Escape From Comfort Zone; Jadi Pensiunan

Love, Art and Journey Membangun Padma (6)

Dari semua pengalaman saya itu ada pelajaran bahwa pengalaman kerja adalah kampus yang di dalamnya terdapat contoh soal sekaligus pemecahan masalahnya. Jika Anda survive, Anda bakal lulus cumlaude.

Beberapa pengalaman tersebut di atas merupakan modal dasar saya untuk berani membuat keputusan, istilahnya escape from comfort zone . Pengalaman di atas memungkinkan saya memiliki modal dasar sebagai seorang entrepreneur, antara lain :

  1. Network yang luas, baik internal maupun eksternal
  2. Pengalaman mengelola pelanggan, wartawan dan karyawan (internalexternal relation)
  3. Latihan berbicara di media (dalam hal ini radio)
  4. Menghadapi penolakan dan menghadapi kemarahan (ketika menjadi account manager)
  5. Membina hubungan baik dengan klien, memperlakukan mereka sebagai teman.
  6. Bos kita adalah guru-guru terbaik yang membentuk kita menjadi seorang pekerja andal.

Dan akhirnya, pada 1 Oktober 2011, saya dan ratusan teman lain mengenakan seragam perusahaan untuk terakhir kali, menyanyikan lagu Indonesia Raya dengan mata berkaca-kaca. Bagaimanapun, kami telah menjadi bagian dari keluarga besar ini selama puluhan tahun.

Kami pernah saling menyapa dalam lift, bertemu dan kepanasan bersama di lapangan upacara, saling menunggu di toilet dan bicara hal-hal remeh temeh, salat berjamaah di masjid kantor. Tiba-tiba kami harus berpisah, akankah kami punya kesempatan untuk saling bertegur sapa?

Mungkin saya akan jarang menyanyikan lagu Indonesia Raya dalam keadaan tertib dan formal.  Mungkin kami akan menyanyikan lagu itu dalam pertandingan basket atau saat pembukaan pertandingan bulu tangkis. Tapi menyanyikannya dengan mengenakan seragam kantor, not anymore!!

Dan ini sungguh mengharubirukan perasaan saya yang sensitif bin lebay. Apalagi ditambah status baru, hari itu kami menerima Surat Keputusan maha penting; menjadi pensiunan. Saya harus memulai menjadi seorang entrepreneur.

Saya lalu belajar dari dari para entrepreneur yang menerjuni dunianya lebih dahulu. Seperti Ir. Ciputra yang mengungkapkan bahwa  terdapat dua faktor yang membuat seorang bisa menjadi pengusaha. Salah satunya improvement driven opportunity atau dorongan atas peluang yang ada.

Faktor tersebut disebabkan naluri seseorang untuk melihat peluang, inovasi, dan keahlian. Faktor tersebut mendorong munculnya jiwa pengusaha yang berani mengambil risiko. Lalu ada nama Nuhammad Syafii Antonio yang bilang bahwa terlalu lama berada di kuadran aman terus, akan membahayakan sukses masa depan kita. (naskah dan foto: Wina Bojonegoro/editor: Heti Palestina Yunani/bersambung)