Dari Sumbawa Besar Menuju Tambora

Road Trip Nekat Mengeksplorasi Selatan Indonesia (6)

Puas mendaki Gunung Rinjani bersama tiga teman, saya melanjutkan lagi perjalanan selama 29 hari mengeksplorasi selatan Indonesia pada17 Mei-16 Juni 2015. Tas samping kanan-kiri motor, kotak belakang, dan tas ransel telah diikat dengan yakin di atas Si Jangkrik, sebutan motor yang saya pakai.

6-Menuju SumbawaUntuk menuju pelabuhan di Timur Lombok, Pelabuhan Kayangan, ternyata saya tidak perlu kembali menuju Desa Aikmel tapi langsung menuju Desa Pringgabaya. Tiba pukul 15.00 di pelabuhan masih begitu sepi. Kondisinya, rapi, dan bersih.

Masuklah saya dan Si Jangkrik di atas KMP Pertiwi Nusantara untuk diantar menuju pulau yang lebih Timur dari Lombok, Sumbawa. Akhirnya daftar pulau yang sudah saya singgahi pun bertambah. Makanya, begitu saya turun dari kapal dan menginjakan kaki di Sumbawa, saya senang.

Tidak berlama-lama di pelabuhan, Si Jangkrik terus melaju karena waktu yang sudah menjelang malam untuk menuju kota yang akan saya dijadikan tempat istirahat di hari itu, Sumbawa Besar.

Medan perjalanan yang baru disinggahi ini menjadikan perjalanan saya cukup lambat karena kondisi jalan yang belum diketahui seperti apa kontur tanahnya, mulus atau buruknya jalan. Satu hal yang baru saya temui adalah risiko hewan ternak seperti sapi yang menyeberang di jalan.

Hampir pukul 21.00 saya baru tiba di Sumbawa Besar. Lekas saya mencari tempat menginap. Sesuai prinsip asal bisa tidur dan menyimpan barang, maka dipilihlah hotel kelas melati yang dipenuhi muda mudi dan lelaki hidung belang di sana.

Selesai sarapan, perjalanan saya lanjutkan menuju gunung yang baru berulang tahun ke-200 pada April 2015 lalu. Ulang tahun ini bukan karena awal mula ditemukan, tetapi karena letusan yang maha dahsyat dari gunung tersebut hingga meluluhlantakkan dan melumpuhkan dunia dengan debu erupsinya.

Saat saya tiba, masyarakat setempat sedang menggelar banyak acara sejak April lalu dalam tajuk ‘Tambora Menyapa Dunia.’ Tiba di satu daerah sebelum Kota Dompu, Cabang Banggu, rambu lalu lintas menunjukkan arah kiri untuk menuju Gunung Tambora. Dari sana, jalanan begitu datar, lurus mendominasi sehingga cukup membosankan.6-Anak Lokal Sumbawa

Beruntung pemandangan sangat berbeda dengan daerah yang pernah saya kunjungi. Alamnya unik, padang savana yang luas dihiasi bukit-bukit dengan latar belakang lautan biru luas. Hampir di setiap daerah di Sumbawa sangat mudah menjumpai sapi, kuda dan hewan ternak lainnya berkeliaran di tanah yang lapang.6-Kerbau berendam lumpur di Celebai, Sumbawa

Satu daerah yang menarik perhatian khusus adalah Celebai. Di sana banyak sekali kerbau-kerbau berendam di dalam lumpur, di pinggir pantai pula. Desa terakhir untuk mendaki Gunung Tambora yang saya pilih adalah Desa Pancasila. Saya tiba di sana menjelang Maghrib. Saya disambut keramaian perlombaan voli antar-warga yang diadakan Kopasus menjelang penutupan Ekspedisi TNI AD di seluruh Indonesia, termasuk Tambora. (naskah dan foto: Geraldine Fakhmi Akbar/editor: Heti Palestina Yunani/bersambung)