Edusmart Indonesia; Buah Kemudahan setelah Kesulitan by Farida Yunita Sari

Sesungguhnya harta itu hijau dan manis. Maka barang siapa mengambilnya dengan jiwa yang mulia, dia akan mendapatkan keberkahan padanya. Dan barang siapa mengambilnya dengan jiwa yang tamak, dia tidak diberkahi padanya dan bagaikan orang yang makan tetapi tidak pernah merasa kenyang. (HR Bukhari no 1472)

Wirausaha yang saya tekuni sekarang tak datang tiba-tiba. Cerita yang melatar belakanginya harus ditarik ke belakang jauh. Semua berawal saat saya bergabung dengan sebuah bimbingan belajar berskala nasional seusai saya menyelesaikan pendidikan S-1 Jurusan Kimia di Universitas Airlangga. Maka bimbingan belajar dari Bandung ini memang menjadi kawah candradimuka bagi newbie seperti saya. Dari bimbingan belajar ini saya banyak belajar hal-hal baru yang bahkan belum pernah saya dapatkan di bangku kuliah.

Teristimewanya, saya mendapatkan suami juga dari bimbingan belajar ini. Nah, yang satu ini keberkahan yang tiada terkira. Di sebuah bimbingan belajar, suami saya mendapatkan tantangan untuk mengelola cabang baru di Sidoarjo. Sistem yang digunakan adalah kemitraan, sehingga suami memiliki saham di cabang yang dikelolanya. Akhirnya kami hijrah ke Sidoarjo agar suami bisa total mengelola cabang baru ini. Saya sebagai isteri juga membantu total untuk berkembangnya cabang yang diamanahkan.

Saat awal berdiri, suami hanya dibekali dua office boy. Dan mendapat support pengajar langsung dari cabang Surabaya. Tentu saja, sebagai cabang baru banyak yang harus dilakukan suami, mulai dari mengenalkan sebuah brand di wilayah Sidoarjo, mengurus akademik dan juga mengurus kesiswaan. Dengan banyaknya tugas suami ini, maka dengan ikhlas saya membantu beliau. Tujuan saya memang hanya membantu suami. Untuk urusan mengenalkan brand ke sekolah-sekolah saya ikut terjun langsung.

Tidak hanya urusan marketing, urusan akademik seperti membuat jadwal atau menentukan siapa pengajarnya, saya kadang turun tangan. Tak jarang saya juga membantu bersih-bersih kantor. Apalagi di lokasi pertama kami, langganan banjir. Lengkap deh. Luar biasanya, karena saya tidak pernah diangkat menjadi karyawan, maka semua tugas yang saya lakukan tadi memang tidak pernah mendapatkan gaji dari lembaga. Saya hanya mendapat gaji dari mengajar. Ya, karena memang tujuan saya saat itu adalah membantu suami. That’s all.

Namun, dari sinilah saya banyak belajar, ternyata Allah menempatkan saya di situasi seperti itu tentu ada hikmahnya. Saat ini saya memahami, bisa saja karena itu saya banyak belajar memaknai arti ayat dari QS 94:5-6 yang berbunyi; dan sungguh, bersama kesulitan ada kemudahan. Sungguh, bersama kesulitan ada kemudahan.

Mungkin saat itu saya belum terlalu memahami makna ayat ini. Dan Allah memberikan beberapa pengalaman yang membuat saya selalu belajar memahami ayat-ayat-Nya. Melalui kemudahan yang diberikan Allah, maka salah satu investor yang memang tahu banget bagaimana kami mengelola bimbel ini, mengajukan ke pusat agar saya diangkat menjadi karyawan. Tahun berganti, kami pun mengelola bimbel ini kurang lebih 13 tahun. Dan alhamdulillah, saat kami kelola bimbel ini mendapatkan siswa lebih dari 1200.

Pertolongan Ramadan

Selang waktu 13 tahun itu, tentu banyak sekali tantangan yang kami alami. Mulai dari tantangan eksternal seperti kompetitor bimbel lain yang juga ingin eksis dan banyak siswanya. Juga  tantangan internal dari kami sendiri. Untuk tantangan internal inilah justru yang sangat kuat kami rasakan. Saya dan suami mulai tidak harmonis. Sering kali masalah kantor terbawa ke rumah dan menyebabkan kami sering bertengkar. Belum lagi kebijakan-kebijakan dari pusat yang tidak sejalan dengan ide-ide kami.

Jika ini didiskusikan sampai rumah, tak jarang sering menimbulkan pertengkaran antara saya dan suami. Kendala terbesar adalah saat mengambil rapor anak saya, yang rankingnya 5 besar dari bawah. Ya, ranking anak saya 5 besar dari bawah. Saya berusaha menyukseskan anak-anak yang kami berikan pengajaran di bimbel yang kami kelola, namun saya seolah abai terhadap tanggung jawab dan amanah yang dititipkan Allah pada saya. Ya, saya abai terhadap Ananda saya sendiri. Semoga Allah mengampuni saya.

Keinginan kuat untuk kembali ke fitrah saya menjadi istri dan ibu bagi anak-anak kami ini semakin kuat menggelora. Sehingga saya berkeinginan untuk resign dari pekerjaan saya. Orang pertama yang melarang saya resign adalah suami saya. Jika rata-rata para suami menginginkan istrinya berada di rumah, tapi suami saya malah melarang saya resign. Mungkin karena suami saya tahu, bagaimana saya all out dalam ikut membesarkan dan menancapkan brand perusahaan. Suami saya memahami etos kerja saya. Tapi saya tidak bisa terus menerus mengabaikan anak-anak saya.

Setelah melalui proses diskusi yang panjang dan dengan diiringi drama-drama yang ada, akhirnya suami merestui saya untuk resign. Maka setelah saya menuntaskan semua pekerjaan saya dalam satu tahun ajaran itu, maka saya pun menyampaikan perihal pengunduran diri saya ke lembaga pusat di Surabaya. Dan saat itu proses pengunduran diri saya tidak dikabulkan. Saya tidak diperkenankan keluar, tapi lembaga pusat mulai mencari-cari kesalahan yang mungkin dilakukan suami dan saya.

Saya masih ingat betul, tanggal 1 Ramadan, awal puasa di mana semua orang lagi khusyuk menjalankan perintah Allah ini, saya dan suami mendapat panggilan dari pusat untuk menemui direktur wilayah timur.  Saat menghadap inilah, ternyata bukan saya menerima surat pengunduran diri, namun saat itu, 1 Ramadan saya dan suami diberhentikan oleh lembaga. Namun, saya bangga kepada suami saya, tidak ada gurat kecewa di wajahnya, padahal kami berusaha untuk selalu memberikan yang terbaik buat lembaga.

Banyak keuntungan yang sudah dinikmati oleh para investor namun kami justru dikeluarkan. Sikap legowo pada suami saya ini yang membuat saya bangga dan terharu padanya. Kami keluar dari ruangan itupun masih dengan tersenyum. Di BMM, saya hanya bisa menuliskan status alhamdulillah ‘alaa kulli hal, segala puji bagi Allah atas semua keadaan. Beruntung, kami dikeluarkan pada saat bulan Ramadan.

Seperti tertolong Ramadan, kami tidak terlalu sedih atas keadaan yang menimpa kami. Justru di Ramadan ini kami bisa sangat merasakan nikmatnya beribadah. Merasakan nikmatnya saat airmata ini bercucuran. Merasakan nikmatnya kedekatan emosional yang saya rasakan antara saya dan suami dan kedekatan emosional antara saya dan anak-anak. Kami merasakan nikmatnya bagaimana bergantung sepenuhnya kepada Sang Pemilik diri ini. Sungguh, bersama kesulitan ada kemudahan.

Ujian Datang

Namun, kendala yang kami hadapi tidak cukup sampai di sini. Entah bagaimana kejadian sebenarnya, tiba-tiba suami saya terlibat masalah keuangan. Selama 13 tahun saya mengelola bimbingan belajar, fokus saya adalah siswa. Saya tidak pernah tahu masalah keuangan. Tiba-tiba saja kami berdua kembali dipanggil untuk menuntaskan masalah keuangan. Saat itu saya menjelaskan secara detil apa-apa yang saya ketahui tentang permasalahan keuangan. Beberapa kali rapat saya dan suami berdua selalu diundang. Namun, lama kelamaan, saya justru tidak diperkenankan mendampingi suami.

Bahkan salah satu investor jelas-jelas menentang keberadaan saya di ruangan yang sama dengan suami. Sempat ia bilang; “Jika Bu Farida berada dalam ruangan ini, saya nanti yang keluar Pak. Bapak pilih saya atau Bu Farida,” ungkapnya pada sang owner. Tentu saja owner memilih suami dan praktis saya tidak diperkenankan mendampingi suami selama proses menyelesaikan masalah keuangan. Rentetan rapat yang terus menerus dihadapi suami sendirian.

Hingga suatu hari itu, perasaan saya sungguh tidak enak. Mengatasi perasaan yang tidak enak ini, saya menelpon ibu untuk di doakan agar saya dan suami segera bisa menyelesaikan masalah ini. Namun, benar-benar hari itu, saya sangat galau. Berkali-kali saya telepon suami tidak direspon, saya SMS tidak di balas. Entahlah, susah sekali menghubungi beliau. Dan sampai malampun suami belum juga pulang. Saya semakin kuatir. SMS terakhir saya saat itu bilang; Ayah, jika ayah dipaksa menandatangi sesuatu, jangan mau!

Sungguh, perasaan saya tidak enak saat itu. Pukul setengah sebelas malam, suami saya baru sampai rumah. Saat sampai rumah, beliau menunjukkan sesuatu kertas yang ditandatangani olehnya di atas materai. Saya baca selembar kertas itu dengan perasaan campur aduk. Selesai membacanya, seperti disambar petir, dan saya tidak bisa menahan emosi saya. ambil menangis dan teriak, saya teriak kepada suami; Goblok sampeyan Yah!!! Lapo sampeyan tandatangan koyok ngene???” (Bodoh, Anda Yah!!! Kenapa Anda tandatangan seperti ini???). Sambil terus nangis, saya teriak karena menyesali tindakan yang dilakukan suami saya.

Ya, sungguh saya tidak bisa menahan emosi saya. Saya marah, kesal, sedih, dan semua perasaan yang tidak bisa saya kenali bercampur saat itu. Ya, saya hanya bisa marah dan kesal. Bagaimana tidak, dalam kondisi terintimidasi suami saya menandatangai sebuah surat pernyataan bahwa ia memiliki hutang kepada lembaga sebesar Rp 779 juta lebih. Saya shock. Astaghfirullah. Semalam saya hanya bisa menangis.

Keesokan harinya, saat itu saya dimintai tolong mengajar ke SMAN 1 Sidoarjo, karena guru kimianya lagi umroh. Saya menggantikannya. Di sela-sela mengajar, entah kenapa air mata ini tiba-tiba menetes saja. Saya tidak kuasa membendungnya. Bayangkan, hanya dalam semalam, tiba-tiba sekarang kami memiliki hutang Rp 779 juta. Saya pasrah. Hanya bisa nangis. Saya tinggalkan kelas, saya langsung ke masjid sekolah. Saya salat Duha sembari menangis sepuas-puasnya. Saya betul-betul pasrah. Saya tidak tahu bagaimana cara membayar hutang yang dibebankan kepada kami.

Panggilan Baitullah

Dalam tangis saya itu, saya benar-benar merasa nol. Tidak ada kekuatan. Tidak ada kemampuan. Saya hanya bisa pasrah, total. Kami pun berdiskusi lagi, bagaimana menyelesaikan masalah ini. Bahkan saya sudah berangan-angan akan melepas beberapa aset seperti rumah dan mobil untuk bisa mengembalikan hutang tiba-tiba itu. Bahkan, kami dibantu seorang pengacara untuk menyelesaikan masalah kami. Dan sungguh, bersama kesulitan ada kemudahan. Di saat kami terjepit seperti ini, pertolongan Allah datang.

Allah mengundang kami berdua ke Baitullah. Ya, kami berdua berangkat umroh. Masalah belum selesai, namun seolah-olah Allah bilang ke kami; ayo, datanglah ke rumah-Ku, jadilah tamu-Ku. Maka berangkatlah kami berdua untuk menunaikan ibadah umroh. Kami berangkat ini dalam kondisi kami tidak memiliki uang. Bahkan untuk sangu keperluan sehari-hari saat di sana baru kami dapatkan H-1 pemberangkatan. Saya diminta mengisi seminar, dan uang itulah yang digunakan untuk sangu.

Berangkatlah kami menjadi tamu Allah untuk menunaikan ibadah umroh. Subhanallah walhamdulillah, saya merasakan kebahagiaan yang luar biasa saat pertama kali sujud di masjid Rasulullah. Air mata ini tak henti-hentinya menetes saat berada di sana. Saya pasrah total kepada Allah. Saya sudah tidak memiliki upaya apa-apa. Saya hanya ingin Allah mengampuni dosa-dosa saya. Ya, mungkin sudah terlalu banyak dosa yang saya lakukan, sehingga Allahpun memiliki cara agar saya bisa kembali kepada-Nya. Ampuni saya ya Robb.

Di Makkah, saya tak kuasa membendung air mata ini. Saya meminta kepada Allah agar kami dianugerahi hati yang ikhlas dalam mengarungi kehidupan ini. Dianugerahi anak-anak yang soleh, yang ikhlas dalam ketaatan. Saya hanya bisa berharap kepada Allah untuk menyelesaikan masalah-masalah yang kami hadapi. Di rumah Allah ini, seolah-olah kami dipaksa untuk menundukkan kepala sejajar dengan kaki. Kami harus menaklukkan ego kami. Kami harus menanggalkan proses berpikir, bagaimana cara menyelesaikan problem kehidupan.

Sungguh, saat itu kami benar-benar belajar bahwa otak dan segala potensi kita bukanlah yang membuat kita keluar dari masalah. Justru kepasrahan total yang bisa kami lakukan. Dan kami benar-benar menyerahkan keputusannya kepada Allah. Hanya satu yang kami yakini saat itu, kami menerima utang-utang dan berjanji melunasinya dalam rangka membersihkan diri. Kami resapi Hr Bukhori no 1472 tentang harta; sesungguhnya harta itu hijau dan manis. Maka barang siapa mengambilnya dengan jiwa yang mulia, dia akan mendapatkan keberkahan padanya. Dan barang siapa mengambilnya dengan jiwa yang tamak, dia tidak diberkahi padanya dan bagaikan orang yang makan tetapi tidak pernah merasa kenyang.

Sungguh, bersama kesulitan ada kemudahan. Ya, saya semakin sadar kekuatan ayat ini. Ma’al itu bermakna bersama. Jadi bersama kesulitan ada kemudahan yang sudah disediakan Allah untuk kita. Namun, terkadang kita, saya terutama, seringkali merasa, bahwa yang menyelesaikan masalah harus kita. Beban itu harus kita yang menanggung. Acapkali berusaha menyelesaikan namun, tidak sesuai syariat bahkan tak jarang malah lari dari agama untuk sekadar menghilangkan sementara beban yang ada.

Kita lupa ada Allah, Sang Pemilik Solusi Terbaik. Kita lupa mendekat dalam ketaatan. Semoga kasih sayang Allah senantiasa bisa kita rasakan baik dalam suasana suka maupun duka. Benar kata Sayyidina Umar bin Khattab, bukan keadaan susah atau senang yang aku risaukan, tapi keadaan jika aku tidak bisa berdoa lagi. Beranr, kemudahan dari Allah kami rasakan saat itu. Persis satu tahun, kami bisa melunasi utang-utang. Allah selalu mendatangkan rezeki dari arah yang tidak terduga.

Bahkan di saat yang sama, kami bisa membangun kos-kosan. Subhanallah walhamdulillah. Maha Suci Allah dan segala puji bagi Allah. Setelah kami melunasi hutang-hutang, selang satu bulan ada investor pemilik ruko menawarkan kepada kami untuk menggunakanya sebagai bimbingan belajar. Kami sekarang mulai merintis kembali bimbingan belajar Edusmart Indonesia. Semoga Allah meridoi ikhtiar kami. Dan sungguh, bersama kesulitan ada kemudahan. Sungguh, bersama kesulitan ada kemudahan. (naskah: Farida Yunita Sari (*)-diambil dari buku Otot Kawat Balung Wesi/editor: Heti Palestina Yunani)

(*) Perempuan kelahiran Surabaya, 17 Juni 1976 ini menyelesaikan kuliahnya di Universitas Airlangga Surabaya tahun 1998. Ibu dari dua orang anak yang mengawali karirnya di salah satu bimbingan belajar skala nasional di Surabaya dari awal sudah sangat menggemari dunia usaha dan dunia parenting. Sekarang Farida Yunita Sari SSi, CHt CNLP ini ingin mengembangkan Bimbingan Belajar Edusmart Indonesia. Ia yang lebih dikenal dengan panggilan Bunda Farida ini memiliki cita-cita agar seluruh anak Indonesia mencintai belajar. Ia yang mempelajari Teknologi Otak mendapatkan sertifikasi Internasional dari National Federation Neuro Linguistic Programming (NFNLP) di Florida, USA. Profil pengurus IPEMI (Ikatan Pengusaha Muslimah Indonesia) Jawa Timur ini  pernah ditulis di Biografi Wanita Pilihan Jawa Timur 2010. Penulis buku HypnoLearning (1 Menit Bikin Gila Belajar dan Siap Juara) ini juga sering memberikan motivasi di kota-kota di Indonesia. Business owner di Bimbingan Belajar Edusmart Indonesia ini juga mengelola perwakilan Lembaga Analisa Sidik Jari, Fingerprint Consulting Surabaya dan Sidoarjo. Saat ibu dari putra kembar Daffa Kurnia Nurfirdaus dan Daffi Kurnia Nurfirdaus ini, beruntung suaminya Edi Nurhayadi, selalu mensupport dan menemani kegiatannya. (fingerprintconsultingsby@gmail.com)