa asuransi kesehatan? Di negeri ini untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang layak, mahal sekali. Obat harganya selangit, jasa dokter pun mahal. Jadi kalau tak mau jatuh miskin karena penyakit, asuransi kesehatanlah jawabnya. Selain itu saya juga memasukkan dana tersebut untuk kepentingan investasi dan asuransi jiwa. Paling tidak anak-anak saya tidak harus menderita ketika saya dipanggil Yang Maha Kuasa, mereka masih bisa melanjutkan hidup.
  • Ke dua: untuk pertama kalinya saya membeli mobil dan nama saya yang muncul pada surat kepemilikannya. Setelah dihitung, antara pengeluaran taksii dengan mobil pribadi, jatuhnya ternyata lebih murah membeli mobil. Lebih baik membayar driver daripada membayar ongkos taks
  • Ke tiga: membeli tanah. Beberapa ahli investasi mengatakan, usaha yang tak akan pernah rugi adalah properti. Maka demi keamanan saya pun membelinya. Alhamdulillah kok ya pas dapat harga murah.
  • Ke empat: pembelian investaris kantor. Kelihatannya kecil tapi ternyata lumayan besar juga. Mulai dari personal komputer, fax, meja kursi, lemari, kamera, dan segala tetek bengek kebutuhan kantor yang biasanya bisa di dapat di kantor lama hanya dengan menjentikkan jemari.

Tetapi di luar soal pengamanan diri dan keuangan tersebut, ada satu pokok persoalan yang maha penting untuk melangsungkan kehidupan: mau berbisnis apa? Justru pikiran mau berbisnis apa, inilah yang sejak awal berputar-putar di kepala saya jauh sebelum saya memikirkan asuransi, dan investasi bentuk lain misalnya: emas dan tanah. Lalu apa itu? (naskah dan foto: Wina Bojonegoro/editor: Heti Palestina Yunani/bersambung)