Di Makassar Pakai Buras, Di Banjar Ada Supnya

Tujuh Soto yang Indonesia Banget (3)

Duh sudah lima soto yang kita bahas, rasanya kok ya semua enak. Yang dua terakhir ini dua soto yang di luar Jawa. Apa itu?

6. Coto Makassar

cotoIni favorit Didi! Aneka jerohan berkuah kental nyampur di sini, disiram kuah berkaldu trus ditaburi daun bawang. Enak puooolll. Eh, tapi kental kuahnya kok beda dengan kuah soto lainnya, ya? Setelah Didi investigasi, ternyata kuah kaldu ini berasal dari air cucian beras. Lhaaaa lak tenan toh, pasti ada yang beda dalam pembuatannya.

Jadi gini, daging direbus dengan air cucian beras bersama jahe, serai, lengkuas, dan daun salam. Jerohan seperti hati, jantung, dan limpa direbus dengan air biasa, terpisah. Nah, air rebusan daging ini jangan dibuang karena bakal dibumbui dengan bumbu soto pluuus ulegan kacang goreng halus. Owalaaah lha pantas kalau rasanya beda dengan soto Nusantara lainnya.

Makan Coto Makassar itu paling enak pakai buras, semacam lontong tapi gurih karena berasnya dimasak dengan santan. Wuih Didi kalau makan coto di warung langganan sering malu lho pas bayar. Soalnya, cotonya cuma semangkuk, tapi burasnya bisa sampai 6!

Hihihi buras ini juga enak dimakan bareng sambal tauco yang biasanya jadi pelengkap coto Makassar. Jadi wajar Didi makan buras sampai berbungkus-bungkus, pertama kandungan karbohidratnya diperlukan, ke dua Didi butuh cemilan. Burasnya juara, cotonya endes, so bintangnya lima! (*****)

7. Soto Banjar

soto-banjarSoto Banjar adalah salah satu soto Nusantara yang terkenal sampai ke daerah lain. Bagi Didi, soto Nanjar yang biasa ditemui di Jawa bisa dibilang camilan jika dibandingkan dengan soto Madura atau Lamongan yang nasinya sak bajeg. Tapi begitu Didi makan di Banjarmasin tempat asalnya, hembwoook ternyata porsinya besar! Isinya komplit, dari ketupat, soun, suwiran daging ayam, irisan telur itik rebus, dan kuah soto putih yang gurihnya didapat dari susu.

Bumbu rempahnya kuat, dari jahe, pala, lada, kayu manis, cengkeh, hingga kembang sisir. Sangat cocok untuk menghangatkan badan. Ada pengalaman lucu, waktu pesan di kampung halaman Soto Banjar Didi pernah ditanya, “Handak pesan soto kah sup?” (Mau pesan soto atau sup?, red). Didi tengok daftar menu di kain tenda warung: Sedia Soto Banjar, kenapa dia nawarin sup juga?

Ternyata itu istilah untuk pilihan ketupat atau nasi. Kalau soto + ketupat, namanya soto Banjar. Kalau soto + nasi, namanya sup. Dhueeeng. Mau yang the best? Sempatkan bangun pagi-pagi mengejar Soto Banjar di pasar apung. Rasakan sensasi kelezatannya sambil diayun ombak Sungai Mahakam. Soto ini juara! So, bintangnya lima ya! (*****)

Wuih nulis soto-sotoan gini aja Didi sudah kenyang, ingat pas menikmatinya di kota asal masing-masing. Soto memang Indonesia banget. Jangan lupa, masih ada soto Bandung dan soto Padang yang harus diicipi. Soto Bandung yang berkuah bening, lumayan unik karena menggunakan irisan lobak tipis dengan taburan kacang kedelai yang renyah dan gurih.

Soto Padang juga menggunakan irisan lobak selain daging, terus irisan paru goreng dan kerupuk merahnya menghasilkan sensasi ‘kriuk-kriuk’ saat dimakan. Masih banyak lagi soto lokal yang belum dikenal, seperti soto Using dari Banyuwangi atau soto Tongkol dari Madura. Jadi tujuh soto ini masih kurang. Semuanya dijamin endes bembes gulindes (naskah: Didi Domba/foto: int/editor: Heti Palestina Yunani/habis)