Disambut Semburat Senja Plawangan Sembalun

Road Trip Nekat Mengeksplorasi Selatan Indonesia (4)

Tiga orang yang saya temui menjelang pendakian Gunung Rinjani itu juga baru bertemu. Masing-masing dari Bandung, Bekasi, dan Surabaya. Setelah saya tanya apakah saya bisa bergabung dalam pendakian, mereka bersedia.

Sebab ada beberapa perlengkapan yang mereka tidak bawa sementara saya membawanya lebih. Pagi buta saya dan kawan-kawan baru siap di pos pendakian untuk mendaftar. Lalu kami menyewa mobil untuk potong kompas waktu pendakian hingga pintu rimba dengan target berkemah di Plawangan Sembalun.

Perjalanan begitu saya nikmati dengan jalur yang saya masih ingat betul meski ada beberapa perbedaan dengan empat tahun lalu. Sampai di Pos 1 ternyata kawan saya dari Bekasi bermasalah dengan otot di pahanya. Maka kami berhenti dan beristirahat lebih sering dari sebelumnya.

4-Dari Tanjakan Penyesalan
View dari Tanjakan Penyesalan

Kami tiba di Pos 2 pukul 12. Kami putuskan untuk makan siang terlebih dahulu. Tapi kaki kawan saya ini pun tidak kunjung sembuh, hingga sampai di Pos 3 pukul 4 dan diputuskan untuk berkemah di sana karena jalur setelahnya itu Tanjakan Penyesalan. Jadi tidak memungkinkan otot kaki kawan saya ini dipaksakan.

Selesai sarapan dan saya tanyakan kesanggupannya, ternyata dia masih menyanggupi. Ransel pun bertengger kembali di pundak dan kaki mulai mengayun mengawali tujuh punggungan Gunung Tanjakan Penyesalan.

Hasilnya sama saja, ternyata kawan saya ini masih mengerang kesakitan setiap beberapa waktu. Tekad dan niat dia memang kuat untuk meneruskan padahal kentara kondisi kakinya sudah tidak memungkinkan.

4-Lembayung senja di Plawangan Sembalun, Gunung RinjaniPerjalanan pun diteruskan dan akhirnya tiba di Plawangan Sembalun sekitar pukul 14.00. Ini cukup lama untuk sebuah pendakian normal. Semburat langit senja sudah mulai hadir. Tenda sudah siap dan makanan telah dilahap, saatnya menikmati sunset yang elok di atas Plawangan Sembalun.

Seluruh pendaki sibuk menikmati indahnya sunset­. Terbenamnya matahari merupakan tanda untuk segera istirahat dan  tidur karena target bangun untuk mendaki dan mendapatkan sunrise di puncak itu pukul 01.00.

4-Pemandangan Pagi Desa Sembalun
Pemandangan pagi di Desa Sembalun

Kawan dari Bekasi ini pun tetap ‘keukeuh’ dengan kemampuannya dan ingin mendaki puncak Dewi Anjani. Selesai mengisi perut dengan sarapan ringan, pendakian pun dilanjutkan menuju puncak. Beberapa medan pasir lembut tidak menghalangi ‘summit attack’ kami.

Ketiga kawan ini memang pertama kali melakukan pendakian di Rinjani sehingga tidak terlihat wajah lelah atau kehabisan tenaga, termasuk kawan dari Bekasi itu. Sampai pukul 04.00 kawan saya dari Surabaya mulai tertinggal.

Kami bertiga memutuskan untuk tetap melanjutkan perjalanan karena kondisi yang dingin dan angin besar. Pertimbangannya karena kami bisa berangkat dengan beberapa rombongan lain, dan kawan saya dari Surabaya tetap bersama rombongan itu. (naskah dan foto: Geraldine Fakhmi Akbar/editor: Heti Palestina Yunani/bersambung)