Dandelion by Sri Maryani

Ragu. Kata tersebutlah yang tergambar jelas pada saat pesan singkat dari Fauzi—memintaku untuk ikut berwisata ke Gunung Ambawang—tertera rapi di layar ponsel. Aku bukan wanita yang suka bepergian. Bagaimana jika aku hanya bisa merepotkan di sana, pingsan atau sejenisnya yang memalukan? Tubuhku terlalu berat untuk diangkat. Aku sedang tidak dalam keadaan baik-baik saja sekarang.

Mengingat kata ‘tidak baik-baik saja’ membuatku menghela napas kasar, memikirkan kembali tawaran tersebut. Bukankah aku butuh pemandangan segar untuk menyirami pikiranku yang layu? Right!

***

Dari Pontianak, butuh waktu tiga jam untuk sampai di kaki gunung. Kabar burung yang beredar menyebutkan, menapaki jalan menuju puncak gunung tidaklah semudah membalikkan pisang goreng dalam wajan. Banyak areal curam yang mungkin bisa mengancam keselamatan. Untunglah hujan tidak turun sejak seminggu lalu. Jadi, batu yang diinjak juga tidak akan terasa licin.

Gunung Ambawang terletak di Kecamatan Kubu, Kabupaten Kubu Raya, merupakan kawasan yang cukup jauh dari pusat kota. Jalan menuju ke sana memang terbilang sudah cukup bagus dibandingkan dengan beberapa tahun silam ketika masih banyak lubang kecil pada tanah merah. Ini juga karena faktor rumah penduduk yang semakin ramai dibangun dan masuknya bisnis lahan sawit yang semakin menjamur.

Aku masih asyik melamun dalam boncengan Fauzi, tersadar saat lubang kecil menghantam roda motor dan membuat pantatku bergeser.

“Sudah sampai,” katanya, membuatku melongo melihat keadaan sekitar yang terasa asing. Bunga dandelion tumbuh beberapa batang di kaki gunung.

“Hei …,” panggil sebuah suara, membuat aku dan Fauzi memfokuskan mata ke sumber teriakan. Aku melebarkan mata, memastikan pemandanganku tidak keliru. Fauzi sukses membuatku ingin mencincangnya sampai hancur.

“Kenapa ada mereka?” protesku, menggigit bibir bawah hingga perih.

“Tidak ada yang salah, kan?” jawab Fauzi, sekenanya, melangkahkan kaki mendekati dua manusia sempurna yang berjarak tak lebih dari lima meter dari keberadaan awal kami.

Ya, memang tidak ada yang salah. Perasaankulah yang salah.

Mau tidak mau aku harus bergabung dengan mereka—menyelipkan tubuhku dalam keadaan yang tidak enak. Aku seperti menghitung batu sepanjang perjalan menuju puncak gunung, menghindari bertatapan langsung dengan Shen, pria yang membuatku tak berguna seperti ini.

“Aku capek, sayang,” keluh Queeny, dengan suara yang kuyakini bisa membuat tenggorokan yang haus seketika menjadi berair. Aku bahkan heran, kenapa ada bidadari yang turun ke bumi lalu menjadi sainganku saat ini? Dunia memang tidak adil.

Queeny tumbuh, sementara aku hanya berada di bagian dagunya saat sama-sama berdiri. Dia makan nasi sepertiku, namun bentuk tubuhnya sepertinya memang sudah dicetak dengan sempurna. Matanya bulat. Pipinya tirus. Bibirnya penuh. Aku bahkan berpikir, batang hidungnya bisa mengakibatkan lubang yang dalam jika tersentuh oleh runcingnya. Sedangkan Shen? Semua akan berpikir aku memasang guna-guna jika bisa berpacaran dengannya.

“Mau digendong?” tawar Shen, melemparkan senyumnya yang mematikan kepada Queeny.

“Jangan bercanda, sayang … Kau bisa pingsan jika melakukannya.”

Huh! Ini apa, sih? Sebuah drama yang memang disiapkan untukkukah? Shen tidak akan pingsan hanya gara-gara mengangkat tubuh langsing kekasih yang ada di sampingnya. Apa mungkin Queeny menyinggungku?

“Aku ingin buang air kecil,” ucapku, berbohong di sela mereka yang semakin membuat jantungku panas. Aku sudah tidak peduli. Keberadaan mereka benar-benar membuat mood-ku hancur. Aku harus menjauh.

“Perlu ditemani?” tanya Fauzi yang tampak kelelahan membawa ransel besar di punggungnya. Meski kasihan, aku masih punya dendam pada pria satu ini. Bisa-bisanya dia membawa Shen dan Queeny ikut serta bersama kami untuk berwisata ke gunung. Dia tahu sangat jelas bahwa aku menyukai Shen sejak satu tahun silam.

“Apa aku perlu melemparimu dengan batu?” aku kesal. Tawaran Fauzi sama sekali tidak lucu.

Ck-ck-ck … Aku hanya bercanda. Lagi pula, aku juga tidak tertarik untuk mengintipmu.”

Meski bercanda, ucapan Fauzi begitu menyinggungku. Aku tahu, aku sama sekali tidak menarik sehingga tidak perlu dijelaskan lagi panjang kali lebar.

“Kalian naik saja dulu. Aku akan secepat mungkin menyusul,” kataku, akhirnya.

Aku menghempas-hempaskan kaki di batuan yang ukurannya tak sama, menyusuri bagian gunung sebelah kiri dengan tanpa semangat. Sesekali jantungku berdebar keras manakala batu-batu kecil tersebut tergelincir dengan anggunnya ke bawah. Jika itu aku, sudah dipastikan tidak akan ada satu batang pohon pun yang mampu menyangga tubuhku untuk tidak sampai ke dasar gunung. Aku berpegang lebih kuat lagi pada sebatang pohon kecil yang tumbuh liar, sebisa mungkin menjauh dari keberadaan Shen dan Queeny.

Semangatku dari rumah yang ingin melihat air terjun Bujang Bahar—yang katanya sangat jernih—di tengah-tengah gunung sekitar 10 km dari kaki gunung kini mencair. Aku sama sekali kehilangan semangat.

Aku menyibak lebih kasar daun berukuran cukup lebar yang menghalangi pandanganku. Warna hijau yang kulihat ternyata berasal dari pakaian seseorang yang sedang dikenakannya. Aku semakin mendekati orang tersebut karena rasa penasaran yang mendominasi.

Huaaa … apa yang akan kau lakukan?” teriakku delapan oktaf, histeris melihat seseorang tersebut merentangkan tangannya dan kuyakini hendak menenggelamkan dirinya dalam dinginnya hembusan angin. “Kau bisa mati!”

“Kau mau ikut?”

“Aku bukan orang bodoh sepertimu!” teriakku lagi. Meski kata-kataku terbilang kasar, setidaknya pria yang kini berada tak kurang dari lima langkah dariku tersebut sepertinya menunda kegiatan bunuh dirinya.

Tiga detik dia melihatku dengan begitu tajam, lalu kembali memunggungiku. Apa dia lagi-lagi berniat menggelindingkan dirinya? Ini pasti kasusnya sebelas dua belas dengan yang aku alami. Apa lagi kalau bukan urusan cinta yang membuat seseorang teramat galau?

“Kau tahu? Aku bahkan baru mengalami patah hati melihat seseorang yang aku sukai berpacaran dengan wanita yang begitu cantik. Aku memang sudah terbiasa bercumbu dengan kecewa, tetapi aku tidak bodoh seperti dirimu. Apalagi kau … tampan,” aku sedikit tersekat, bisa-bisanya aku memuji orang yang ingin mati ini. Ah, aku sudah tidak peduli. “Bahkan kau bisa memacari wanita mana pun yang kau inginkan. Bukan seperti aku yang buruk rupa ini! Sadarlah …,” aku semakin bingung. Kenapa aku jadi mencurahkan semuanya? Apa aku sudah tidak punya rasa malu? Tetapi, nyawa pria ini masih diperlukan—setidaknya untuk menghilangkan penat si gadis “serba kekurangan” sepertiku.

“Setidaknya kau akan terbebas dari kata ‘cinta karena fisik’,” katanya, singkat.

Aku menggeleng. Ini benar-benar sudah tidak bisa dibiarkan. Secepat kilat aku menarik pergelangan tangannya, menyeretnya dengan terengah-engah karena pria tersebut sedikit menolak ketika aku membawanya ke tempat yang lebih aman. Aku benar-benar menjadi pahlawan kesiangan sekarang.

Aku memaksanya duduk, lalu mengarahkan jari telunjukku pada setangkai bunga berwarna putih. “Kau lihat itu?”

“Dandelion?”

“Ya. Kau perhatikan bunga itu dengan teliti. Meski tangkainya kecil, dia tetap bisa hidup di mana saja. Angin memang sukses memisahkan kelopak-kelopak bunga tersebut di mana pun berhembus, tetapi benihnya yang jatuh akan kembali hidup dan menemukan cinta yang baru.”

“Dandelion yang tak setia,” simpulnya sendiri, membuatku mengernyitkan dahi.

“Tidak begitu …”

“Lantas?”

“Kau ingin mendengar satu cerita?” tawarku, lalu kembali ngoceh saat kata boleh belum kudengar darinya. “Katanya… bunga dandelion adalah lambang cinta Putri Bunga. Waktu itu, Putri Bunga menyukai seseorang yang memang ditakdirkan untuk juga menyukainya. Mereka mencintai seperti air yang tak pernah menemukan muara. Namun, bukan cinta namanya jika tidak memiliki ujian. Sang kekasih seperti ditelan bumi, hilang entah ke mana. Tak ada kabar yang memuat dirinya di seluruh penjuru hutan. Seperti dandelion, Putri Bunga juga teramat sangat rapuh saat itu. Cinta yang mereka pupuk bersama seperti dihantam badai seketika. Konon, Putri Bunga juga ikut hilang karena mencari keberadaan kekasihnya. Orang-orang meyakini bahwa Putri Bunga hanya berpindah tempat, namun cintanya tetap abadi di kehidupannya yang baru.”

Aku berhenti bercerita ketika menyadari pria tersebut menatapku tanpa berkedip. Alis matanya yang tebal semakin membuatnya memesona. “Karena itu, kau tidak boleh berputus asa! Kau harus bisa hidup seperti dandelion. Mungkin cinta sejatimu akan kautemui di tempat yang lain, bukan malah harus berakhir dengan sikap lebay seperti tadi. Dan, harus kautahu! Di bawah sana, tidak ada binatang yang sudi memakan jasad pria menye-menye sepertimu,” aku semakin ngelantur. Entah ini karena aku yang memang ingin segera menyadarkan pikiran sesatnya, atau malah ingin menetralkan jantungku yang abnormal karena tatapan lancang pria tersebut? Entahlah.

Kegugupan semakin memuncak saat aku mendengar bunyi yang tidak asing di bagian perutku.

Krokkk … krokkk …

Bukan hanya tersenyum, pria itu kini sudah berani tertawa lebar mendengar suara panggilan alam tersebut. Berani-beraninya dia! Huh. Aku semakin frustasi menyadari banyak hal. Bekal makan yang kutitipkan di ransel Fauzi, dan … aku yang kehilangan jejak mereka. Aku membuka tas bahuku dengan tergesa-gesa, mencari keberadaan ponsel—yang kuyakini—menjadi barang satu-satunya yang bisa menemukanku dengan keberadaan mereka.

Huaaa … tidak ada sinyal …,” aku menggoyang-goyangkan benda mungil tersebut dengan geram, kembali melakukan kebiasaanku: menggigit bibir.

“Makanlah dulu,” suara pria itu saat rambutku sudah berantakan kuacak-acak. Dia yang menjadi sumber masalah di sini. Aku harus menghukumnya dengan menghabiskan bekal yang dia bawa.

Tanpa menunggu aba-aba lagi, aku mencomot satu buah roti berisikan selai nanas tanpa malu. Ternyata benar, lapar membuat seseorang menjadi mengerikan. “Kau masih sempat-sempatnya membawa bekal saat memutuskan untuk mati?”

Aku tak kunjung mendapatkan jawaban. Memang, pertanyaan seperti itu tak sepantasnya aku tanyakan. Aneh.

“Aku Daffasha, panggil saja dengan Daffa,” katanya, memperkenalkan diri. “Kamu?”

“Tihana Mardova,” aku langsung menjawab dengan mulut masih dipenuhi roti. “Panggil saja Thiana.”

Lagi-lagi dia tersenyum, melirik sekilas benda bundar yang ada di pergelangan tangannya. “Sudah jam tiga sore. Jika satu jam lagi kamu masih belum turun, cuaca pasti sudah mulai gelap,” jelasnya.

“Benarkah? Lantas? Apa kau tega membiarkanku turun sendiri? Kau punya andil dalam kesesatanku sekarang. Tunda dulu kegiatan bunuh dirimu. Kau harus mengantarku sampai ke kaki gunung!” aku memaksa. Tidak ada lagi yang bisa aku lakukan selain  hal itu. Bukannya menikmati suguhan air terjun secara langsung, eh malah berujung seperti ini. Oh Tuhan, kenapa tidak pernah ada yang beres dalam hidupku?”

“Thianaaa …”

Aku mengenali suara itu. Senyumku langsung merekah menyambut kedatangan Fauzi. Syukurlah, aku tidak jadi tersesat.

“Apa kau bodoh, hah? Kenapa kau tidak menyusul kami? Apa kau ingin membuatku gila?”

Aku mundur beberapa langkah. Siapa orang ini, berani-beraninya berteriak membuat telingaku berdesing seperti ini? Dia hanya laki-laki yang tidak sengaja tumbuh besar denganku karena keberadaan rumah kami yang berdampingan, tetapi bukan berarti dia punya hak mengomeliku seperti sekarang. Mama juga mengizikan aku pergi karena percaya dengan dia, tetapi dia membuatku semakin naik pitam.

“Kenapa memangnya? Aku bukan peliharaan yang harus terus membuntutimu,” aku mendengus kasar. Sudah cukup dia membawa Shen dan Queeny saat aku ingin menjauhi mereka, jangan pancing lagi aku dengan hal menyebalkan yang lain.

“Dasar bodoh,” meski pelan, aku mendengarkan kalimat yang baru saja keluar dari bibir Daffa dengan jelas. Aku menatap pria tersebut lekat-lekat. “Apa selama ini matamu terlalu dibutakan oleh orang lain?”

Tungu! Aku tidak bisa mencerna ucapan Daffa. Apa dia bilang? Mataku dibutakan oleh orang lain? Apa maksud pria ini? Lagi pula, apa aku harus mendengarkan ucapan orang yang sudah bosan hidup?

“Kau tidak ada hubungan darah dengan pria itu, kan?” tanyanya, serius. “Kekhawatiran di matanya jelas menunjukkan dia menyukaimu,” kali ini Daffa mengucapkannya dengan berbisik di telingaku.

“Siapa dia?” tanya Fauzi.

“Lihat, kan? Dia cemburu,” Daffa kembali berbicara tetang pikirannya. “Aku ingin berterus terang denganmu tentang suatu hal,” dia kembali tersenyum, “aku sama sekali tidak ingin bunuh diri, bahkan niat pun tidak ada. Aku akan menikah minggu depan. Aku hanya melarungkan perasaan bahagiaku bersama angin,” katanya, membuatku terbelalak lebar. “Terima kasih untuk waktunya. Pria itu kelihatannya baik.”

Tatapanku berpindah kepada Fauzi. Wajahnya terlihat keruh. Mungkin dia memang khawatir mencari aku yang tiba-tiba hilang jejak.

“Aku juga ingin berterus terang tentang suatu hal,” kataku kepada Daffa. “Tidak ada kisah Putri Bunga yang pernah ada di dunia ini. Aku hanya mengarangnya sendiri,” impas, aku tertawa cekikikan. “Terima kasih, sudah membuka mataku.”

Pikiranku tentang Fauzi yang mungkin mengkhawatirkanku hanya sebagai sehabat pudar saat Fauzi menggengam tanganku dengan erat, seperti takut aku akan hilang tertiup angin layaknya bunga dandelion. Aku menemukan cinta dalam perjalananku. (naskah: Sri Maryani (*)/ilustrasi: Ruslan Muhammad/editor: Heti Palestina Yunani)

(*) Sri Maryani biasa menggunakan nama pena Sri Marflowers. Lahir 22 tahun silam, tepatnya 11 april 1992, dia menyukai tulis-menulis sejak SMA, kini sedang menunggu novel perdananya terbit dengan judul Forever You. Sri Maryani bisa dihubungi lewat email mar_orchidflowers@yahoo.com atau di nomor kontak: 085654413993