Di Lamongan Berkoya, Di Kudus Minimalis

Tujuh Soto yang Indonesia Banget (1)

Buat Didi Domba, tak ada teman yang tepat di musim hujan maupun kemarau, sahabat di kala sehat maupun sakit sesempurna soto. Soto ada di seluruh penjuru Nusantara, meski nama dan jenisnya berbeda-beda. Bumbu inti soto itu memang hanya bawang putih dan merica, tapi beda daerah beda rempah. Ada yang ditambah kunyit, ada yang pakai pala, cengkeh, kembang sisir, sesuai daerah masing-masing. Yuk, sini, sini! Icip-icip 7 soto Nusantara sama Didi.

soto-lamongan 1. Soto Lamongan

Ini soto hotel. Iya, soto ayam di hotel-hotel biasanya memakai genre soto Lamongan. Yang masih misterius, kenapa kalau bikin soto Lamongan di rumah, rasanya beda dengan yang biasa dijual tukang soto langganan. Padahal bumbunya sama. Isiannya juga sama; telur rebus, soun, dan kubis iris.

Ternyata. rahasia enak dan gurihnya soto Lamongan itu ada pada kuahnya yang dilengkapi ulegan daging bandeng atau kepala udang. Now the secret’s revealed. Truuus, pembeda soto Lamongan dengan soto-soto lainnya adalah ‘koya’. Aslinya, koya terbuat dari sangraian kelapa. Pada perkembangannya, pembuatan koya dipermudah tanpa mengurangi kegurihannya.

Bahannya pakai kerupuk udang yang sudah digoreng ditumbuk halus bersama bawang putih goreng. Hmm jika PADmakers suka soto berkuah kental, tambah saja koyanya. Tapi jangan kebanyakan, bisa-bisa nanti sotonya berubah jadi bubur koya, hahaha. Bintang empat! (****)

2. Soto Kudus

soto-kudus Soto minimalis ini sangat cocok bagi PADmakers yang nggak suka kuah kental yang bikin eneg. Kenapa minimalis? Karena bumbunya sangat sederhana, hanya bawang putih dan merica, namun kekayaan rasa didapat dari kaldu ayam dan bawang putih goreng yang dijadikan taburan luar biasa.

Kesederhanaan rasa soto ini diimbangi aneka lauk pendampingnya: tempe goreng, perkedel, aneka sate, dari sate telur burung puyuh, daging ayam, jerohan, dan kerang. Isian Soto Kudus bisa daging sapi atau ayam. Tapi anehnya, kalau cari di Kota Kudus langsung, yang ada hanya soto daging kerbau!

Usut punya usut, ini berhubungan dengan sejarah masuknya Islam di Kudus. Sunan Kudus sangat menghargai agama yang dominan dianut warga Kudus waktu itu yaitu Hindu. Sapi adalah hewan yang disucikan umat Hindu, sehingga Sunan Kudus meminta warga Kudus mengganti daging sapi dengan daging kerbau sebagai bentuk toleransi. Btw, menurut Didi sih sotonya bintang tiga, tapi lauk pauknya bintang lima. So bintang empat untuk soto Kudus yaaa. (****) (naskah: Didi Domba artinya Didi Doyan Mbadog/foto: int/editor: Heti Palestina Yunani/bersambung)