Cruise ke Danau dengan Shikara

Membelah Keheningan Danau Dal (1)

Garis jingga sang surya membelah bumi. Perlahan menguak pesona Danau Dal, India, di pagi hari. Di danau itu, tampak berjajar rumah perahu dengan latar belakang gugusan Pergunungan Himalaya berselimut salju. Saya memilih duduk di salah satu dermaga rumah perahu. Saya biarkan kaki menggantung, merasakan dinginnya air dalam Danau Dal.

Secangkir chai teh yang yang diseduh dengan susu menemani dinginnya udara. Suasana jadi hangat karenanya. Alangkah nyamannya menikmati sang surya terbit menyinari bumi surga dunia Jammu dan Kashmir pagi itu. Tiba-tiba, melintas di depan saya seorang wanita cantik berhidung mancung dan berkulit putih.

Ia mendayung sampan menuju pasar terapung. “Assalamualaikum,” sapanya dengan senyum ramah pada saya. Perempuan itu penduduk Kashmir. Sebagian besar penduduk Kashmir adalah Muslim. Itulah mengapa ia memberi salam. Kedamaian dan kebahagiaan merasuk ke dalam relung hati.

Sesaat saya melupakan segala lelah yang saya lalui di hari kemarin. Lelah, setelah 24 jam perjalanan darat dari Kota Delhi menuju Srinagar, Ibu kota Jammu dan Kashmir, India. Itu pun masih pula melewati puluhan perbukitan dan pergunungan, menikmati suguhan alam dan kehidupan alam pedesaan.

Tapi yang penting saya telah mencapai Danau Dal. Danau atau yang akrab dikenal dengan Dal Lake itu berada di jantung Kota Srinagar. Danau Dal dijuluki juga sebagai Jewel in The Crown of Kashmir. Ia merupakan pusat wisata Kota Srinagar yang berada di lembah Gunung Zabarwan.

Di danau itulah, berjajar rumah perahu atau biasa disebut houseboats. Rumah perahu ini selain digunakan sebagai tempat tinggal juga digunakan sebagai tempat penginapan yang menawarkan nuansa tradisional.

Seperti rumah layaknya, semua lengkap dengan segala fasilitas layaknya sebuah hotel. Bahkan, rumah perahu yang saya sewa menyediakan fasilitas wifi gratis. Danau seluas 35 km persegi ini mengayomi sekitar 1200 rumah perahu. Terbuat dari kayu, bagian depan rumah perahu biasanya berhiaskan ukiran kayu khas Kashmir.

Ciri itu sedikit mengingatkan saya dengan ukiran gebyok Jawa. Rumah perahu itu cukup luas terdiri atas 2 atau 3 kamar. Saat saya menocoba berjalan di dalamnya, terdengar suara henyitan kayu yang tertutup oleh permadani merah. Permadani indah hasil karya mahakarya seni kerajinan penduduk Kashmir.

Dari jendela, saya menengok. Saya melihat hamparan kumpulan bunga lili warna merah muda yang mengapung di sebelah rumah perahu. “My sister, breakfast is ready,” ucap Pak Firdaus, pemilik rumah perahu itu membuyarkan tatapan saya pada lili cantik itu.

Seraya memanggil saya yang masih duduk manis di dermaga rumah perahu Danau Dal, ia menunjukkan apa yang ia siapkan untuk saya. Setelah menikmati santapan sarapan pagi dengan omelet bawang dan roti bakar, saya bersiap menikmati keindahan Danau Dal.

Kali ini saya menggunakan Shikara. Apa itu? Shikara adalah sebuah perahu hias yang dilengkapi dengan sofa nyaman dengan warna mencolok. Shikara ini mengingatkan saya dengan Gondola yang ada di Venice Italia. (naskah dan foto: Attini Zulfayah/editor: Heti Palestina Yunani)