Diserahkan pada Ahlinya, Lalu Saya Jalan-jalan

wina-4Sesuai impian sejak kecil, traveling adalah sebuah bara. Ibarat orang melihat peta, saya ingin masuk ke dalam noktah-noktah itu bukan sekadar membaca, tapi melebur di dalamnya. Traveling bukan hanya packing, terbang, update status, upload foto.  Itu namanya  perjalanan dinas. Traveling adalah menikmati perubahan udara, membaui detak jantung sebuah kota, mencatat hal-hal detail yang luput dari perhatian, menikmati sudut sederhana yang menyimpan dialek berbagai irama.

Semenjak memutuskan berhenti dari sebuah BUMN yang telah menghidupi saya lebih dari seperempat abad, saya menemukan ‘jalan sesat’  untuk  bersenang-senang.  Seperti  ditimbun rejeki dari langit, tiba-tiba saja saya mendirikan tour organizer yang saya beri nama PADMA, nama tokoh dalam novel saya ‘The Souls’. Dari bisnis inilah saya berkeliling menjelajahi Nusantara. Sebenarnya ini membingungkan, hobi saya jalan-jalan yang menimbulkan bisnis? Atau bisnis yang melengkapi hobi saya kelayapan?

wina-5Sampai-sampai  beberapa eks teman kantor  berkomentar: dia menemukan dunianya, seperti ikan menemukan air. Jalan-jalan tanpa mengabadikannya dalam cerita dan foto itu sebuah dosa!! (kata saya). Bagaimana tidak? Indonesia ini kaya, indah, kalau hanya didatangi sekadar untuk narsis, alangkah sayang. Kita tahu begitu banyak anak negeri ini membuang devisa untuk membayar tiket pesawat keluar negeri hanya untuk nge-cap paspor.

Sementara di negeri sendiri, ada 17.504 pulau yang masing-masing memiliki aneka ragam budaya dan kekayaan alam. Well, kita bahkan sering mengunjungi negeri tetangga yang hanya sebuah pulau dan tidak memiliki apa-apa selain persewaan gedung dan belanja-belanja. Kekayaan Indonesia inilah yang pernah saya rekam dalam sebuah majalah (agar tidak mudah dibuang).  Jadi, setiap orang yang membaca tergerak untuk wisata Nusantara. Sekarang majalah itu beralih bentuk sebagai online traveling magazine.

Bukankah wisata adalah bagian dari bentuk rasa syukur kita kepada Allah SWT atas penciptaan alam semesta, negeri secantik Indonesia? Tetapi, cita-cita harus dibangun berdasarkan realitas. Mimpi keliling Nusantara itu  berpotensi makan waktu. Sementara,  saya masih harus mengelola Padma Tour Organizer dengan tangan saya sendiri.  Kedua, saya harus membesarkan bisnis penerbitan dan literasi yang masih bayi, PADmedia.

wina-1Meski bayi, sudah banyak buku yang diterbitkan termasuk buku saya yang ke-9 Mozaik Kota Kenangan. Juga Hidup Ini Indah Beib hingga dua seri, dan Kamus Kecil tentang Cinta. Selain itu, saya punya target pribadi; menulis novel tetralogi dan beberapa novel cinta-cintaan yang setting-nya harus yang bikin pembaca ngiler sengiler-ngiler-nya. Terakhir bersama Sol Amrida, saya mendirikan Kedai Kreasi 2015 lalu, sebuah tempat makan dan minum yang menampung segala minat pada dunia seni.

wina-2Akhir tahun 2016 ini, saya sudah siap meluncurkan satu bisnis lagi yang sedang dirintis. Jadi bagaimana  menyelesaikan ini semua di saat usia saya sudah 22 + 30 (di tahun 2016) ini dong? Ya satu-satunya cara untuk merengkuh semua mimpi itu adalah; menyerahkan salah satu kepada ahlinya.

Syukurlah, saya dipertemukan dengan banyak yang ahli di bidangnya seperti Vika Wisnu di penulisan, fotografer Rizal Tobat, Mamuk Ismuntoro atau Agung Sapto Utomo, editor Didi Cahya, desainer grafis Alex Subairi, tour leader pintar berbahasa Inggris Lathifah Ambarwati, tim saya yang hebat suami istri Gita Pratama dan Nawi Santos untuk mengurus Padma Tour Organizer. Dengan berbagai pengalaman yang dimiliki, mereka mampu membantu apa yang saya rencanakan terwujud. Saya pun bisa tenang jalan-jalan menelusuri seluruh pelosok Nusantara.

Ini sedikit pesan dari saya yang asli quote saya; hidup itu bukan mengalir seperti air. Tapi mengalir ke arah yang ditentukan, setia pada tujuan. Nikmati setiap langkahnya. (naskah dan foto: Wina Bojonegoro/editor: Heti Palestina Yunani)