Di Hyang by Retno Fitriyanti

Perjalanan ini serupa pelarian untukku. Setelah sekian tahun terasa terpenjara oleh setumpuk tugas dan laporan kerja yang tidak ada habisnya, kali ini aku membulatkan tekad untuk mengambil cuti yang menjadi hakku. Masa bodoh dengan bos yang nyinyir dan tugas-tugas yang terbengkalai.

Roda Pahala Kencana berlari kencang meninggalkan terminal Rawamangun. Malam di Jakarta tak pernah lengang. Jalan raya masih saja dijejali bermacam jenis kendaraan yang memuntahkan asap dan debu. Kota Metropolitan memang tidak pernah tidur meskipun bulan sudah tidak malu-malu lagi menampakkan wajahnya.

Satu per satu penumpang bus mulai terlelap, padahal bus belum lama meninggalkan terminal. Pahala Kencana tujuan Wonosobo malam ini cukup ramai. Mungkin karena libur cukup panjang, banyak orang yang memanfaatkannya untuk liburan atau pulang kampung mengunjungi keluarga.

Setelah browsing di internet, aku memutuskan untuk mengunjungi Dieng, sebuah dataran tinggi di Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Wonosobo. Nama Dieng berasal dari bahasa Kawi: Di yang berarti tempat dan Hyang yang berarti dewa. Menurut salah satu situs yang aku baca, di sana banyak terdapat kawah dan telaga indah. Selain itu juga tidak memerlukan budget yang bisa menguras dompet backpacker seperti aku.

Aku lirik casio di tangan kiriku, sudah pukul sembilan malam lewat sedikit. Aku mencari roti di ranselku dan menyantapnya dengan lahap. Bus berpendingin ini membuat perutku gampang lapar. Untung saja sepulang kerja tadi aku sempat mampir ke mini market untuk membeli roti dan cemilan untuk bekal di perjalanan.

Tanpa aku sadari, ada sepasang mata memperhatikanku, gadis kecil berjaket kuning yang duduk di samping jendela sebaris denganku. Aku coba tersenyum ramah dan menawarinya roti, dia menggeleng lalu melemparkan pandangan ke luar jendela. Aku melanjutkan makan. Diam-diam gadis kecil itu mencuri pandang ke arahku lagi. Kali ini aku menawarinya keripik kentang. Tangan mungilnya hampir meraih keripik kentang yang aku tawarkan sebelum akhirnya diurungkan karena sebuah suara, “ Hayo, gak boleh gitu ah.“

Si ibu yang awalnya tertidur di sebelah gadis itu tiba-tiba terbangun dan menegurnya.

“Maaf ya, Mas, Ninis memang suka begitu,“ lanjut si ibu.

“Enggak apa-apa kok Bu, ambil saja, kebetulan saya bawa banyak,“ kataku sambil menyodorkan sebungkus keripik kentang ke arah gadis kecil yang kemudian kuketahui bernama Ninis.

Ninis tampak meminta persetujuan dari ibunya sebelum tangan mungilnya meraih sebungkus keripik kentang lalu membukanya dan memakannya. Si ibu geleng-geleng kepala. “Ayo, bilang apa ke Om?“ tegur si ibu.

“Terima kasih,“ jawab Ninis singkat sambil asyik mengunyah keripik kentang. Aku tersenyum mendengarnya.

Ada pemandangan menarik pada Ninis. Sekilas tampak rambutnya sedikit berbeda dengan rambut anak-anak pada umumnya. Sebagian rambut Ninis ada yang gimbal, mengingatkanku pada rambut seorang penyanyi reage legendaris Bob Marley. Karena penasaran, aku memberanikan diri bertanya kepada ibunya.

Menurut penuturan si ibu, sejak lahir rambut Ninis tumbuh gimbal. Kemudian rambut itu dipotong saat selapanan atau upacara cukur rambut bayi. Tiba-tiba dua hari kemudian Ninis demam. Saat sang bayi berusia enam bulan, si ibu kembali mencukur rambut anaknta yang masih tumbuh gimbal. Lagi-lagi, Ninis kembali jatuh sakit. Banyak orang menduga sakitnya Ninis karena rambut gimbalnya itu dicukur. Meskipun kedua orang tuanya tidak memercayai mitos, anehnya setelah kembali tumbuh rambut gimbal itu ikut tumbuh.

Setelah itu kedua orang tua Ninis tidak berani mencukur rambut gimbalnya. Suatu hari datang kerabat ayah Ninis dari Wonosobo. Kerabat itu mengatakan bahwa pernah ada di keluarga mereka dulu berambut gimbal. Kerabat itu bercerita, menurut kepercayaan para pemangku adat masyarakat Dieng, anak-anak yang berambut gimbal merupakan “titipan” dan ada makhluk gaib yang mendampinginya. Agar mereka selamat dan terbebas dari malapetaka mahluk gaib itu, anak-anak berambut gimbal harus mengikuti ruwatan potong rambut. Setelah anak-anak itu diruwat dan semua persyaratan dipenuhi, rambut mereka tidak akan tumbuh gimbal lagi.

Konon anak berambut gimbal yang berjenis kelamin laki-lakimerupakan titisan Eyang Agung Kala Dete. Sedangkan bila berjenis kelamin perempuan merupakan titisan Nini Ronce Kala Prenye. Anak-anak itu diyakini sebagai titipan anak bajang dari Ratu Samudera Kidul.

Selain rambut gimbalnya yang unik, Ninis juga seperti memiliki indra keenam. Banyak kejadian mistis dialami kedua orang tua Ninis. Ketika berusia setahun, pernah suatu malam Ninis menangis tak berhenti. Kedua orang tuanya sampai panik. Akhirnya dia dibawa ke tetangga yang seorang bidan. Menurut bidan itu, Ninis tidak sakit. Keesokan harinya, saat pulang kerja, ayah Ninis membawa kabar buruk. Ayah Ninis di-PHK karena perusahaannya melakukan pengurangan karyawan. Pernah juga Ninis menangis semalaman ternyata tidak lama kemudian Pakde Ninis yang di Wonosobo meninggal dunia. Lalu, ketika berusia empat tahun, Ninis mengalami kecelakaan cukup parah. Motor rusak parah. Ayah Ninis mengalami patah tangan dan ibu juga mengalami luka cukup serius. Bagaimana Ninis? Dia selamat tanpa luka sediki tpun. Masih banyak lagi kejadian yang sepertinya tidak logis.

Oleh sebab itulah, orang tua Ninis membawanya pulang ke Wonosobo untuk mengikuti ruwatan pemotongan rambut gimbal. Ibunya berharap, setelah diruwat rambut Ninis tumbuh normal dan gadis mungil itu bisa menjadi seperti anak-anak kebanyakan.

Aku terkesima mendengar cerita ibu Ninis. Antara percaya dan tidak. Sementara, Ninis yang menjadi bahan pembicaraan telah terlelap. Nyenyak. Ternyata, malam telah larut dan Pahala Kencana masih berlari cukup kencang. Aku pamit kepada ibu Ninis untuk tidur.

Mataku masih terasa berat ketika secara tiba-tiba terdengar Ninis berteriak dan melenyapkan rasa kantukku. Mungkin anak itu bermimpi buruk. Bukan hanya aku yang mendadak terbangun, tapi hampir seisi bus mendadak menjadi riuh dan saling bertanya. Pak sopir yang juga terkejut lalu memperlambat laju bus dan tidak lama kemudian terdengar suara ledakan. Bus oleng hingga menabrak pembatas jalan.

Ternyata ban kiri belakang bus pecah. Untunglah sopir bisa menguasai bus sehingga tidak sampai terguling dan mengalami kecelakaan parah. Penumpang segera berhamburan keluar menenangkan diri. Sementara kru Pahala Kencana mengganti roda bus, para penumpang yang memenuhi trotoar menunggu dengan cemas takut perjalanan mereka tidak bisa sampai tujuan.

Aku mendekati Ninis dan ibunya, bertanya mengapa tadi Ninis tiba-tiba berteriak sebelum kejadian ban bus pecah. Rupanya Ninis sudah merasakan akan terjadi sesuatu terhadap bus, namun ia tidak tahu bagaimana cara memberitahukan kepada pak sopir. Terkadang Ninis dapat melihat bayangan atau merasakan perasaan yang aneh tiba-tiba sebelum suatu peristiwa terjadi.

Butuh waktu satu jam lebih untuk mengganti ban bus dan membereskan segala sesuatunya. Setelah memeriksa keadaan bus dan penumpang, perjalanan dilanjutkan. Selain ban pecah dan bumper yang sedikit penyok, tidak ada kerusakan vatal. Meskipun masih diliputi ketakutan, penumpang segera mengisi kursi kosong. Pahala Kencana kembali melaju membelah sepertiga malam.

Karena kajadian ini, rasa kantukku menguap. Padahal, aku baru dua jam memejamkan mata. Karena hari masih gelap, tidak banyak pemandangan di luar jendela yang bisa dinikmati selain deretan rumah atau gedung yang disinari lampu. Aku mencoba menutup mata berusaha menyambung kembali tidurku yang terputus.

Suara azan subuh memaksaku kembali membuka mata. Bus perlahan memasuki pelataran parkir sebuah rumah makan. Penumpang dipersilakan untuk salat dan sarapan bagi yang ingin sarapan, atau sekadar ke toilet dan meluruskan kaki. Setelah salat subuh, aku memilih tidur-tiduran di beranda musala. Masih terlalu dini untuk sarapan.

Setengah jam berlalu, perjalanan kami berlanjut kembali. Matahari masih malu-malu. Geliat kehidupan mulai terasa. Nuansa metropolitan berganti dengan kesederhanaan pedesaan. Selamat datang di Kabupaten Wonosobo, demikian bunyi tulisan yang terpampang  di gapura. Pahala Kencana terus melaju hingga berhenti di Terminal Wonosobo pukul tujuh pagi, terlambat dua jam dari waktu yang seharusnya.

Untuk mencapai Dieng, aku harus melanjutkan perjalanan menggunakan angkot. Jarak tempuh Wonosobo—Dieng sekitar dua jam. Aku memutuskan untuk mengisi perut sebelum melanjutkan perjalanan.

“Om…,” sebuah suara mengejutkanku. Ternyata Ninis.

“Ada apa, Nis? Ibumu mana?“ tanyaku keheranan. Ninis menunjuk ke arah ibunya yang sedang menunggu bersama seorang pria di atas sepeda motor. Pakde Ninis, rupanya.

“Hati-hati sama bunga mawar ya, Ninis gak suka,“ katanya lagi lalu berlari menghampiri ibunya sambil melambaikan tangannya ke arahku.

Aku semakin bingung dibuatnya. Belum sempat aku menanyakan maksud perkataannya, Ninis sudah naik sepeda motor dan berlalu dari hadapanku. Aku mencoba mereka-reka arti perkataan Ninis. Semakin dipikirkan semakin aku berpikiran buruk tentang hal-hal yang akan terjadi padaku, kok seperti mendahului kehendak Tuhan. Kutepiskan semua pikiran buruk itu. Ninis mungkin hanya asal bicara. Kita memang harus berhati-hati dengan bunga mawar. Karena, meskipun indah dan harum baunya, bunga mawar berduri. Jika kita ceroboh, durinya bisa melukai.

Setelah perut terisi aku langsung naik angkot menuju Dieng. Tidak terlalu lama menunggu, angkot terisi penuh. Rupanya karena hari libur banyak orang ingin berlibur ke Dieng. Aku lalu teringat cerita ibu Ninis. Besok ada upacara ruwatan pemotongan rambut bagi anak-anak berambut gimbal di Dieng. Mungkin upacara itu juga menjadi salah satu daya tarik bagi wisatawan.

Karena kurang tidur semalam di bus, pagi ini aku menguap berulang kali. Tidak perlu menghitung domba hingga sepuluh, aku sudah terlelap. Tahu-tahu seorang bapak mengguncang-guncangkan tubuhku. Sudah sampai, ternyata. Rupanya aku tidur nyenyak sepanjang perjalanan. “Maaf, Pak,“ kataku malu-malu lalu membayar ongkos angkot.

Penginapan di Dieng lumayan banyak. Namun, rata-rata semua penginapan sudah penuh. Tetapi, aku beruntung masih ada penginapan yang memiliki kamar kosong. Meskipun kamarnya kecil, penginapan itu cukup strategis. Dekat dengan warung makan dan kawasan wisata Candi Arjuno.

Setelah membersihkan tubuh, aku langsung memanfaatkan waktuku untuk melihat-lihat sekitar. Sebelumnya aku  harus membeli tiket terusan untuk dapat melihat Candi Arjuno, Dieng Plateau Theater, Telaga Warna, dan Kawah Sikidang.

Meskipun acara ruwatan baru digelar esok hari, suasana Candi Arjuno sudah ramai pengunjung—baik wisatawan lokal maupun mancanegara. Aku langsung sibuk ber-selfieria mengabadikan kunjunganku. Seorang gadis yang cukup manis memperhatikan tingkah lakuku yang heboh sendiri. Ia senyum-senyum melihatku. Aku jadi tersipu malu dan salah tingkah dibuatnya.

Entah dari mana datangnya keberanian itu, tahu-tahu aku mengajaknya berkenalan. Namanya Rosi. Asal Purworejo. Rosi sengaja datang ke Dieng karena penasaran dengan ritual ruwatan anak gimbal. Rosi seorang gadis ramah dan supel. Ia juga senang berpetualang. Ini bukan kali pertamanya ia pergi seorang diri. Sebelumnya ia pernah ke Yogyakarta dan Bromo sendirian. Aku kagum dibuatnya.

Aku semakin bersemangat menjelajah Dieng karena ditemani oleh Rosi. Aku juga beruntung karena ternyata penginapan kami berdekatan. Maka, jadilah sepanjang  siang hingga malam hari kami selalu bersama-sama. Tidak lupa kami pun berjanjian untuk berangkat bersama-sama menyaksikan acara ruwatan esok paginya.

Aku tidak mengerti mengapa sikapku kepada Rosi begitu terbuka. Biasanya aku cenderung kaku bila berhadapan dengan perempuan apalagi baru dikenal. Mungkin ini yang disebut cinta pada pandanan pertama. Ah, aku tidak mau gegabah dan berandai-andai. Mungkin hanya aku saja yang ke-GR-an. Mungkin Rosi memang selalu baik dan ramah dengan semua orang. Yang jelas aku ingin malam segera berganti pagi.

” Ana kidung rumeksa ing wengi

Teguh ayu luputa ing lara

Luputa bilahi kabeh

Jin setan datan purun

Paneluhan tan ana wani

Miwah panggawe ala

Gunane wong luput

Geni anemahan tirta

Maling adoh tan ana ngarah ing kami

Guna duduk pan sirna.

Tembang Dandanggula terus dilantunkan selama prosesi pemotongan rambut gimbal yang dipimpin pemangku adat masyarakat Dieng. Menurut kepercayaan setempat, tembang macapat Dandanggula mengandung doa keselamatan bagi anak-anak berambut gimbal agar selamat dan terbebas dari malapetaka maupun makhluk gaib yang mendampinginya.

Terlihat senyum sumringah anak-anak yang berambut gimbal di atas kereta kuda. Diiringi oleh orang-orang yang mengenakan pakaian tradisional Jawa dan atraksi kesenian Angklung Tek-Tek dan Tari Rampak Yaksa yang membuat suasana  terasa begitu hikmat dan damai.

Aku dan Rosi tanpa terasa ikut hanyut di dalam prosesi ini. Mataku berusaha mencari sosok Ninis, namun kerumunan manusia yang menghalangi jarak pandangku gagal menemukannya. Ternyata cukup banyak anak-anak memiliki keunikan seperti Ninis. Tiba-tiba Rosi menepuk punggungku. Ia mengatakan ingin ke kamar kecil sebentar. Aku menawarkan diri untuk menemaninya. Dengan tersenyum manis ia menolaknya. Rosi menyakinkan aku akan kembali secepatnya. Akupun menyerah. Namun, hingga prosesi berakhir, Rosi belum menampakkan batang hidungnya.

Aku mencoba menghubungi ponselnya. Alangkah terkejutnya aku baru menyadari bahwa ponselku ternyata telah raib. Tas pinggang yang aku kenakan dirobek hingga isinya hilang termasuk ponsel, uang, kunci kamar penginapan dan power bank. Aku panik dan segera kembali ke penginapan

Setibanya di penginapan, salah satu petugas penginapan menghampiriku, mengatakan bahwa ada seorang gadis cantik menitipkan kunci kamarku. Aku semakin penasaran dan bertanya ciri-ciri perempuan itu. Ternyata memang Rosi. Aku langsung mengecek kondisi kamarku. Ranselku telah dijarah. Satu buah Galaxy Tab dan MP3 player ikut raib serta uang yang sengaja aku tinggalkan di saku ransel. Benar-banar naas nasibku kali ini. Untung saja dompetku dan kamera saku tidak ikut dijarah. Meskipun uang yang tersisa tidak banyak, cukup untuk membayar penginapan dan ongkos pulang.

Aku teringat dengan kata-kata Ninis sewaktu di terminal Wonosobo agar berhati-hati dengan bunga mawar. Bunga mawar atau rose. Mungkinkah maksudnya Rosi? Siang itu juga aku angkat kaki dari Dieng, kembali ke hutan beton tempat aku tinggal. Meski dadaku terasa sesak, setidaknya di sana aku tidak akan bertemu dengan Rosi. (naskah: Retno Fitriyanti (*)/ilustrasi: Yudi Dogol/editor: Heti Palestina Yunani)

(*) Retno Fitriyanti. TTL: Jakarta, 17 September 1977. Alamat: Jl. Tanjung Redep No. 7 Surabaya)