Dinasti Jenggot Merah Penguasa Granada

Selamat Tahun Baru Hijriah dari Andalusia (1)

Berkesempatan ke Andalusia saya tak sekadar ingin melancong. Tapi saya sekaligus update tentang sejarah yang terkait tentang peristiwa hijrah yang datang 11 September 2017. Kebetulan juga sedang saya tapak tilasi dari sudut pandang yang lain, yaitu dari sudut pandang sejarah peradaban Islam di Andalusia.

Andalusia saat ini meliputi portugal dan bagian barat Spanyol. So, because I’m in the place where the history happened, maka validitasnya lebih bisa dipertanggungjawabkan. Bicara tentang hal itu, perlu kita ketahui bahwa sejarah Islam di Andalusia membentang selama lebih dari 700 tahun.

Jadi lebih panjang dari tiga kali usia negara Amerika Serikat, atau lebih lama dari sepuluh kali usia Republik Indonesia. Selama itu pula ada ratusan generasi dari puluhan dinasti. Kadang antar dinasti saling bersuksesi, kadang saling bersatu padu melawan kerajaan kerajaan Kristen di wilayah Timur.

Tapi sering juga saling beraliansi, bersekutu, dengan kerajaan Kristen tersebut untuk berperang antar kesultanan muslim sendiri, bahkan sekalipun yang terhitung masih bertalian darah. Selama tujuh abad itu pula Islam di Andalusia mengalami pasang surut.

Itu terhitung sejak awal Thariq bin Ziyad (Taric el Tuerto) mendarat di Spanyol pertama kali di Bukit Thariq atau Jabal Thariq yang kini namanya adalah Gibraltar. Selain datang, Thariq juga menaklukan Malaga, Sevilla, Cordoba, Valencia, Salamanca, Toledo, sampai jauh ke timur ke Barcelona. Tetapi di akhir cerita panjang itu umat Islam harus terusir dari bumi Andalusia, selama lebih dari 400 tahun.

Lalu apa hubungannya dengan peristiwa hijrah? Dinasti Islam terakhir yang berkuasa selama dua ratus lima puluh tahun di Granada, -sisa wilayah Andalusia yang diperintah oleh umat Islam di abad 13 sejak umat Islam memerintah sejak abad 8-, adalah Dinasti Nasriyah.

Dinasti ini disebut juga Dinasti Al Ahmar karena pendiri dinasti ini dikenal dengan nama Al Ahmar (merah) karena memiliki jenggot merah. Maka dari itu di Granada, kota atau citadel yang dibangunnya di kaki Bukit Sierra Nevada (bukit rembulan) disebut Madinat Al Hambra. Nama Al Hambra diambil dari kata Al Hamra yang artinya kota yang kemerahan.

Nah, Dinasti Nasriyah ini adalah keturunan dari Sa’ad bin Ubadah. Sa’ad bin Ubadah ini adalah pangeran dari Suku Khazraj di Yatsrib. Pada zaman Nabi Muhammad SAW hijrah ke Yatsrib, dengan ikhlas seluruh hak kepemimpinan politik atas Kota Yatsrib atau kelak disebut Kota Madinah diserahkan oleh Sa’ad kepada Nabi SAW.

Yatsrib notabene adalah suku pendatang yang terbuang dari sukunya, semata-mata karena iman dan Islamnya mengalahkan ambisi duniawinya sebagai pangeran. Meskipun pada saat Rasulullah SAW wafat Sa’ad bin Ubadah sempat menolak kepemimpinan Abu Bakar dan Umar. Alasannya Sa’ad menganggap sukunyalah yang paling berjasa menolong Nabi ketika beliau hijrah.

Tetapi ternyata keturunannyalah yang akhirnya menjadi pengembang peradaban Islam paling gemilang di Andalusia selama dua setengah abad. Selama dipimpin oleh keturunan Pangeran Madinah itu pula Islam di Eropa mencapai titik puncak peradaban yang gemilang. Padahal saat itu Eropa pada umumnya secara kontradiktif justru berada di dasar era kegelapan. (naskah dan foto: M Atoillah Isvandiari/editor: Heti Palestina Yunani/bersambung)

Teks foto: Di tempat inilah Muhammad XII menangis memandang Alhambra untuk terakhir kalinya. Dari kejauhan adalah citadel atau Kota Madinat Al Hambra.