Ditemani Elang Tiram ke Ujung Timur

Road Trip Nekat Mengeksplorasi Selatan Indonesia (10)

Perjalanan riang turun dari Tambora berakhir pada pukul 16.00 saat kami berdua sampai di desa. Hari itu saya bahagia sekali, mengingat kembali kejadian gigihnya teman dalam menyemangati saya mencapai puncak.

10-Preman Jalanan SumbawaSemalam lagi saya beristirahat di homestay sebelum melanjutkan perjalanan ditutup kehangatan kopi Tambora dan keramahan orang-orang Desa Pancasila. Paginya, ayam menjadi alarm pagi untuk kembali berkemas melanjutkan perjalanan menuju destinasi yang menjadi target perjalanan Eksplorasi Selatan Indonesia yang saya tempuh selama 29 hari.

Si Jangkrik –motor saya- terus berjuang mempertahankan daya tempuh setiap medan jalan dengan membawa beban yang tidak sedikit. Beruntungnya belum ada kendala signifikan sampai saat itu selain habisnya minyak rem yang mengakibatkan rem ‘blong’. Perjalanan kembali menempuh jalur yang sama saat menuju Gunung Tambora melalui Celebai dan tiba di Cabang Banggu.

Selama perjalanan tidak henti saya tersenyum akan keindahan alam Indonesia ini. Terlebih dalam perjalanan kali ini saya ditemani dan disambut oleh seekor elang tiram. Cukup lama dia menemani perjalanan saya, meskipun dia berada di udara tetapi begitu terasa dia menemani perjalanan saya.

10-Bongkar Muat SapeKota selanjutnya yang saya singgahi adalah Dompu, dengan terik panas maksimal pada pukul 12.00 saya menyempatkan mengisi perut. Lalu perjalanan saya lanjutkan menuju ujung Timur Sumbawa menuju Pelabuhan Sape. Medan perjalanan yang meliuk-liuk menjadikan saya harus berkonsentrasi penuh dan mawas, padahal panas terik biasanya menyebabkan kantuk saat mengemudi.

Tiba di Bima saya tidak menyempatkan untuk melihat-lihat kota besar di Sumbawa ini dengan pertimbangan penyeberangan ke pulau lain akan semakin jarang. Sampai di Pelabuhan Sape pada pukul 16.00, ternyata penyeberangan ke Sumba sudah terlewat tadi pagi pada hari itu.

10-Pelabuhan SapeSaya tanya kapan penyeberangan ke Flores. Ternyata ada pada malam hari. Khawatir tidak dapat memenuhi target waktu dan mendekati Ramadan, saya putuskan untuk menyeberang ke Flores terlebih dahulu. Itu lebih baik daripada harus menunggu penyeberangan ke Sumba tiga hari kemudian.

Kondisi Pelabuhan Sape begitu mengenaskan, jauh dari kata layak dan aman seperti pelabuhan sebelumnya. Pelabuhan dipenuhi preman-preman yang berkumpul. Saat ada kapal yang bersandar dari Sumba-Sumbawa menuju Flores (kapal yang akan saya gunakan), para penumpang begitu tidak beraturan.

Sempat terjadi keributan antara warga yang membawa kuda dari atas kapal dengan polisi kehutanan yang bertugas di pelabuhan tersebut. Masalahnya, tidak ada surat kepemilikan kuda yang dibawa oleh penumpang kapal tersebut. (naskah dan foto: Geraldine Fakhmi Akbar/editor: Heti Palestina Yunani/bersambung)