Festival Holi; Membakar Holika sebelum Matahari Terbenam (1)

holi2-Festival
Kemeriahan Festival Holi

Di Jaipur, India, saya khusus datang untuk sebuah festival, Festival Holi. Di kota yang paling nyaman dan aman bagi turis itu, orang ingin merasakan keunikan festival yang penuh warna. Festival warna itu diperingati orang Hindu untuk menyambut datangnya musim semi dan sebagai tanda berakhirnya musim dingin. Biasanya jatuh di bulan Maret, namun tanggal tak bisa ditentukan.

Untuk mencapai Jaipur, saya menggunakan bus jadul seperti Kopaja di Jakarta, seharga Rs 520 dari New Delhi. Selain saya, bus cukup berdesakan dengan penduduk lokal yang juga ingin merayakan Festival Holi. Maklum, hari itu merupakan hari libur bagi banyak orang. Cukup penat juga duduk di bus dari pukul 12 malam hingga 7 pagi.

Apalagi dengan kursi sempit yang diisi tiga orang. Selama perjalanan selama 7 jam itu saya sebenarnya terkantuk-kantuk. Namun tidak bisa tidur karena bus terlalu sempit. Belum lagi bunyi klakson sepanjang jalan disertai guncangan karena sopir begitu seringnya menginjak rem.

holi 1-hiruk pikuk pasar menjelang holi, banyak yang memilih tutup
Pasar menjelang Festival Holi tampak banyak yang memilih tutup

Rasanya kedua hal ini sudah seperti alunan musik dan lagu yang saling bertalu-talu, harus dinikmati. Sampai di terminal utama bus di Jaipur, saya langsung mencari hostel yang tidak terlalu jauh di luar terminal. Tinggal pilih sesuai dengan isi dompet. Semakin lengkap fasilitasnya maka akan semakin mahal.

Tapi jangan banyak berharap. Semahal apapun hotelnya, untuk mendapatkan akses internet tetap susahnya minta ampun. Jadi siap-siap jauh dari peradaban teknologi di kota ini. Tapi jangan sedih, beralihlah untuk menikmati keindahan kota tanpa buru-buru bermedsos ria.

Makanya saya sengaja saya datang satu hari lebih awal agar bisa berjalan-jalan menyusuri kota dan melihat kehidupan masyarakat Jaipur. Sayang menjelang festival, beberapa toko tutup karena memang hari libur telah tiba.

kotoran sapi yang dibentuk lempeng untuk disimpan di api unggun
Kotoran sapi yang dibentuk lempeng untuk membakar api unggun

Saat berkeliling itulah, saya melihat banyak tumpukan kayu dan bambu serta kotoran sapi yang ditumpuk di sudut-sudut kota. Itu semua untuk persiapan sebuah ritual sebelum Holi digelar. Ritual ini dikenal dengan nama ‘Holika Bonfire’, semacam api unggun.

Itulah kenapa sembari berjalan, saya melihat banyak sekali sepeda gerobak dan gerobak sapi lalu lalang. Semua mengangkut kayu dan bambu yang akan digunakan membuat Holika saat pergantian hari.

Tidak lupa lempengan kotoran sapi kering juga disiapkan untuk ditambahkan ke dalam Holika. Semua kota terasa hirup pikuknya menyiapkan perayaan Holi. Setiap langkah dan degup sudah terasa aroma festival.

holi 1-api unggun di city palace
Holika yang dibakar di City Palace

Terkait Holika Bonfire ini, legenda bercerita tentang Holi yang berasal dari nama Holika. Dia adalah saudari dari Dewa kejahatan bernama Hiranyakashipu. Seorang Dewa yang kuat lagi perkasa. Kekuatan dan keperkasaan telah membutakan mata hatinya. Dia meminta semua orang untuk tunduk dan hanya memujanya.

Dikisahkan pula, Hiranyakashipu mempunyai seorang putra bernama Prahlada. Dia tidak setuju dengan sifat arogan dan tindakan semena-mena yang diperbuat bapaknya. Secara terang terangan dia menentangnya.

Suatu ketika Hiranyakashipu berniat membunuh anaknya dengan cara membakarnya. Dia meminta saudarinya Holika untuk menjebaknya. Holika kemudian mengajak Prahlada untuk duduk di atas perapian. Holika sendiri menggunakan Shawl untuk melindungi dirinya.

Pintu masuk menuju city palace
Pintu masuk menuju City Palace

Tapi kejahatan tak pernah mengalahkan kebaikan. Justru Holika lah yang terbakar sementara Prahlada masih hidup. Kemudian datang Dewa Wisnu dan membunuh Hiranyakashipu. Oleh sebab itulah Holi juga dikenal sebagai perayaan kemenangan atas kebaikan mengalahkan kejahatan.

Sejak itulah sebelum perayaan Holi diadakan ritual membakar Holika. Yang khas, di atas tumpukan kayu diletakkan patung Holika. Tumpukan kayu itu diberi minyak dan kotoran sapi kering yang dibentuk lempeng. Holika ini biasa diletakkan di perempatan atau persimpangan jalan.

Setelah matahari terbenam, Holika mulai dibakar. Jadilah Jaipur semacam Negeri Mahabharata penuh dengan kepulan asap yang membumbung tinggi. Saya menuju ke City Palace untuk melihat bara api dengan hiasan tulisan warna-warninya dibakar. Sungguh saat itu, saya menjadi jatuh cinta pada Jaipur. (naskah dan foto: Dony Prayudi/Heti Palestina Yunani/bersambung)