Dihibur Keturunan Kesultanan Tidore di Raja Ampat

Raja Ampat, Warisan Papua untuk Dunia (1)

raja-ampat-2Tepat ketika warna merah keunguan bersemburat di langit, perahu fiberglass yang kami tumpangi merapat perlahan di sebuah dermaga kecil di Waisai, ibu kota Raja Ampat; kota kecil yang ada di Pulau Waigeo. Raungan mesin tempel Yanmar seketika berhenti. Dan segalanya menjadi sunyi.

Tak ada suara apapun kecuali kecipak air yang memukul dinding-dinding perahu kayu yang berjajar di tepi dermaga. Burung-burung kecil bercericit dan terbang kian-kemari. Kemudian hinggap di pucuk pepohon yang ada di pulau terpencil yang bagai tak berpenghuni.

Rasanya waktu berlalu begitu cepat. Masih terbayang saat berada dia atas kapal, dua jam selepas berlayar dari Pelabuhan Mina di Sorong, Papua Barat; kapal yang kami tumpangi berputar-putar di tengah Lautan Pasifik karena sang nahkoda sempat kehilangan arah.

Untungnya, cuaca sedang sangat bersahabat dan laut amat tenang, nyaris tak beriak. Rasanya, kami seperti baru saja memasuki dunia yang lain, dan bukan dunia yang kami tinggali sebelumnya―setelah menempuh perjalanan pesawat dari Surabaya-Makassar-Sorong.

Setelah berjalan kaki lumayan jauh, akhirnya, sampailah kami di sebuah penginapan. Kurang pantas untuk disebut hotel, walaupun bertarif wow: Rp 500 ribu per malam. Padahal dengan merogoh kocek yang sama, Anda bisa mendapatkan kamar di hotel bintang empat di Surabaya.

Esok harinya, kami bangun lebih pagi dari biasanya. Padahal, hampir semalaman saya terus  terjaga―sulit terlelap karena udara sangat panas. Matahari belum benar-benar merah ketika saya bersama dua teman duduk-duduk di atas dermaga untuk menikmati pemandangan yang menakjubkan.

Beratus-ratus ikan berenangan di bawah permukaan laut yang jernih. Kami bisa melihatnya dengan jelas tanpa harus snorkeling atau menyelam. Lalu kami melangkah di pantai yang berpasir putih. Keindahan laut yang indah dan menawan. Biro-biro wisata itu ternyata tidak berbohong.

Keindahan laut Raja Ampat sama indahnya dengan gambar-gambar yang ditayangkan di situs-situs mereka. Raja Ampat bagaikan surga yang tersembunyi di bumi. Kata Wikipedia, Raja Ampat merupakan habitat hidup bagi 1.511 spesies ikan, 700 jenis moluska, dan 540 jenis terumbu karang yang terindah di dunia.

Di tanah dan laut kabupaten yang terdiri dari 4 juta hektar yang dibentengi 600-an pilar pulau, termasuk empat yang terbesar: Waigeo, Batanta, Salawati, dan Misool (Batanme). Bahkan, menurut laporan The Nature Conservancy dan Conservation International, sekitar 75 persen spesies laut dunia bisa ditemukan di kepulauan yang menakjubkan ini.

raja-ampat-3Sepanjang perjalanan, kami terhibur oleh keramahan masyarakat Raja Ampat. Mereka merupakan keturunan Kesultanan Tidore yang ramah. Senyum senantiasa menghiasi wajah-wajah mereka ketika berpapasan di jalan.

Selain keramah-tamahannya, masyarakat Raja Ampat juga mewarisi jiwa bahari Kurabesi, Kapitan Waigeo; pelaut yang memimpin ekspedisi untuk menaklukkan tiga wilayah Raja Ampat pada tahun 1453 M di masa kejayaan Kesultanan Tidore, dan kerajaan-kerajaan di kawasan Maluku sebelum Malaka jatuh ke tangan Portugis tahun 1511. (naksah: pad/foto: net-Eermaula Aseseang/editor: Heti Palestina Yunani)