Disambut Jus Nanas Bario di Ulung Palang

Sukses Membuang  Stress di Bario Highlands (1)

bario8-menari bersama sebelum berpisahbario8-david (Kuala Lumpur) ikut menariTak terasa ini malam terakhir menjelang kami pulang. Malam itu setelah membersihkan diri dan makan, kami berkesempatan berbincag dengan Scott. Sambil menyeruput kopi, berbagai macam cerita berhasil didapat dari Scott, guide sekaligus pemilik homestay yang kami tinggali, Ngimat Ayu.

Ada cerita Pesta Nukenen Bario atau “Bario Food Festival” yang berlangsung diakhir Juli hingga awal Agustus. Sayang saat saya datang festival ini sudah lewat. Dari foto-foto yang saya lihat, festival ini merupakan surga bagi pecinta kuliner di mana makanan lokal yang jarang keluar muncul di festival ini termasuk pertunjukan tradisi dan budaya.

Biasanya seluruh penduduk dari berbagai rumah panjang akan hadir di sini untuk merayakan kebahagiaan di Nukenen. Meski bukan di festival, makan malam kami sedikit menghadirkan yang khas. Sebagai foodie amatir, mencoba berbagai jenis makanan yang unik adalah hal yang menyenangkan.

Orang Kelabit kabarnya pandai mengolah hasil alam untuk menjadi makanan. Segala jenis nabati dan hewani mampu diproses jadi makanan yang menarik untuk dicicipi. Dari beberapa makanan yang popular saya dikenalkan dengan labo belatuh atau daging asap.

bario8-menu makan siangDagingya diambil dari binatang hutan seperti babi hutan atau rusa. Setelah dipotong tipis, daging direbus, dipipihkan lalu diasinkan dan diasapi, mirip dendeng. Cara menikmatinya bisa dengan digoreng lalu dinikmati dengan nasi Bario yang super lezat.

Selama di Bario saya mencoba makan sayuran dari hutan lokal seperti pakis merah (meedin), tepus, lanau, bunga kantan, daun ubi sungai dan terung pipit. Sayuran segar ini dimasak dengan berbagai cara sehingga menghasilkan rasa yang unik dan berbeda.

Nah garam Bario buatan orang Kelabit tadi digunakan dalam setiap masakan sehingga menghasilkan rasa yang gurih meski tanpa penyedap buatan. Pada malam terakhir di Bario, kami di undang ke rumah panjang lain bernama Ulung Palang.

bario8-makan siang (1)Di sini kami dijamu masakan tradisional Kelabit dan suguhan pertunjukan tradisional. Saat kaki baru saja melangkah masuk, kami disambut sang tuan rumah dengan pakaian adat penuh warna. Di tangan mereka membawa jus nanas Bario yang terkenal manis, yang ditempatkan di wadah yang terbuat dari nanas utuh.

Makan malam makin nikmat karena disajikan di lantai beralaskan tikar. Kami duduk melingkari makanan tradisional yang diletakkan di bagian tengah. ada tumis pakis sungai, sambal teri kelabit, ayam kukus jahe santan dalam daun, tumis bayam ladang (tengayen) dan tumis asparagus lokal (lanau) dengan ikan teri.

bario8-nanas barioSebagai makanan penutup, ada bubur Kelabit atau kikid dan nubu laya yang mirip lontong namun dibungkus daun kelapa. Terakhir dari semuanya, disajikanlah nanas Bario atau bua kabar yang sangat manis dan paling enak dari berbagai nanas yang pernah saya coba.

bario8-makan siang (2)Konon kabarnya setiap nanas ini dibawa keluar Bario maka rasanya akan menjadi asam. Jadi Anda harus mencobanya langsung di Bario. Selesai makan, sembari berbincang kami dihibur dengan tarian Kelabit. Gerakannya terlihat mudah. Ada yang dilakukan solo ada yang dilakukan berkelompok.

bario8-menari ditemani sapeMusik yang mengiringi berasal dari permainan tunggal sejenis gitar tradisional Dayak bernama sape. Suaranya yang mendayu-dayu ditambah gerakan gemulai para wanita yang menirukan gerakan burung dengan tambahan atribut bulu burung enggang.

bario8-wanita kelabitSedangkan prianya menari dengan gerakan berputar turun naik namun dengan gerakan yang lebih tegas. Biasanya tamu yang datang boleh ikut menari dan dipinjami baju adat serta atributnya. Penari wanita akan mengajak pria yang menonton untuk ikut menari dengan cara memakaikan baju adat ke pria yang diinginkan untuk diajak.

Pertunjukan ini membuahkan tawa karena beberapa dari kami memang tidak bisa menari dan terlihat sangat kaku. Saat pertunjukan ini berakhir maka seluruh tamu diajak menari bersama mengelilingi ruangan dengan gerakan seperti mengepak-ngepakkan sayap.

Melihat keakraban kami malam itu, saya benar-benar bahagia sempat bertandang ke Bario Highlands. Meski sebentar, namun upaya saya membuang stress di ketinggian Sarawak itu sukses. (teks dan foto: Dony Prayudi/editor: Heti Palestina Yunani/habis)