Tak Henti Rindui ‘Dua Wajah’ Ubud

Suara kul-kul, hamparan sawah, gemersik angin, dan bale bambu di teras penginapan adalah surga bagi seorang penulis seperti saya. Sementara kawan saya yang menginap di Legian berteriak di ujung telepon: “Ngapain ke Ubud? Ubud kan cocoknya buat honeymoon!” Ya, seperti kawan saya tersebut, biasanya para wisatawan Nusantara menolak ketika disodori destinasi Ubud. Mereka lebih suka hingar-bingar Kuta, Legian dan pusat perbelanjaan atau suasana pantai yang riuh dengan suara ombak.

Berbeda dengan para bule, Ubud adalah magnet yang terus menyeret mereka datang dari seluruh penjuru dunia, hingga keheningan yang selalu saya rindukan agak mengalami pergeseran. Ubud, pun menasbihkan saya sebagai orang asing di negeri sendiri. Para wisatawan asing mendominasi nyaris 90 persen pelancong yang memenuhi penginapan di sini. Pelancong Nusantara yang ada, biasanya tidak betah berlama-lama di Ubud.

Maklum, tidak ada hiburan yang buka sampai pagi seperti di Kuta atau Legian. Peraturan adat Ubud memutuskan, pukul 11.00 malam semua suara harus hening. Kafe, resto atau pusat hiburan yang tersebar di pusat kota Ubud, harus dihentikan. Pertanyaannya; lalu kita bisa melakukan apa? Jawabnya hanya satu; berwisata dengan diri sendiri, memesrai hening, di mana waktu seolah berhenti berputar dan kita adalah sosok yang larut dalam keheningan itu.

Saya termasuk golongan anomali yang betah berlama-lama di Ubud. Hanya duduk di teras guest house seharga Rp 350 ribu per malam sambil memangku laptop, saya bisa bertahan seharian hingga lapar memaksa saya untuk beranjak. Biasanya saya menyewa sepeda motor dengan tarif Rp 50 ribu/hari. Dengan motor itu saya leluasa berkeliling persawahan, perkampungan penduduk, mencari kafe di bukit atau di tepi jurang.

Kadang saya bersepeda ke Monkey Forest dan menggelar tikar hingga tertidur. Tentu saja di daypack saya selalu ada buku dan notes untuk mencatat hal-hal yang perlu. Saat lain, galeri lukisan dan seni pahat yang tersebar di seluruh penjuru kota saya sambangi satu persatu. Berkeliling Museum Antonio Blanco dan menikmati lukisannya dengan hanya puas memandang, karena membelinya adalah sebuah kemustahilan.

Sesekali saya bermotor ke persawahan, duduk di tepian jalan, memandang hamparan padi dan sepi yang menyertainya. Atau melesat ke Tegal Alang, sebuah kawasan  handicraft yang hanya 10 menit ditempuh dari pusat Kota Ubud. Sebuah cafe di ujung kawasan Tegal Alang selalu menjadi target saya, Kampung Cafe namanya. Selain menu  nasi campur-nya enak, harganya tidak terlalu membuat pening.

Harap dimaklumi, pengunjung mayoritas bule membuat harga-harga di Ubud agak mengkhawatirkan kocek wisnu seperti saya. Kalau beruntung, para pengunjung cafe bisa menyaksikan atraksi panjat kelapa dengan kaki telanjang. Keistimewaan lain cafe ini, posisi bangunan berlantai dua di tepian jurang, membuat kita bisa menikmati hidangan sambil memandang terasering dan bukit di seberang.

Malam hari, saya menggilir tempat-tempat pementasan tarian yang ada di Puri Ubud dan beberapa lokai lain yang tiap lokasi pentas menarik tiket Rp 60.000/orang. Dua jenis tarian yang selalu tampil adalah : Ramayana dan Kecak dance. Atau jika sedang bosan dengan tarian, saya hanya menikmati live music di cafe sambil menghisap frapio green tea atau semacamnya. Dan jika kantong tebal, saya menuju spa yang tersebar di sepanjang kawasan Ubud.

Harganya mulai dari Rp 165 ribu untuk pelayanan body spa selama 2 jam. Saya pun tidak perlu khawatir menyusun bajett selama tinggal di Ubud, asal kita tahu celah-celahnya. Penginapan tersedia sesuai kondisi kantong mulai dari Rp 200.000 hingga 8 juta. Anda pilih yang mana? Saya cukup pilih yang murah tetapi kondusif untuk menulis. Sementara itu, bagi pelancong yang menyukai aktivitas adventure, ada rafting di Sungai Ayung atau bersepeda dengan rute sesuai kebutuhan: down hill atau up hill.

Karena saya mencari keheningan, saya memilih kesendirian dan kesenyapan. Tetapi Ubud adalah sebuah tubuh dengan dua wajah yang kontradiktif. Di  dalam hotel yang tenang, atau kawasan dalam, suasana seperti sebuah surga yang begitu senyap. Namun begitu Anda melangkahkan kaki di jalan raya, pemandangannya segera berubah 180 derajat. Suasana tenang dan hening segera tergantikan oleh kemacetan di wilayah pusat kota Ubud.

Mulai dari Monket Forest, Art Market, Jl Hanoman adalah kawasan pusat art shop dan cafe yang selalu hiruk. Jalanan kecil tanpa areal parkir menjadikan semua kendaraan bertumpuk di tiga kawasan tersebut.  Otomatis kendaraan berlalu lalang hanya dengan satu jalur saja. Tak jarang, hanya untuk berputar seseorang saja butuh waktu hingga 30 menit. Jalur lalu lintas di Ubud memang dibuat one way.

Tujuannya agar tidak ada pertemuan kendaraan yang makin menyulitkan kondisi lalu lintas di kawasan rawan macet tersebut. Namun percayalah, wajah hiruk-pikuk di jalan raya Ubud tersebut bisa membuat Anda kapok kembali ke Ubud. Tetapi begitu Anda melesak ke dalam kawasan penginapan, atau melangkah lebih dalam ke perkampungan, Ubud telah kembali berganti wajah.

Menjadi pertapa yang tak sanggup dibangunkan oleh kejahilan para raksasa. Itulah alasan saya mengapa saya selalu dan selalu kembali ke Ubud. Dan rasa rindu laksana seuntai benang yang senantiasa menarik saya perlahan. Seperti lelaki perkasa dengan pundak kekar tanpa kata-kata, menyediakan tempat paling nyaman untuk saya rebah di sana. (naskah dan foto: Wina Bojonegoro/hpy)