Dari Retenggaro Mencari Golden Set Pantai Pero

Eksplorasi Sumba (2)

sumba-kampung adat retenggaroHari pertama di Sumba yang mengesankan itu saya pakai langsung untuk mengunjungi di Kampung Adat Retenggaro. Retenggaro mempunyai lanskap yang sangat eksotis dan ciri khas yang unik dari bentuk rumah adatnya yang beratap menjulang tinggi. Tempatnya berada di pinggir laut dengan pantai berpasir putih yang sangat eksotis. Belum lagi hamparan rumput hijau yang indah dengan kubur batu peninggalan khas para leluhur Kampung Adat Retenggaro.sumba-pantai pasir putih di kampung adat retenggaro

Semua itu membuat saya betah berlama-lama hanya untuk menunggu matahari terbenam. Saya yakin semua pemandangan itu tampak sempurna ketika terkena pantulan cahaya matahari senja, ditambah pula deburan ombak dan tawa anak-anak Kampung Adat Retenggaro. Saya sempat berbincang ringan dengan anak-anak dan beberapa tetua kampung adat yang menghampiri. Rata-rata mereka menawarkan souvenir hasil karya sendiri seperti asahan patung berbentuk wajah khas Retenggaro yang terbuat dari tulang kerbau.

sumba-kubur batu di kampung adat retenggaroSaya tertarik membeli sebuah patung yang memang terlihat unik. Lagi pula membeli hasil karya lokal adalah bagian dari menghargai hasil karya mereka. Jadi tidak ada salahnya kita membawa oleh-oleh dari Sumba yang tidak akan dijumpai di daerah lain, bukan? Mereka semua sangat ramah dan menemani saya selama berkunjung ke kampung mereka. Rasanya makin tidak ingin beranjak dari tempat itu jika tidak mengingat ada destinasi lainnya yang menunggu saya sebelum sang surya benar-benar kembali ke ufuk barat.

Andre lalu mengantar saya ke destinasi yang sudah ada dalam rencana di hari pertama keberadaan saya di Sumba Barat Daya. Tempat itu adalah Pantai Pero yang terletak di Desa Kodi, tak jauh dari Kampung Adat Retenggaro. Banyak cara untuk menikmati pantai ini, salah satunya adalah berdiri di padang rumput di sekitar tebing Pantai Pero. Karakteristiknya istimewa yaitu berbatu karang, deburan ombaknya besar sehingga menciptakan water blow yang menakjubkan.

Satu hal lagi yang unik dari beberapa pantai di Sumba Barat Daya ini adalah udaranya yang sejuknya. Situasi itu saya dapatkan di Pantai Pero. Namun ada momen terbaik saat berada di pantai itu yaitu tatkala hadir golden sunset yang begitu memukau. Karena golden sunset itulah tak heran jika semakin senja, area pantai ini tampak semakin ramai dikunjungi. Tetapi, tenang saja meski seramai apapun, Anda tidak akan menjumpai situasi macam Kuta di Bali yang terkenal sebagai daerah yang crowded, di Pantai Pero ini.sumba-water blow

Dalam keindahan itu, saya nikmati ketika perlahan lahan sang surya kembali ke peradabannya, menyentuh permukaan samudera. Saya sempat terdiam sebentar, hanya untuk menikmati dan meresapi pemandangan yang terhampar di depan mata. Rasanya itu membuat hari pertama di Sumba sangatlah cukup. Maka saya putuskan kembali ke hotel. Tapi sebelum itu, saya harus menikmatinya dengan makan malam.

Kebetulan di daerah hotel sama sekali tidak ada tempat ataupun warung untuk membeli makan. Salah satu tempat yang direkomendasikan di Sumba Barat Daya ini adalah Warung Gula Garam. Makanan dan minuman yang dijual bervariasi antara Indonesian food dan western food. Oh, perut benar-benar kenyang setelah itu. Sejak hari pertama yang mengesankan itu, saya makin antusias untuk melewatkan hari-hari berikutnya mengeksplorasi Sumba. (naskah dan foto: Yenny Fyfy/editor: Heti Palestina Yunani/bersambung)