Disambut Langit Biru, Disapa Private Beach

Eksplorasi Sumba (1)

sumba 1 Ada istilah tak kenal maka tak sayang. Tapi meski tak kenal pun saya sudah sayang pada Sumba. Itulah kenapa saya memutuskan pergi mengeksplorasi Sumba yang sudah banyak dibicarakan indahnya. Benar lah itu. Terik matahari dan langit biru tanpa batas sudah menyambut kedatangan saya di tanah Sumba saat burung besi yang saya tumpangi mendarat dengan mulus di Bandara Tambolaka, Waikabubak (Sumba Barat Daya).

Sumba sendiri sebenarnya mempunyai dua bandara utama yang terletak di Sumba Barat Daya dan Sumba Timur. Saya memutuskan untuk memulai petualangan ini dari Sumba Barat Daya. Begitu sampai saya amati Bandara di Waikabubak ini tampaknya telah dipugar dengan beberapa fasilitas standar. Tak lama menunggu, bagasi saya pun keluar karena memang siang itu hanya satu pesawat yang landing. Simple deh.

sumba-mario hotelDi luar area pengambilan bagasi, terdapat beberapa hiasan yang menonjolkan ciri khas Sumba dan tulisan dengan “Welcome to Sumba.” Ah, akhirnya saya bertemu Sumba. Kedatangan saya telah ditunggu oleh utusan pihak Mario Hotel, tempat saya menginap selama di Sumba Barat Daya. Oh ya, demi menikmati Sumba dengan nyaman, saya menggunakan jasa sewa mobil di tempat saya menginap selama berada di Sumba.

sumba-restoran marioAdalah Andre, sopir dari Mario Hotel yang membawa saya dengan mobil Isuzu Panther langsung ke Mario Hotel. Enaknya, hotel itu terletak di area Pantai Mananga Abba atau yang dikenal dengan nama Pantai Kita. Selama perjalanan menuju Mario Hotel pandangan dihiasi padang savana yang memang ciri khas Sumba. Tak lupa pula tampak kuda-kuda Sumba yang gagah.sumba 10 kuda liar

Satu hal yang juga banyak dijumpai di Sumba Barat Daya ini adalah kubur batu yang selalu ada di setiap rumah warga yang masih sangat tradisional. Terkadang saya melihat rumah warga itu hanya beratap rumbia, berpagar bambu dan berlantai tanah. Selain menunjukkan kesederhanaan, itulah sekaligus budaya lokal yang begitu kuat tertanam di Sumba.

Setelah melalui perjalanan selama kurang lebih 20 menit, saya tiba di Mario Hotel yang ternyata berlokasi sangat strategis. Dari sanalah saya bisa melihat matahari terbit sekaligus terbenam yang terletak tepat di area Pantai Kita. Mario Hotel berlantai dua dengan masing-masing kamar menghadap ke area Pantai Kita. Kamarnya sangat terawat dengan fasilitas yang baik. Asyiknya, area hotel pantai masih tergolong sepi sehingga saya serasa seperti private beach.

Saya tak berlama-lama di hotel, karena ingin bergegas mengeksplorasi alam Sumba Barat Daya. Sebelum datang, dari informasi katanya Sumba menyimpan banyak hal indah yang belum terjamah tangan manusia. Saya buktikan langsung dengan mengajak Andre menuju tempat wisata terdekat, Kampung Adat Retenggaro. Untuk menuju kampung adat tersebut, saya harus menempuh jalan darat dalam waktu kurang lebih dua jam dari pusat Kota Tambolaka. (naskah dan foto: Yenny Fyfy/editor: Heti Palestina Yunani/bersambung)