Elang Tiram di Langit Pink Beach

Road Trip Nekat Mengeksplorasi Selatan Indonesia (21)

Aba-Aba Nahkoda Posisi MantaDemi ikan manta di Manta Point, saya coba menyelam dengan susah payah tetap jarak kedalaman mungkin hingga 10 meter. Kepala pun sudah sangat tertekan oleh air laut. Sungguh pengalaman pertama yang begitu mempesona bisa melihat manta berenang dengan liar di laut lepas. Arus yang deras membuat saya cukup kelelahan untuk terus mengayuh kaki, hingga akhirnya saya memutuskan untuk kembali ke kapal dan beristirahat sebentar.

Turis yang masih berenang ada yang berteriak memberi kode jika di bawah sana ada lagi manta yang berenang. Saya langsung saja meloncat tanpa merasa ada lagi rasa lelah.  Bukan hanya satu ikan kali ini, tetapi langsung tiga ikan. Astaga mimpi apa saya semalam bisa melihat ikan yang sudah lima hari tidak ada di sana dan saat saya di sana bisa menyaksikan hingga empat ikan manta.

Menurut perkiraan saya mereka hadir di sana karena hari itu arus laut deras dan besar, manta menyukainya. Setelah dipikir-pikir mungkin karena beberapa hari kemarin terjadi hujan. Sebelumnya hujan tidak ada sama sekali, dan manta pun tidak bermunculan. Benar bersyukur saya dengan kehujanan di perjalanan kemarin. Di balik kesulitan yang saya rasakan kemarin ternyata ada keindahan yang sangat langka ini. Orang harus bermodal besar untuk melihat manta, sertifikasi diving  beserta kelengkapan lainnya, sedangkan saya hanya bermodal google, snorkel dan vins.

PhinisiSungguh saya bersyukur bisa melihat hewan laut yang indah tersebut, ingin sekali melihatnya lagi pada jarak yang lebih dekat. Semoga suatu hari nanti bisa. Setelah kelelahan berenang menyeimbangkan tubuh agar tidak terbawa arus, akhirnya semuanya naik dan kapal melaju menuju destinasi berikutnya. Semua orang di atas kapal pun bahagia, semua tersenyum karena bisa melihat manta. Tak henti perbincangan di atas kapal hanya membahas ikan itu hingga satu jam lamanya. Takjub.

Tiba di Pink Beach kami pun berenang kembali menikmati karang yang begitu indah. Pantai yang bersih, karang yang beraneka ragam serta terawat, ditambah suasana yang begitu tenang, benar-benar membahagiakan bisa berada pada kondisi saat itu. Tidak begitu lama menikmati karang dan ikan kecil saat di sana, saya diberikan pemandangan hadirnya elang tiram (osprey).

Akhirnya setelah bisa melihat seekor elang di Sumbawa yang hanya sebentar, saya bisa menyaksikan terbangnya hewan serupa lebih lama, tepatnya di atas perairan tenang dengan pemandangan yang eksotis. Sang elang terbang di sekitar perairan Pink Beach, terbang tenang memutar di langit yang begitu tinggi, lalu perlahan menuruni menuju permukaan laut, dan hap! Dia menukik tajam sembari membawa ikan kecil pada cakarnya.Senyum Anak Nelayan

Tak terlupakan saat dia melintas di hadapan mata, terdapat kapal phinisi sebagai latar belakang proses memangsa tersebut. Sungguh Nusantara yang begitu sempurna. Indah. Adegan tersebut tidak akan dilupakan sampai saya benar-benar tua dan pikun. Menjelang matahari terbenam, kami pun melanjutkan menuju satu semenanjung di pulau yang tenang untuk bermalam, Pulau Kalong.

Langit yang berwarna jingga menemani sore saya saat itu di atas perahu yang telah melepas jangkarnya. Tak disangka di atas kapal sedang berkeliaran lima elang tiram, iya benar, saya yakin ada lima elang. Sungguh mata saya tidak lepas melihat keindahan mereka, sampai leher saya pegal pun tidak dihiraukan. Eksotis sekali cara mereka terbang dan berburu. Tukikan mereka saat hendak mengambil ikan, sungguh begitu indah. (naskah dan foto: Geraldine Fakhmi Akbar/editor: Heti Palestina Yunani/bersambung)