Di Balik Kacamata by Menur Kusuma

Pertemuan pertama adalah ketika kau mengikuti yudisium dan aku menjadi undangannya. Tidak ada yang istimewa dari pertemuan itu. Tidak saling kenal. Tapi memang penampilanmu eye-catching. Kau maju di atas panggung entah untuk menerima penghargaan apa aku tak tahu. Belakangan kau bilang, itu untuk prestasimu sebagai mahasiswa dengan predikat cum-laude. Kau pintar, itu mungkin yang tersirat dalam penampilanmu saat itu. Dan lalu aku ingat. Ketika kau maju di acara pelepasan wisudawan di angkatanmu, kau memberikan orasi kesan dan pesan sebagai perwakilan mahasiswa. Ada yang unik di balik kacamatamu yang tak biasa itu. Entah apa, tapi aku ingin mengetahuinya.

Di selasar kampus kau berlari kecil menuju parkiran, tergesa dengan jam sibukmu. Ada agenda yang terurai di balik kacamatamu. Dan kau terjadwal dengan itu. Karenanya kau sedikit tak acuh dengan sapaan beberapa mahasiswa yang lalu lalang di depanmu. Itu saja yang kutangkap dari dalam ruang akademik seketika melihatmu berlari-lari kecil. Selebihnya, aku tak menahu untuk apa kau datang, padahal kau sudah bukan warga almamatermu.

Di sebuah undangan visitasi penilaian lapangan dari almamater kita bertemu. Meski saat itu, aku tak begitu hafal siapa-siapa yang duduk selama berjam-jam di ruang meeting yang suhu ACnya membuatku nyaris beku. Ada beberapa orang yang duduk sesuai pengelompokannya di sana. Sebagian seperti reuni kecil-kecilan. Saling berbagi pengalaman, sambil sesekali tertawa membicarakan masa kuliah. Mereka adalah stakeholder, ada juga yang datang sebagai pengguna, sebagai dosen, sebagai alumni dan sebagai mahasiswa.

Aku dan beberapa jajaran yang pada akhirnya satu tim bersamamu, maju sebagai alumni. Aku tak kenal betul tim itu. Yang terlintas dalam pikirku di antara ramainya ruang meeting itu adalah, aku segera di panggil dan lalu bisa segera pulang. Sebuah karantina yang membosankan selama 7 jam di ruang mirip freezer. Ketika datang giliran maju di ruang mirip ruang interogasi itu, hanya kau dan aku yang sama-sama duduk paling pojok. Bagiku, jawaban lugas adalah pertanda tidak ada masalah signifikan dan itu berarti agar proses wawancara tidak berlangsung lama.

Rupanya hanya kau dan aku dan yang paling banyak memberikan jawaban kepada auditor yang tak murah senyum, kaku dan cenderung menakutkan itu. Aku berdalih bahwa angkatanku belum terfasilitasi lahan parkir yang memadai, tempat ibadah yang sempit dan pengap serta kekurang-tepatan waktu pengajar dalam memberikan materi perkuliahan. Kau nyerocos bahwa angkatanmu mengalami banyak kemajuan, karena fasilitas laboratorium komputer sudah terbentuk. Termasuk dukungan alumni berupa sponsorship ketika ada kegiatan akademik, termasuk baru-baru ini menyumbang dana untuk bakti sosial menanam Mangrove di Sukolilo.

Kau menjawab lagi, sekarang lahan parkir sudah luas sampai tiga lantai dan lebih aman karena sudah ada kamera pemantaunya. Tempat ibadahpun sekarang dipercantik dengan mukena dan sarung yang seragam, dicuci satu minggu sekali dan tempat wudhu yang aman bagi wanita karena dibangun tepat di belakang tempat sholat wanita. Sementara bagi laki-laki, letaknya di luar bangunan mushola. Aku kaget dengan pementahan argumenmu terhadap masukan yang kuberikan kepada auditor tentang fasilitas di zamanku.

Walau sebenarnya kau hendak memberi kesan bahwa almamatermu sekarang, jauh lebih maju dari jaman aku kuliah. Tidak perlu nyolot sebenarnya, karena aku tau arah pertanyaan auditor itu terkait perkembangan fasilitas belajar mengajar. Di akhir penutupan oleh auditor, yang tampak pusing dengan segelintir pertanyaan dan tak di nyana berakhir dengan serentetan jawaban yang panjang, aku mulai mencari orang di ujung sana yang sedari tadi beradu jawaban denganku. Kau, rupanya. Si bapak kritis itu. Aku melirikmu sepintas, seraut wajah tertutup kacamata yang melenggang santai keluar ruangan.

Tidak ada yang perlu diceritakan, tentang apa yang istimewa. Aku baru tahu ternyata kau mengajar di almamatermu. Yang sedang disibukkan mengerjakan project kampus tentang e-learning buatanmu, bukan edmodo buatan kapitalis yang selama ini dipakai sebagai salah satu alat pembelajaran. Sesampai di ruang meeting, tempat semua orang dikarantina, kau duduk di sampingku, menulis absen sambil berkenalan. Kau menanyakan nomor kontakku dan menyimpannya. Aku masih tak perlu meminta no teleponmu. Sebagai wanita, aku sungkan.

Suatu kali, kau mengontakku untuk meminta ijin memperkenalkan modul baru e-learning-mu di kelasku. Akupun tak menaruh curiga, kenapa hanya kelasku saja yang kau jadikan kelas simulasi. Padahal waktuku mengajar yang dibatasi hanya 1,5 jam, menjadi lebih terpotong oleh simulasi proyek yang kau buat, –sebuah masterpiece yang berani dibayar mahal oleh Project Officer. Baiklah, kita bertemu lusa petang.

Ini pertemuan ke-empat. Di ruang dosen. Kau memakan bingkisan pemberian mahasiswamu yang sedang berulang tahun. Lahap sekali. Kau menawariku sekilas tanpa benar-benar menyodorkannya. Basa-basi khas Jawa. Tak lama setelah kau benar-benar kenyang, kau mulai mengurusi kertas ujian mahasiswamu, dan tanpa menatapku, kau pinjam pulpen sambil menanyaiku bagaimana kegiatan belajar mengajar di kelasku? Akupun menjawab sekiranya.

Sambil mengemas ransel untuk segera kugendong meninggalkan kesombonganmu. Satu, kau tak benar-benar tertarik akan ceritaku. Bahwa aku benci birokrasi busuk di almamater tempatmu mencari uang. Bahwa aku tidak setuju dengan cara-cara picik manusia dalam mendapatkan jabatan. Kau jawab sekenanya, khas jawa. Kedua, kau tak membahas sedikitpun tentang program e-learning yang akan kau perkenalkan pada kelasku besok sore.

Padahal sudah dua kali ini aku menanyakan bagaimana wujud media e-learning itu. Aku perlu belajar, karena ini menyangkut pengetahuan yang harus aku jelaskan kepada mahasiswa, kalau-kalau mereka bertanya. Tapi kau mentahkan. Aneh. Muncul prasangka, bahwa orang yang baru jadi pintar adalah orang yang tidak ingin semua ilmunya dibagikan secara gratis kepada orang lain. Semua memiliki harga.  Semua ada tarifnya. Pantas kau tak minat dengan ocehan kesalku yang kulempar secara membabi buta ketika kau ungkit tentang praktik curang di tempat kita mengajar. Karena kau masuk dalam sistem itu.

Ini yang kelima, saat praktik e-learning akan berlangsung petang ini. Aku selalu datang 2 jam lebih awal. Mematangkan materi di ruang dosen yang selalu lengang. Kau kirim pesan, ada dimana aku. Aku bilang aku sedang di ruang dosen menuju warung Mbok Ra yang terletak di samping kampus. Kau langsung secara antusias menyusul menemaniku makan di warung. Di tiap ruang yang disekat oleh kaca –khas bangunan gaya minimalis, kau berlari dari perpustakaan ke ruang dosen.

Kita berpapasan di pintu. Kau berbicara sambil sedikit mengatur nafas. Menyelisihi napasku yang terpaksa  kususun beratur agar tak terkesan berlari menghindarimu. Aku sebenarnya keberatan kau temani makan. Karena aku tak mengenalmu benar. Lebih tepat, aku merasa tak nyaman saat menyantap makan dalam kondisi perut lapar sangat, dengan kau duduk di depan menunggui menuku habis. Tak ayal, kau mengganggu hasrat makanku dengan hembusan rokok yang kau tiupkan.

Meninggalkan asap arogansi yang menempel di jilbab biruku. Arogan, karena kau selalu bercerita tentang kehebatan program kerja di tempatmu mengajar. Hebat, karena kau sering dipercayai perusahaan yang mempekerjakan orang asing untuk membantu mereka belajar bahasa Indonesia beserta mempraktekkan adat-kebiasaan kultur jawa pada umumnya. Sesak, karena asapmu semakin tinggi, ketika aku menawarkan diri untuk ikut melihat bagaimana mereka belajar budaya kita, cuma berakhir dengan senyum penuh makna.

Kau mulai kirim pesan. Lebih tepat mengomentari status WA-ku. Aku pun demikian. Melihatmu memainkan gitar listrik dengan jemari yang teratur, sungguh mengesankan. Mungkin se-mengesankan mahasiswi di kelasmu yang menawarkan diri menjadi kekasihmu. Kau menolak. Kau bercerita betapa agresifnya anak muda sekarang. Yang dengan berani mengirim pesan bahkan menelpon dosennya untuk sebuah pengakuan status yang lebih dari seorang pencari ilmu. Kali ini aku se-ide.

Pesan selanjutnya adalah kau menanyakan di mana aku berada hari itu. Aku baru saja selesai mengajar, dengan menggenggam janji beberapa mahasiswa yang ingin aku mendatangkan native speaker untuk menaikkan percaya diri mereka. Aku tak mengiyakan, meski saat itu aku langsung teringat padamu. Namun, hari itu menjadi titik tolak pertama aku tak bersimpati padamu. Atau aku terlalu menganggap cepat perkenalan ini sehingga pertolongan sesama kolega itu, kuanggap sebagai hal yang biasa jika berhubungan dengan mutu pembelajaran dan kemajuan pendidikan.

Maka di tangga saat kita berpapasan, aku memintamu untuk meminjam relasi bule-mu yang pernah kau pamerkan padaku untuk menjadi native speaker di kelasku. Lalu dengan nada yang tak kupahami, kau bilang orang-orang bule di sini mata dolaran, Aku lantas tertawa sinis. Di depanku, ternyata aku sedang berbicara dengan pemakai sistem baku ekonomi. Di depanku, rupanya aku sedang bernegosiasi dengan tarif. Aku pasrah. Tepatnya mulai kecewa padamu. Ada kalkulator berjalan di balik kacamatamu, setiap berbicara dengan orang lain. Siapapun yang kau ajak bicara, rupanya tak jauh dengan nilai rupiah. Itu menurutku, saat itu.

Di kelima kali pertemuan tatap muka kita, aku secara reflek, mulai formal dan biasa dalam menjawab pesan WA-mu. Lalu kau bilang cara komunikasiku mulai freaky.

You sound different?” katamu suatu kali.

“You seemed to be different since a couple of days ago. Are we okay?” tambahmu menegaskan ketika aku tak kunjung menjelaskan dan masih tampak freak di matamu.

Akan aku jelaskan. Dan ini tentang kecewa yang kedua kalinya.

Terakhir kita bertemu adalah pada acara wisuda di almamatermu. 2 hari lalu. Aku diundang. Seperti biasa aku hadir tepat waktu. Aku lewat di depanmu. Kau tak senyum dengan sempurna. Kau bilang kau tak mengenalku dengan kostum nasional yang kupakai saat itu. Aku duduk di kursi undangan. Sendiri. Disusul Pak Ketut yang mengambil tempat tepat di sisi kiriku. Prosesi dimulai. Wisudawan mulai menduduki tempat sesuai urutannya.

Lalu kau tiba-tiba muncul di depan barisan Bu May dan Bu Ninda yang juga datang terlambat. Kau mengambil kursi kosong tepat di sebelah kananku. Hanya sebentar, karena formasi dirubah kembali oleh panitia, mengingat tamu undangan mulai berdatangan dan mereka duduk berdasar nomor urut yang ditentukan. Aku merasa lega. Karena kau duduk tepat di antara pak Ketut dan Bu Ninda. Kau sibuk bercanda, cekikikan dengan dua ibu dosen yang datang bersamamu tadi. Sangat  akrab.

Sesuatu yang tidak bisa aku lakukan, meski aku bisa mengerjaimu habis-habisan di atas gadget. Mulai status update-mu yang nyeleneh sampai dasimu yang nampak aneh. Dasi dan musik itu seperti dua profil yang berseberangan. Biasanya, orang seni itu serba tidak beratur, menurutku. Maka, cara berpakaiannya-pun mesti ngga jauh-jauh dari arti kebebasan. Tapi itu dulu. Saat kuanggap buku-buku yang kau baca, seni yang kau geluti, merepresentasikan bagaimana cara berpikirmu.

Sesekali kau melihatku. Ada yang aneh dengan pandangan itu. Lalu kau coba mengajakku bicara. Sebuah percakapan yang membutuhkan pendengaran yang teliti, terhalang suara mic dan sound yang menggaung serta  jarak tempat duduk yang berselang. Untuk itu, sampai diperlukan untuk membungkuk melewati beberapa tamu undangan yang duduk rapi untuk mendengar suaramu. Aku pada akhirnya menimpali sebisanya. Agar tidak muncul pertanyaan lanjutan. Apa saja yang aku lakukan, kau berkomentar, sok perhatian. Kau tanyakan kenapa snack di kotakku masih utuh dan tidak kumakan.

Ku jawab bahwa aku tak lapar. Termasuk ketika aku memungut paku bengkok di bawah kursi VIP di depanku, kau berkomentar lagi. Aku, ya mulai terusik. Bu May, Bu Ninda menyusul Pak Kusdi lalu Pak Ketut meninggalkan area wisuda sebelum waktunya dengan alasan menghadiri acara di tempat lain. Dan hanya kita berdua di kursi undangan itu. Dengan satu pasangan dosen di ujung sana yang belakangan jadi gosip hangat terkait kedekatan mereka yang lebih dari biasa. Lalu kau mendekat, tepat di sebelahku. Tanpa rasa canggung sebagaimana aku. Kau mulai bercerita. Ngeciwis tentang banyak hal. Seolah memori otakmu tak pernah kehabisan ide untuk bercerita.

“ Ada acara setelah ini?” tanyamu tiba-tiba.

“ Maksudnya?” jawabku penuh telisik. “Setelah acara, ya pulang, tapi saya sholat dulu. Disini ada mushola kan, pak?” tanyaku.

“ Ada. Nanti saya antar ke sana,” jawabmu menang. Aku tak mengiyakan.

“ Disini ada bioskop. Ga ingin nonton? Saya bersedia menemani!”

“ Saya sudah nonton Infinity War minggu lalu. Setelah itu tidak ada tontonan yang menarik buat saya,” jawabku singkat.

“ Oo, ibu sudah nonton?” tanyamu dengan panggilan formal seperti biasanya. Aku mengangguk.

Kau terdiam. Sesekali ikut peduli dengan gerakan apa saja yang kubuat. Termasuk menanyakan kenapa kue di dalam kotak tak juga aku cicipi. Aku menawarkannya, mungkin kau lapar. Tapi kau menolak.

Pertanyaan lain menyusul,

Njenengan bisa berenang?”

“ Enggak!”

“ Boleh saya belajar menyelami hati njenengan?”  tanyamu menggombal.

Rancauan apalagi ini. Ada laki-laki baru kukenal sebentar, bertemu beberapa, tapi begitu berani mengatakan sesuatu yang sangat intim di hadapan banyak mahasiswa yang berjejer di belakang kami. Semoga mereka tidak mendengar kicauan laki-laki dengan kacamata misterinya itu.

Aku mulai terganggu ketika acara yang ditutup dengan jamuan makan itu tiba, kau duduk di sebelahku sambil menawariku mengantar pulang.

“Tadi berangkat naik apa, bu?”

“Grab!”

“ Owala, mesakke. Boleh saya antar pulang?”

“ Rumah bapak kan di Wiyung, tepat di belakang gedung ini. Kalau antar saya, ya jauh kemana-mana,” jawabku diplomatis.

“Ya ndak papa tho, bu. Sekalian muter-muter,” tukasmu.

Pada acara makan yang seharusnya nikmat, rasanya saat itu susah sekali aku menelannya. Ya ampun, aku tidak terbiasa makan ditemani laki-laki asing. Yang apalagi sedang dirundung misi asmara. Untuk kedua kalinya, laki-laki itu merusak selera makanku. Dan aku harus menelan bulat-bulat porsi yang kuambil banyak itu. Biar cepat selesai. Duh!

Demi menjaga nama baik, –setelah pasangan dosen bukan muhrim melakukan affair menjadi trending topic di kalangan staf pengajar–, aku harus berani menulis pesan di sampingnya–di meja bundar yang penuh diduduki oleh beberapa dosen yang sedang membicarakan scopus.

Aku menulis kilat.

“Pak, pulangnya jangan bareng ya? Saya canggung,” tulisku cepat. Takut terbaca oleh dosen di sebelahku.

“Baik bu, kalau begitu, saya keluar duluan ya?” timpalnya tidak mau kalah. Aku tak sempat membaca pesannya seketika ia membuka pesan dariku barusan.

Sebelum dia berubah pikiran, aku buru-buru pamit. Pada semua dosen yang hadir di situ, termasuk mencoba berani melihat raut wajahnya saat kupamiti. Pasi, kecewa, runtuh. Sebuah senyum yang dipaksakan ketika aku mendadahinya.

Malam hari, sekali lagi kau menulis pesan.

You might be behaving weird because there is something you can’t tell. A message with no receiver. And to me, it’s all vacant,” ketikmu sastrais.

“Sholat dulu lah, Pak. Orang itu dinilai dari ibadahnya, bukan ucapan manisnya,” tulisku menyindir. Itu setelah dua kali dia menolak kuajak sholat bareng saat di kampus.

“Kamu salah! “ tulisnya singkat. Tak suka dengan gaya ceramahku.

“Iya sih. Tergantung. Semua serba depend on. Sehingga pada akhirnya tidak ada nilai baku yang bisa dipakai sebagai acuan,” jawabku ketika dia menyalahkan opiniku.

“Kamu yang harusnya menjelaskan kepadaku dengan act-mu yang aneh tadi pagi. Where people stood up and you chose to sit down while the senate entered the room and continued singing national song!” tandasnya meledak. Sepertinya geram atas jawabanku yang ambigu. Kali ini tanpa sapaan sesama kolega seperti biasanya: njenengan atau ibu, tapi kamu. Marah besar rupanya.

Aku perlu jeda untuk menjelaskan keanehan yang di maksudnya. Aku perlu menulis indah agar dia tidak merasa dipojokkan atau disalahkan atas perasaannya. Tapi aku tidak terlahir romantis. Maka kukatakan bahwa aku kecewa saat dia mengajukan tarif atas bantuan yang kuminta, terkait bule yang akan jadi native speaker di kelasku. Pertama.

Kedua, kujelaskan bahwa orang seperti dia, yang juga seorang artis, seorang musisi yang bertemu dengan banyak wanita cantik, sexy dengan talenta yang luar biasa bukan tidak mungkin beberapanya memikat hatinya. Siapa yang tidak mau? Laki-laki mapan, CEO sebuah lembaga bahasa Inggris, luwes dalam bergaul, –bahkan dengan yang baru ditemuinya– dan tentu saja menarik. Sebuah profil sempurna idaman wanita muda metropolis. Ibarat anak kecil, dia hanya tinggal menuding snack mana yang memikat hatinya.

Ketiga kujelaskan, mungkin saja aku aneh beberapa hari ini. Sehingga aku menjaga jarak sebisa mungkin. Bahwa laki-laki dengan kaca matanya yang misterius itu mulai merancau tentang sebuah percakapan yang tidak semestinya. Mengajak makan, bertemu membicarakan buku-buku kesukaan kami. Dari Catatan Seorang Demonstran karya Soe Hok Gie, Tetralogi milik Pramudya Ananta Toer hingga pemikiran filsuf asal Jerman, Nietzsche yang fenomenal. Aku membuat diriku seolah tak membaca ajakan itu.

Aku tegaskan kembali tentang serentetan ajakannya di acara wisuda tadi. Bahwa dia bisa saja dengan mudah memilih wanita cantik layaknya buah di pasar. Yang bisa dibeli dengan sebuah rayuan sebagaimana kalimat-kalimat yang meluncur di bibirnya kepadaku tadi siang. Kukatakan aku tersinggung. Aku bukan mereka: yang bisa diajak nonton, yang bisa diajak makan bareng, yang bisa diantar pulang dengan mobil mewahnya. Dan perkataan dia selama ini, baik di atas layar maupun yang terang-terangan siang tadi adalah penyamarataan terhadap nilai seorang wanita. Aku tidak suka.

Aku tahu dia mulai bingung. Antara merasa bersalah mengagumi seseorang atau ketahuan hidung belangnya, yang menganggap tiap jebakan atau rayuan dengan mudah meluluhkan hati perempuan. Tapi, entah, tiba-tiba aku membaca sebuah kalimat yang seakan-akan ditulisnya dengan cetak tebal, dengan rasa iba.

My last woman was my wife,” tulisnya mengenang rumah tangganya yang hancur.

And I’m not the one that you think how I am. I like the uniqueness in you. Saya bertemu dengan banyak wanita cantik. Mereka cantik secara fisik, yang lain tidak. And moreover, I can’t help myself to expose my feeling to you in many ways. But its okey. Since you smart and wise, you can judge me all the way,” kubaca dengan rasa haru dan bersalah.

I clarified things already. You are too quick judging me,” tutupnya.

Sebuah perkenalan singkat yang semestinya indah, tapi hancur.

***

Tak ada kabar setelah itu. Kami bahkan jarang bertemu karena jadwal mengajar yang berbeda jam dan harinya. Sesekali, jika ada undangan kampus, atau menggantikan jam mengajar dosen yang berhalangan, aku melihatnya berkutat di dalam perpustakaan. Berbincang dengan seorang staf. Kadang membaca, kadang bergulat dengan laptopnya dan sesekali membenarkan letak kacamatanya. Kami jarang berpapasan. Akupun tak menginginkannya.

Aku lebih senang berjalan cepat atau sepelan-pelannya agar dia tidak menoleh kepadaku jika aku harus lewat koridor perpustakaan. Sesekali kulirik status WA-nya, dia masih bermain gitar. Baik mengajar maupun mengadakan sebuah mini concert. Menyanyikan kidung kehidupan yang tidak adil. Aku tak pernah mendengarnya mengeluh. Baik verbal maupun di atas layar. Laki-laki tidak boleh cengeng, meski dia menanggung penderitaan yang sangat berat. Mungkin begitulah pada umumnya seniman. Mereka menulis kekejaman hidup dalam susunan not-not lagu. Dalam dentingan gitar yang syahdu. Yang hanya mereka saja yang mengerti arti dari semua melodi itu.

Kuperhatikan dia, laki-laki dengan segudang misteri di dalam kacamatanya itu mulai sering bercanda dengan seorang staf perpustakaan. Sebuah candaan yang tak wajar. Sesekali kupergoki dari kaca seberang kelas, mereka berdiskusi serius, menatap tak wajar, penuh cinta. Aku mulai intens mengecek foto status dan foto profilnya, selalu dengan sang staf perpustakaan itu, yang juga seorang dosen komputer.

Aku tak perlu mengaguminya lebih dalam. Hanya aku dan pena ini saja yang tahu. Bahwa aku memang pernah kagum dengan daya juangnya, mengagumi kekuatannya. Daya juangnya ditinggal istri, disusul perusahaannya yang sempat bangkrut dan dicampakkan keluarganya lantaran ia memilih berpindah agama.  Penderitaan yang ia simpan rapi di balik kacamatanya.

Dan aku mulai berperasaan wajar, ketika ia memiliki kekasih hati, tempat berlabuh. Seseorang yang mengetahui betul isi hati dan carut marut kehidupannya. Menerima kelemahannya dan –sebagaimana aku,– mengagumi intelektualitasnya. Ia jatuh hati pada seseorang yang selalu mengisi galeri status WA-nya. Seorang staf yang juga tak lagi kesepian di tengah sepinya lorong perpustakaan yang hanya ramai ketika mahasiswa terbebani tugas. Orang yang dengannya ia mau melepas kacamatanya, saat kedua bibir mereka beradu di pojok koridor yang sepi. Hatinya tertambat pada dosen komputer itu. : Pak Arai! (naskah: Menur Kusuma/ilustratasi: lukisan Klowor berjudul “Hutan Pinus/editor: Heti Palestina Yunani)