Dal Bat dan Dal Makhani Ditutup Lassi

Kebal dengan Menu Nepal (2)

Sesampai di Gosaikunda, -tanah impian saya-, nafsu makan makin tidak karuan. Perut tiba-tiba mual. Makanan susah masuk selain teh panas dan satu butir biskuit. Padahal saya berusaha bisa kebal dengan semua maknan di Nepal. Sebab saya tak mau menderita AMS. Kalau itu terjadi, bisa jadi saya akan dievakuasi oleh helikopter.

Jelas itu tidak keren. Karena saya tidak membeli asuransi perjalanan, maka jika saya sakit saya harus membayar sendiri ongkos evakuasi senilai USD3000! Wah terima kasih deh. Untung sesampai dari berfoto ria di Danau Gosaikunda, matahari mulai menampakkan sinarnya. Suasana mulai menghangat walau dingin masih menusuk.

Saya mulai bisa beradaptasi dengan suhu setempat. Order makan lebih diperlunak, saya memesan pancake pisang. Topping kejunya saya tambahkan sendiri dari perbekalan. Tapi tetap saja, hanya termakan separuhnya. Duh, akhirnya buka kotak makan lagi untuk bekal.

Masih bicara makanan khas Nepal, perlu diketahui bahwa Nepal adalah negara yang diapit oleh tiga negara: China di bagian utara, India di bagian timur dan selatan serta Bhutan di bagian barat. Maka budaya Nepal adalah akulturasi dari tiga bangsa besar: India, China dan Mongolia.

Tidak heran jika makanan khas Nepal banyak dipengaruhi budaya India. Salah satu makanan khas Nepal yang diadopsi dari India adalah dhal bhat. Dal bhat menjadi makanan tradisional yang cukup populer juga di Bangladesh.

Dhal bhat dianggap sebagai hidangan nasional Nepal karena memiliki manfaatnya bagi kesehatan. Kandungan karbohidrat hingga proteinnya tinggi. Itulah mengapa dal bhat dimakan setidaknya sekali dalam sehari oleh masyarakat Nepal. Biar kebal dengan cuaca di Nepal yang hingga minus derajat celciusnya kali ya.

Porsinya yang cukup besar dan tak terbatas membuat dal bhat menjadi idola para pendaki di Himalaya. Saking populernya banyak kaos yang disablon tulisan Dhal Bhat Power 24: Hours. Artinya, makanan itu memang tepat untuk bisa kebal dari kelaparan selama 24 jam.

Saat disajikan, saya tak kaget karena sempat cari tahu dulu bagaimana rupanya. Benar, dal bhat adalah hidangan nasi yang disajikan di tengah dikelilingi oleh kuah kari, sayuran, krupuk opak (pangsit) dan tumisan.

Makanan muslim di Nepal

Karinya bisa dari ayam, kerbau, sapi, kambing, atau ikan. Kalau mau ada acar atau sambal yang difermentasi berasa sangat besar. Mirip wasabi dalam masakan sushi Jepang itu mungkin ya. Bicara tentang daging, orang Nepal sebagaimana orang Hindu-Budha di India, sangat menyakralkan sapi sebagai hewan suci mengingat sapi adalah kendaraan dewa-dewa mereka.

Maka tak heran karena orang Nepal tidak makan daging sapi, sedikit dal bhat yang disajikan dari daging sapi. Yang khas, dal bhat selalu disajikan dalam sebuah piring aluminium bundar bersekat. Piring itu cukup besar, berdiameter sekitar 30 cm.

Kalau orang-orang Nepal sendiri, biasanya melahap menu dal bhat dengan tangan (muluk), bukan dengan sendok dan garpu. Tetapi, bagi wisatawan asing, pelayan restoran selalu menyediakan kedua alat makan itu.

Saya sendiri saat sampai Kathmandu baru mencoba dal makkani dan plan nan. Dal makhani adalah salah satu hidangan klasik Punjabi. Dibuat dari urad dal atau lentil hitam, rempah-rempah, mentega, dan krim. Hidangan ini biasa disajikan di dalam mangkuk besar dengan roti panas.

Seperti dal makhani dari India, plan nan adalah roti India. Kalau di Ampel, Surabaya mirip martabak mariam begiulah, hanya lebih tipis. Setelah makan dal makani, langsung diguyur lassi, minuman khas Nepal (dan India pada umumnya) yang berbahan dasar yogurt. Wah, maknyus. (naskah dan foto: Menur Kusuma/editor: Heti Palestina Yunani)