Danau Napabale Menguji Para Divers Sejati

Dinding-dinding karang berdiri tegak. Tetumbuhan hijau yang hidup di tubuh karang, melambai menyejukan mata dan jiwa. Danau berwarna hijau cemerlang memukau. Wujud gua-gua banyak bercerita tentang sejarah. Setiap sudutnya ada kisah. Rayuan-rayuan kalimat tentang Napabel tersebut sering terdengar di telinga.napabale-5

Siapa yang tidak penasaran? Siapa yang tidak ingin menelusuri sekaligus memeluknya? Tak luput hati saya yang tak kuat dan segera saya putuskan untuk terbang ke Kendari, Ibukota Sulawesi Tenggara. Dari sana saya menyewa kapal kayu atau sampan menuju Danau Napabale yang terletak di kaki bukit Desa Lohia, Kabupaten Muna, sekitar 15 km arah selatan dari Kota Raha.

Ongkosnya? Cukup Rp 50 ribu saja. Itu  sudah plus seorang nelayan yang mengayuh kapal. Dari Kota Raha, saya menggunakan taksi. Setelah makan waktu sekitar setengah jam, sampailah saya di Teluk Muna. Selain taksi, wisatawan bisa juga menggunakan jalur darat, yaitu ojek. Tidak berbeda dengan taksi, ojek juga memakan waktu yang sama; hampir setengah jam. Bisa juga menggunakan jalur laut dengan perahu ‘Katingting’ atau perahu mesin selama 15 menit.

napabale-4Rupanya, nelayan di sana bukan mahir mengemudikan perahu saja, namun bisa  menjadi pemandu wisata. Sebagai pemandu, mereka bisa memberikan saran, di titik mana pemandangan bawah air memiliki kawasan keindahan laut nun membuai. Di sekitar danau ada toko yang menyewakan alat selam dan perahu sampan. Saya bersama dua perahu sampan lainnya menjadi satu tim diving. Mereka memberi saya dua orang lagi sebagai pemandu khusus wisata dalam laut.

Saat duduk di atas sampan, saya seperti berlayar menuju surga Danau Napabale yang berair asin. Mata akan tertegun ketika memasuki area danau ini, menikmati pemandangan yang disuguhkan terowongan alam sepanjang 30 meter dan lebar 9 meter. Danau Napabale ini memperoleh suplai pasokan air dari laut. Saat itu air sedang surut, di mana pasokan air danau turut berkurang, sehingga kita dapat melewatinya.

Tapi bila air sedang pasang, kita tidak bisa menelusurinya karena permukaan danau naik dan terowongan penghubung akan penuh tertutup oleh air. Nelayan itu bercerita, zaman dahulu kala, konon, diketemukan seorang gadis cantik yang menumpang sebuah talam, terdampar di dalam terowongan dan masyarakat saat itu tidak mengetahui asal usul gadis itu dan menamakannya Sangke Palangga.

Nama ini mempunyai arti; orang yang menumpang Palangga atau biasa disebut talam. Peristiwa ini dilaporkan masyarakat setempat pada Raja Muna, karena kecantikan dan kemolekan gadis ini, Raja Muna jatuh hati dan akhirnya menikahi gadis itu. Wow, cerita yang manis. Seandainya persitiwa 15 abad lalu ini benar terjadi dan saya menjadi gadis itu, saya pun tidak akan menolak lamaran dari Raja Muna.

Menurut cerita, Raja Muna ini berwajah tampan, gagah dan sangat memperhatikan kesejahteraan rakyatnya. Sambil mendengar kisah dari nelayan, saya tak henti-henti menatap kagum pada cincin karang yang membentuk cawan di danau. Saya benar-benar meresapi ketenangan air laut. Saya duduk di atas sampan sambil dimanja sebuah lagu hening. Tanpa suara, namun mampu bertutur kedamaian jiwa.

Sungguh menakjubkan, memandangi bukit-bukit karang tinggi dan terjal yang mengelilingi danau. Tinggi, keras dan terjal, namun kuasa itu disimak penuh keindahan dan membuat jatuh hati. Bagaimana tidak, bukit-bukit ini dipenuhi rimbun pepohonan dan tumbuhan berwarna hijau-memberikan kesejukan tiada tara.

Anda tahu Raja Ampat atau lokasi film The Beach yang dibintangi Leornado Dicaprio? Nah, bebukitan atau tebing tinggi ini tak kalah memukaunya dibandingkan tempat wisata terkenal yang saya sebut tadi. Saya mengira bukit atau tebing karang seperti ini, hanya terdapat di Raja Ampat dan Pantai Hat Maya, Kepulauan Phi Phi Leh, Thailand. Ternyata keindahan itu juga ada di Danau Napabale yang lautnya berwarna hijau.

napabale-2Sungguh suatu lukisan alam yang tak bisa dilukiskan kembali, bahkan oleh seorang pelukis tersohor di muka bumi ini. Terlihat pula anggrek batu yang tumbuh di sepanjang dinding danau dan air laut mengalir lewat gua-gua kecil di kaki bukit karang. Gemericik airnya  terdengar di telinga. Di sini terdapat 3 karang besar berbentuk seperti tube fallopi yang ditumbuhi pepohonan liar. 3 karang besar ini menjadi tempat lorong jutaan spesies ikan laut di selat Buton.

Dari atas perahu itu pula, kita bisa melihat langsung keindahan berbagai macam jenis ikan laut, makhluk laut lainnya dan terumbu karang beserta tanaman bawah laut yang amat memukau. Sekarang saya baru tahu kebenaran kalimat teman saya tentang ‘surga perawan’. Ya keindahan semesta yang ditawarkan Napable, benar-benar termasuk ‘surga perawan’ itu; keindahan yang belum terjamah. Suatu tempat yang tak disentuh atau dirombak sama sekali oleh campur tangan manusia.

Ini benar-benar keajaiban produk Tuhan, proses alami alam semesta yang terjadi secara natural terbentuknya. Jika Anda divers sejati, Danau Napabale merupakan salah satu tempat tujuan yang paling saya rekomendasikan. Jangan mengaku penggila diving, kalau tidak pernah menikmati Danau Napabale. Bagi yang tidak menyukai kegiatan diving, Anda bisa melakukan snorkeling. Akitivitas ini tidak kalah mengasyikan. Pokoknya berwisata ke pemandangan bawahair di Napabale, saya hanya bisa acungkan jempol!

napabale-3Di danau ini saya sempat melihat beberapa orang berenang-renang mengitari danau sambil ditemani perahunya. Hmmm, nikmat juga sepertinya. Lengkap sudah fasilitas kenikmatan yang disuguhi oleh Danau Napabale. Kenikmatan luar biasa ini tidak sampai di situ. Saya menyeberangi terowongan menuju tepi pantai. Pantai dengan hamparan pasir putih yang tak kalah indahnya seperti pantai yang saya kunjungi sebelumnya.

Saya bersama lainnya, berniat beristirahat di pantai ini seraya menyantap makanan siang berupa hidangan laut. Sambil makan, saya lihat ada yang bermain ombak atau hanya berjemur di bawah matahari. Saya membayangkan senja di pantai ini; pastilah ia adalah senja kemerahan yang mampu memikat hati.

Sekarang mari kita berhitung berapa duit yang harus saya keluarkan untuk satu paket wisata ke Danau Napabale. Untuk penginapan hotel selama 1 hari, mobil AC, makan, pemandu wisata, tiket masuk objek wisata, kira-kira dikeluarkan biaya Rp 2,3 juta per orang. Ditambah menyewa speed boat biaya per orangnya sekitar Rp 150 ribu hingga Rp 175 ribu.

Ya taruhlah Rp 2,5 juta sampai Rp 3 juta untuk menikmati surga bawah laut di pusat segitiga terumbu karang dunia itu. Untuk angka segitu, saya rasa tidak ada ruginya. Karena pemandangan semesta yang kita nikmati benar-benarlah worth it. Sayang sekali belum ada tempat penginapan di Danau Napabale. Penginapan yang nyaman hanya terdapat di Kota Raha. Tapi kalau mau inap d danau, tersedia tenda-kemah di sekitarnya. Asyik juga kok. (naskah: Sari Novita/foto: net/Heti Palestina Yunani)