FILESKI; Memenuhi Spiritual Traveling dengan Puisi

fileski (7)
Fileski dalam Ngaji Puisi yang digelarnya

Puisi dan musik tak terpisahkan dari diri Fileski. Keduanya saling memengaruhi. Puisi kadang ia ‘masuki’ dengan musik (musikalisasi puisi) hingga tampil lebih hidup. Sementara musik, banyak ia ciptakan karena terinspirasi dari kata-kata dalam puisi yang diciptakannya.

Itulah kenapa sebagai penulis puisi, Files -panggilannnya- lebih suka disebut sebagai poet musician atau musisi puisi. Dengan puisi dan musik, lulusan S1 jurusan Teater di Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta Surabaya itu kini tengah sibuk menjalankan programnya sendiri yang bertajuk ‘Ngaji Puisi’ ke daerah-daerah.

Bagi pemuda yang mahir memainkan biola dan sejumlah alat musik ini, puisi bukan hanya sekadar karya sastra. Menurut pemilik nama lengkap Walidha Tanjung Files, puisi merupakan perjalanan spiritual untuk menemukan hakikat hidup dan berbagi pada sesama.

Barangkali itulah spiritual traveling ala Files. Maka dalam menapaki dunia sastra atau dunia musik sekaligus, Files yang lahir di Madiun, Jawa Timur, 21 Februari 1988, kerap memarakkan pertunjukan sastra atau musik dengan dua kebisaannya itu.

Di panggung, ia tak tampil biasa. Pendiri Radio Negeri Kertas itu seringkali membuat suatu inovasi dalam sastra pertunjukan, yakni menyajikan resital biola puisi. Lebih jauh tentang dua dunia dalam hidup Files, inilah bincang-bincang PADMagz dengannya.

Bagaimana awalnya Anda bersentuhan dengan pusisi atau musik?

Saya berkenalan dengan puisi saat saya masih kecil. Saya kerap membaca karya puisi milik ayah yang seorang guru bahasa dan sastra Indonesia di Madiun. Saat beranjak remaja, saya mulai berani menampilkan diri di pertunjukan sastra dan berkolaborasi dengan para seniman lintas disiplin seni.

Ada sastrawan, novelis, aktor teater, perupa instalasi dan para koreografer tari. Itu saya lakukan sampai sekarang. Hal ini lah yang membuat saya merasakan pesona puisi dan semakin hari semakin dekat dengan puisi.

fileski (1)
Fileski saat di Singapura bersama Menteri Kebudayaan Singapura

Apa saja yang sudah Anda lakukan dengan puisi dan musik?

Sebagai pembuktian cinta pada puisi dan musik, saya banyak membuat puisi untuk digubah secara musikal. Saya serius mengerjakannya karena ingin melahirkan musik puisi khas saya, khas Fileski. Saya juga membentuk kelompok musik Paperland, sampai merilis album pada 2012 yang diproduseri orang paling berpengaruh dalam hidup saya, Johan Budie Sava alm, CEO Togamas.

Judulnya Rahasia Langit yang diilhami dari puisi-puisi karya saya. Berkat puisi dua tahun berturut-turut saya menerima peghargaan Anugerah Hescom musik puisi dari eSastra Malaysia, dan dari Brunei Darusssalam pernah dapat anugerah PESTAB composer lagu puisi.

September 2014 lalu Anda pernah ke Singapura untuk urusan puisi. Kegiatan apa itu?

Tepatnya dalam rangka Pertemuan Penyair Nusantara ke-7 (PPN7), yang masih terkait Bulan Bahasa Singapura 2014. Dalam PPN7 itu saya diminta oleh seorang penyair Singapura, Rohanie Din, untuk mewakili karena kondisinya kurang sehat. Agenda lainnya ya dalam rangka launching buku ‘Antologi Puisi Bebas Melata-Menjala Kasih’.

Di buku itu, karya puisi saya bersama 20 penyair tiga negara (Indonesia, Singapura, Malaysia), yang terpilih lewat seleksi diterbitkan dalam buku antologi puisi penyair lintas negara. Puisi saya ada 5 karya seperti penyair lainnya, judulnya ‘Rongga Jiwamu’, ‘Isyarat Hujan’, ‘Syair Gunung Kepada Samudera’, ‘Bunyi Keabadian’, dan ‘Hanya Pada Kematian’.

Pengalaman terbaik apa dari Singapura?

fileski (2)
Dengan penyair Singapura, Herman Mutiara di Singapura

Pengalaman bisa bertemu dengan para penyair hebat di Nusantara, yang selama ini hanya mengenal karyanya dalam buku-buku. Di Singapura saya bisa bertemu mereka dengan kedekatan yang akrab.

Bahkan pertemuan di Singapura akan menambah rentetan agenda sastra berikutnya. Benar, setelah pulang dari Singapura sibuk berkegiatan sastra antar pulau di Indonesia bahkan antar negara.

Saat memberikan workshop di sekolah-sekolah di Singapura dan terlibat perform dalam pentas Bulan Bahasa Singapura, saya merasa itu bukan berarti saya sudah merasa pintar lalu harus memberikan workshop. Justru sebenarnya saya lebih banyak belajar apa yang saya amati dari Singapura, mulai dari para senimannya hingga para siswanya.

Apa arti momen itu bagi Anda?

Utamanya ya link luar negeri. Jaringan kesenian dan wawasan khususnya bidang seni saya makin luas. Memang seniman Indonesia mestinya memang harus rajin silaturahim seni dan budaya untuk mendapatkan link ini. Saya juga makin setuju bahwa kesenian adalah jawaban atau sesuatu yang paling bisa menembus batas-batas bendera dan mempererat persahabatan orang-orang antar negara.

Sejak itu saya sangat senang jika ada tawaran kolaborasi bersama seniman dari disiplin seni manapun. Tidak hanya sastrawan, namun juga seniman teater, musik, seni rupa, dari dalam dan luar negeri. Sebab sering bertemu mereka di berbagai di even, pelan tapi pasti, akan semakin mendukung jangkauan saya ke  mana pun termasuk ke manca negara.

fileski workshop di sekolah singapura
Fileski saat memberikan workshop di sekolah di Singapura

Di Indonesia, sebutan poet mucician mungkin tak banyak dikenal. Apa sih sebenarnya yang kamu lakukan sebagai poet musician?

Simpel sebenarnya. Saya melakukan eksplorasi puisi dengan permainan musik utamanya biola. Komposisi musik yang saya bawakan bernuansa eksperimental, sehingga membuat puisi-puisi yang saya bawakan saat tampil mempunyai daya mistis dan eksotis. Kalau di bidang sastra biasanya saya melakukan kolaborasi.

Caranya, saya membuat komposisi musik dari buku yang akan diterbitkan oleh seorang penulis, atau membuat puisi yang terinspirasi dari cerpen atau novel kemudian saya buatkan musikalisasi puisinya. Salah satunya itu pernah saya lakukan untuk novelis Wina Bojonegoro untuk beberapa novelnya.

 Oiya tentang pernyataan Anda bahwa puisi merupakan perjalanan spiritual untuk menemukan hakikat hidup dan berbagi pada sesama. Apa maksudnya?

Seperti yang saya bilang, puisi bagi saya bukan sekedar karya sastra, namun wujud dari sebuah perjalanan spiritual. Dalam puisi saya menemukan pertanyaan-pertanyaan tentang kehidupan. Pertanyaan itu mengendap menjadi kumpulan kegelisahan. Kegelisahan yang bersumber dari segala peristiwa yang saya rekam di perjalanan, mulai dari lingkup sosial, budaya, politik, dan segala peristiwa aktual yang terjadi di masyarakat.

Dan semua itu menjadi pematik keseruan dalam kegiatan ‘Ngaji Puisi’ yang saya lakukan rutin di daerah-daerah. Ujung dari perjalanan spiritual ini menjadi pencerahan rohani, khususnya bagi saya sendiri dalam menemukan hakikat hidup dan kebahagiaan berbagi kebaikan terhadap sesama.

Apa yang kamu lakukan untuk melakukan traveling dalam hidup Anda?

Di luar rutinitas kerja, saya selalu sempatkan melakukan traveling menuju suatu daerah yang ingin saya tuju sesuai kata hati. Bisa juga sesuai undangan komunitas-komunitas pecinta puisi. Ketika saya singgah di suatu daerah, menjadi kesempatan bagi saya untuk menikmati keindahan alam dan budaya setempat. Itulah traveling buat saya.

Perjalanan semacam itu menjadi inspirasi saya dalam menulis puisi. Saya bisa menjalin silaturahim dengan mengenal orang-orang baru, yang memiliki keunikan-keunikan karakter budaya setempat. Itu membuat saya semakin peka dan punya sudut pandang yang lebih luas dalam berpikir. Selain jalan-jalan, pasti saya juga sempatan untuk menggelar ‘Ngaji Puisi’ bersama masyarakat setempat.

Apakah puisi mampu memenuhi kebutuhanmu dalam ber-traveling? Baik itu traveling yang mengunjungi tempat-tempat wisata atau pun spiritual traveling yang Anda maksud tadi?

fileski (6)
Pentas di malam puisi Chairil Anwar

Pasti. Puisilah yang menggerakkan saya untuk melangkahkan kaki menuju tempat-tempat yang ingin saya ketahui. Tidak hanya memburu keindahan destinasi wisata, namun juga kekaguman-kekaguma akan kebesaran-Nya yang ternyata banyak yang belum saya tahu sebelumnya.

Kekaguman itu letaknya dalam hati terdalam, yang saya rasakan dan nikmati dari sari-sari perenungan. Yang mungkin orang lain tidak dapatkan karena tidak melakukan olah batin seperti yang saya lakukan ketika ber-traveling.

Olah batin yang saya asah seperti halnya menafsirkan sebuah puisi. Bedanya dalam traveling saya jadikan alam dan peristiwa aktual yang saya temui dalam traveling sebagai puisi. Tugas saya adalah menapak setiap jengkalnya dengan perenungan. Sepertinya saya sepakat jika PADMagz menyebut ini sebagai spiritual traveling.

Puisi dan musik sudah pernah membawamu traveling ke negara manca mana saja?

Baru Singapura dan Malaysia. Saat ke Singapura, saya pernah tour konser musik puisi selama sebulan penuh di Kuala Lumpur.

Apa harapan Anda ke depan?

Saya ingin membangun sebuah Rumah Seni Fileski. Itu untuk meluapkan segala gairah kesenian saya di bidang musik seperti ruang studio latihan dan rekaman, punya panggung teater sederhana di area halaman rumah, punya perpustakaan yang mendokumentasikan karya-karya sastra.

Semua itu saya buka untuk memudahkan semua orang yang ingin mendalami kesenian secara nyaman dan serius. Memang untuk mencapai sana perlu biaya yang tidak sedikit. Untuk itu saya ingin diberi kesempatan oleh Tuhan untuk terus berkarya dan menyebarkan nilai-nilai positif melalui media kesenian.

Apa yang bisa di-share untuk pembaca PADMagz?

Sangat banyak pesan yang ingin saya sampaikan. Secara singkat saya ingin menyebarluaskan bidang yang saya geluti ini, khususnya musik sastra. Sebab sastra hakikatnya adalah ajaran kebaikan yang dibalut dalam bingkai keindahan dan musik adalah bahasa universal yang maknanya bisa melintas sekat-sekat bahasa. Saya ingin sastra semakin diminati karena sastra bisa menghaluskan budi pekerti suatu bangsa, di tengah gerusan dunia hiburan yang penuh eforia sesaat.

Sastra lah yang membuat cara berpikir kebanyakan generasi muda sangat emosional dalam merespon segala peristiwa. Saya juga ingin musik asli negeri sendiri dipertahankan dan dipelajari para genersai muda, karena saya melihat musik asli Indonesia sangat giat dipelajari para pemuda bangsa asing. Kalau bukan kita yang melestarikan warisan budaya Indonesia, lalu siapa lagi.

Dengan konsep dan metode yang saya himpun dalam menyajikan sebuah pertunjukan musik sastra seperti ‘Ngaji Puisi’ misalnya, saya yakin para generasi muda akan semakin berminat dalam mengapresiasi karya sastra. Mereka diharapkan bisa bersemangat membaca buku-buku sastra yang saat ini banyak tidak dikenal para generasi muda. Padahal sastrawan Indonesia punya karya-karya sastra yang mendunia. (naskah: Heti Palestina Yunani/foto: koleksi pribadi/hpy)