Cokelat Panas dan Apple Pie Usir Dingin Acoma Pueblo

Acoma Pueblo, Desa di Atas Langit (1)

Tetapi menurut guide, tidak semua suku Pueblo tinggal di rumah mereka di Acoma Pueblo. Ada yang telah pindah dan bermukim di luar desa ini dan hidup seperti kebanyakan orang Amerika modern, namun secara rutin mereka tetap kembali mengunjungi rumah leluhur mereka. Beberapa acara tradisional pun masih kerap di lakukan di Acoma Pueblo.

Sang guide lalu berjalan menyusuri lorong lorong di desa. Rumah rumah yang ada telah diperbaharui kembali dan dibangun menyerupai aslinya. Rumah pueblo bercirikan khas dan unik yang terbuat dari lumpur dan jerami dan berwarna cokelat. Biasanya rumah terdiri dari beberapa tingkat dan mempunyai tangga disampingnya. Suku Pueblo juga menggunakan kayu sebagai pondasi untuk bagian atas rumah.

Saya berusaha menengok ke dalam rumah melalui jendela kaca mereka, tiba tiba seorang ibu keluar dan menyapa. Saya pun membalas menyapa. Di depan rumah terdapat meja yang memamerkan hasil karya seni Suku Peublo yang sangat popular yakni aneka kerajinan pecah belah yang terbuat dari tanah liat, perhiasan, lukisan dan lain-lain. Ibu yang mengaku tinggal di Acoma Pueblo ini menjelaskan apa-apa saja yang dijualnya.acoma-5

Dia menyakinkan keseluruhannya adalah hasil karyanya. Untuk membuktikannya, saya mengambil sebuah kalung dan dibelakang namanya, terpapampang namanya. Otentik. Untuk sebuah maha karya seni ini, dia menjualnya dengan sangat murah hanya USD 5, saya terbujuk membelinya. Tak jauh dari rumah ini, telah menunggu pedagang lainnya.

Angin yang kadang bertiup kencang, dan cuaca yang dingin, membuat saya pun hinggap kembali ke rumah berikutnya dan merasakan hangatnya cokelat panas dan kue tradisional apple pie. Berada di sini, saya sungguh tak percaya bahwa sedang berada di negara super power seperti USA. Jika Anda adalah penggemar film Hollywood seperti saya, tempat ini tentu bukan yang Anda bayangkan.

Bahkan di tempat ini masih jauh dari peradaban. Sepertinya waktu berhenti sejenak di Acoma Pueblo. Anak-anak masih bermain bebas dan riang, orang tua yang duduk santai bergosip. Hidup memang kadang kala lebih damai, tenang dan bahagia tanpa ganguan notifikasi Facebook serta keharusan meng-update Twitter. Such a spiritual trip!

Ini info penting untuk Anda yang ingin mengunjungi Acoma Pueblo: turis harus membayar tiket masuk untuk orang dewasa 23$ atau bisa juga membeli family pass seharga $58. Harga di atas sudah termasuk shuttle van dari visitor center menuju Acoma Pueblo, guide serta izin untuk memotret. Tour ditutup pukul 4.30 waktu setempat.

Karena cuaca yang dingin, disarankan membawa baju hangat, syal, menggunakan sepatu/boot, penutup kepala, kacamata dan air minum. Setelah itu, para peserta akan dibawa menggunakan mini bus mereka menuju Acoma Pueblo. Dulunya tidak ada jalan seperti ini. Masyarakat di Acoma Pueblo harus memahat bukit batu tersebut dengan tangan. Oleh karena itu, saya pun tertarik mencoba hiking turun ke bawah Acoma Pueblo yang terjal.

Dengan begini, saya dapat merasakan bagaimana penduduk setempat dahulunya harus bolak-balik menuju ladang atau bagaimana beratnya mengangkut kayu melalui jalan ini. Untunglah, di samping tebingnya terdapat bekas tangan yang dapat dijadikan pegangan ketika turun/naik. Waktu yang dibutuhkan sekitar 20 menit untuk sampai ke visitor center.

How to ge here: tidak ada kendaraan umum yang mencapai lokasi Acoma Pueblo, malahan berada di daerah cukup terpencil jauh dari permukiman penduduk. Satu satunya cara yang dapat Anda lakukan ialah menyewa mobil dari Alburquerque, New Mexico dan berkendara 60 mil dari ke arah barat. (naskah dan foto: Lenny Lim/editor: Heti Palestina Yunani)