‘Ditampar’ Nasi Tempong dan Sego Cawuk

Lima Makanan nge-Hits Banyuwangi (2)

Kemarin sudah mbadog rujak soto, rujak cemplung dan kikil kesrut. Namanya aneh tapi yahud to? Nah kali ini dua makanan ini juga hanya ada di Banyuwangi. Jangan ragu icip-icip karena Didi Domba (DOyan MBAdog) sudah membuktikannya. Apa saja?

Nasi Tempong

1716487samballl1780x390Ini lho menu yang bikin penasaran sejak zaman dahulu kala. Makanya waktu kaki ini menjejak di Bumi Blambangan, nasi tempong menjadi target tembak untuk dicicipi. Harus! Di antara sekian banyak penjual, Didi Domba menjatuhkan pilihan ke Nasi Tempong Mbok Nah di kawasan Kertosari karena tempat ini buka hingga jam 12 malam. Antrean lumayan panjang, urat sabar pun harus dikendorkan.

Tapi penantian ini terbayar dengan porsi nasi tempong yang sangat besar dan lauknya banyak.  Dhuaaaarrr porsi yang ngalah-ngalahin nasi Padang! Kata “tempong” berarti tampar. Ini cocok untuk menggambarkan sambal pada nasi tempong yang pedasnya nampol alias nampar. Nasi putih hangat yang lumayan banyak tak nampak, tertutup bayam rebus, dua potong tahu goreng, dan telur dadar yang lebar memenuhi piring karena menggorengnya menggunakan minyak super panas sehingga telur mengembang.

Didi memesan lauk tambahan berupa pepes ikan super pedas atau sering disebut pelas. Pilihan lauk lumayan banyak kalau datang tidak terlalu malam, dari dadar jagung, ikan laut, hingga ayam goreng. Tak ketinggalan sambal tomat mentah pedas nampol yang lumayan banyak. Beberapa warung lain ada yang menggunakan sambal kacang dengan rasa kencur yang dominan. Namun, apa pun jenis sambalnya, yang pasti pedasnya level tak terbatas, sehingga menu ini tidak disarankan bagi Anda yang tidak suka makanan pedas.

Suwer, nasi tempong ini enak banget, apalagi untuk Didi Domba yang maniak pedas. Sayang, selain karena siangnya sudah makan banyak, porsi nasi tempong Mbok Nah ini terlalu besar. Cocoknya bagi mereka yang benar-benar kelaparan. Tapi tetap enak kok nyatanya jempol ini ikhlas-ikhlas saja kasih bintang 4 untuk makanan ini. Dan jangan kaget ya empat piring nasi tempong ditambah tiga gelas es teh dan satu gelas es temulawak hanya menghabiskan Rp 54 ribu!!! (****)

Sego Cawuk

0811213img-20160331-075912-picsay780x390 Setelah tidur nyenyak semalaman dengan perut kenyang, tiba saatnya Didi Domba balik kandang. Tapi masih ada satu menu sarapan khas Banyuwangi yang harus diburu, yaitu sego cawuk. Menu sarapan ini kebanyakan muncul jam 6-10 pagi. Kata ‘cawuk’ diambil dari bahasa Osing yang artinya makan sambil ‘dicawuk’ atau makan menggunakan tangan.

Menu ini sederhana. Nasi disiram kuah dari parutan kelapa muda dan jagung muda yang dibakar. Yang membuat rasanya istimewa adalah kuah pindang khas Banyuwangi. Kuah ini dimasak dengan cara gendam, yaitu sedikit gula pasir dipanaskan di wajan lalu diberi air dan dibumbui daun salam, lengkuas, dan garam. Rasanya unik. Yang jelas enak.

Harga juga bersahabat, antara 8-15 ribu, tergantung lauk yang dipilih. Porsinya juga pas untuk sarapan, tidak terlalu kenyang tapi cukup untuk jadi bahan bakar beraktivitas hingga siang. Empat bintang deh untuk sego cawuk. (****)

Kesimpulan dari jelajah kuliner di Banyuwangi adalah siapkan kondisi perut yang sehat, tahan kecut dan pedas, karena dua rasa ini dominan di masakan-masakan khas daerah ini. Bagi yang alergi ikan laut, siapkan antihistamin di kantong obat Anda agar setelah makan enak tidak  garuk-garuk kegatalan. Yang jelas, kalau Didi Domba pamer review makanan, siapkan tisu buat elap iler yaaaaa. (naskah: Didi Domba/foto: int/editor: Heti Palestina Yunani/habis)