Destinasi Baru Pontianak Persembahan Mahasiswa

Warna-Warni Kampung Wisata di Tepi Kapuas (1)

1-Papan masuk di Kampung Wisata KuantanBanyak agenda wisata di Pontianak, Kota Khatulistiwa. Baru saja meriah saat menandai Titik Kulminasi pada 21-23 Maret 2017 lalu, saat Ramadan seperti ini Pontianak marak dengan Festival Meriam Karbit yang puncaknya tiba saat takbir berkumandang. Ledakan meriam karbit ini akan saling bersahutan antar kampung yang terpisah oleh Sungai Kapuas. Tahun 2016 lalu lebih dari 500 meriam berpartisipasi dan diikuti oleh puluhan kampung di sepanjang Kapuas.

Meski festival itu sudah pernah saya saksikan, saya tetap penasaran untuk melihat bagaimana geliat tepian sungai Kapuas dari sisi lain. Apalagi sebelum festival tahunan itu berlangsung, tepatnya sebelum Ramadan tiba. Lebih-lebih karena untuk festival itu, ada proses pembuatan meriam raksasa sepanjang 7 meteran dan sebesar sepelukan orang dewasa. Untuk mengintipnya, saya mengajak seorang teman, Qumay namanya. Kami berdua menuju Gang Kuantan di Jalan Imam Bonjol tepat di sebelah PDAM Kota Pontianak.

Gang ini langsung menembus ke bibir Sungai Kapuas. Saat menyusuri gang ini, saya bisa menikmati anak 1-Anak kecil melompat bahagiaSungai Kapuas yang cuma selebar 10 meteran. Terlihat anak-anak  mandi dan bermain di anak sungai itu. Tapi ada hal lain yang menarik rupanya. Begitu selesai memarkir kendaraan, saya langsung disambut dengan jembatan dari semen yang dicat dengan macam rupa warna. Warna cerah banyak dipilih, sengaja untuk memanjakan mata.

Melihat pemandangan semacam itu, saya seperti anak kecil yang baru menemukan tempat bermain yang lucu dan unik. Di pintu masuk ada dua jembatan yang mengarah ke kiri dan ke kanan. Keduanya sama-sama unik. Namum kampung warna warni yang berada di sebelah kiri saya membuat saya lebih tertarik. Terlihat ada plang nama bertuliskan Kampung Wisata Kuantan Tepian Kapuas “Enjoy Your Food and Drink.”  Saya jadi kian penasaran.

1-Aktifitas mandi, cuci dan mencari ikan dikampung wisataInilah hal yang baru dan menarik untuk dieksplorasi dari Pontianak. Saya baru tahun ini tahu keberadaan kampung warna-warni tersebut. Sampai di sana saya menyapa seorang bapak yang sedang duduk di depan warungnya. “Sudah berapa lama tempat ini ada Pak?,” tanya saya menjawab penasaran. Rupanya namanya Abun. Ia sudah mendiami kampung itu lebih dari 40 tahun. “Baru jak Nak, baru dua minggu lah jadi ni,” katanya. Itu artinya baru pertengahan bulan Mei kampung itu berada. Pantas karena tahun lalu saya belum melihatnya.1-Berbincang dengan Pak Abun

Pak Abun lalu melanjutkan cerita tentang kampung baru itu. “Ini dikerjakan anak mahasiswa dengan banyak komunitas, dibantu same bank. Bu Lurah pon ade ngajak orang kampong untuk bantu-bantu,” katanya dalam bahasa campuran Indonesia dan daerah setempat. Menurut Pak Abun, destinasi baru Pontianak ini ternyata inisiasi mahasiswa yang sedang melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Pendiriannya dibantu beberapa komunitas cinta lingkungan dan didukung program sosial sebuah bank serta dibantu pelaksanaannya oleh Pemerintah Daerah Pontianak melalui Kelurahan Benua Melayu Laut. (naskah dan foto: Donny Prayudi/editor: Heti Palestina Yunani/bersambung)