Dibuat Tertegun di Dalam Air

Raja Ampat, Warisan Papua untuk Dunia (2)

Menyelam di Raja Ampat rasanya harus. Sesaat setelah berada di bawah air, saya merasa kembali menjadi anak kecil; yang sangat kegirangan karena mendapatkan sebuah mainan baru.  Anda bayangkan, seorang anak berusia 3-4 tahun, dibawa masuk orangtuanya ke sebuah toko mainan, “Ayo, pilih satu yang kamu suka!” Dan si anak kebingunan memilih karena semuanya bagus.

Itulah yang saya rasakan saat itu. Sebab keindahan terumbu karang di Raja Ampat benar-benar menakjubkan; sama indahnya dengan gambar pemandangan bawah laut yang saya lihat di internet. Saya sempat tertegun di dalam air.

Untuk beberapa saat, saya tidak bereaksi dengan kamera saya. Untunglah saya belum kehilangan kesempatan untuk mengambil gambar ketika rombongan ikan tuna melintas tepat di depan saya. Meski di hari itu kami kurang beruntung; tidak sempat bertemu dengan mantaray. Saking tertegunnya di dalam air, butuh waktu agak lama untuk menyadari bahwa ini nyata. Bukan ilusi.

Bagi penghobi wisata pantai, Raja Ampat menjanjikan lebih. Jika Anda sudah menjelajahi semua pantai di Pulau Bali, penghobi wisata pantai harus mengambil paket berlibur ke Raja Ampat. Tapi perlu saya ingatkan, Raja Ampat terbilang tempat wisata yang cukup jauh ditempuh dari mana pun juga. Terkecuali bila saat ini Anda tinggal di Papua.

Sarana transpotasi ke sana masih cukup terbatas. Keterbatasan itulah yang menjadikannya wisata yang mahal. Bahkan, bisa Anda bayangkan, barangkali sama mahalnya dengan berwisata ke Eropa. Selain mesti merogoh kocek dalam-dalam, Anda mesti memperhatikan kesiapan fisik. Sebab menyelam, berjalan dan mendaki membutuhkan kondisi tubuh yang prima.

Dan jangan sekali-kali membayangkan Raja Ampat itu seperti Bali. Wisata ini sama-sekali bukan lokasi yang sesuai untuk tujuan wisata massal. Apalagi Pemda setempat melakukan pembatasan jumlah wisatawan. Salah satunya dengan menerbitkan peraturan pembatasan jumlah resor dengan tidak mengizinkan pendiriannya hingga 10 tahun ke depan. Semua itu semata-mata untuk menjaga kelestarian Raja Ampat.

Turis datang ke Raja Ampat bukan hanya untuk menyelam. Ada sebuah kawasan primadona, yakni, menikmati panorama keindahan alam dari puncak bukit di Kepulauan Wayag. Perjalanan ke sana sangat jauh, dan hanya bisa ditempuh dengan 3 jam perjalanan kapal cepat.

Di Kepulauan Wayag, wisatawan dikenakan retribusi Rp 250 ribu untuk wisatawan domestik, dan Rp 500 ribu untuk wisatawan asing. Sebagai gantinya, mereka akan mendapatkan sebuah medali; tanda telah ikut serta dalam program konservasi.

Raja Ampat mewakili seluruh keindahan Papua. Selain alam bawah laut, terdapat beragam fauna unik seperti cenderawasih botak, cenderawasih merah, maleo waigeo dan kus-kus. Untuk jenis flora, ada beragam jenis anggrek―sambil menjelajahi kawasan hutan yang masih perawan.

raja-ampat-4Raja Ampat juga menyediakan aneka ragam hidangan makanan laut. Makanan khas pulau ini adalah sup ikan kuning yang enak disantap setelah menyelam. Walaupun terdapat banyak kios yang menjajakan suvenir, seperti: patung Asmat, kain tradisional, suling, dan tambur atau alat perkusi tradisional. Namun, sebelum membeli, pikirkanlah bagaimana cara Anda membawanya pulang.

Bulan September-Mei adalah waktu ideal berwisata ke Raja Ampat. Dan sebaiknya, jangan ke sana pada Juni-Agustus karena musim angin kencang. Ketinggian ombak bisa mencapai 4 meter, sangat membahayakan keselamatan Anda saat menempuh perjalanan laut. Satu lagi yang perlu Anda ingat, Anda harus membawa kamera bawah laut, sunblock, dan krim anti nyamuk untuk menghindari gigitan nyamuk malaria. (naksah: pad/foto: net/editor: Heti Palestina Yunani)