Cinta dalam Traveling; Win Win Solution

“Travel brings power and love back into your life.” -Rumi

wina (1)Ini bukan tentang tema lomba cerita pendek bertajuk “Lomba Cerpen Travel n Love” yang saya buat pada Mei-Oktober 2014 untuk meramaikan jagad literasi tanah air. Ini hanya tentang memaknai perjalalanan. Bahwa traveling itu tak bisa dilepaskan dari persoalan cinta. Cinta saya yang membabi buta pada Indonesia membuat saya tidak bisa kaya, laba bisnis larinya juga buat jalan-jalan, buat bikin lomba, buat bikin majalah cetak kala itu.

Kalau bukan karena cinta pasti itu karena gila. Betapa menjadi gila itu sebuah anugerah, saya bersyukur bisa gila dan bikin lomba cerpen sendirian. Gila, bikin majalah cetak padahal sudah banyak perusahaan sejenis yang bangkrut. Cinta lah, yang membuat saya cukup gila untuk mengambil jalan ini, cintalah yang membuat saya bertahan, cinta pada dunia traveling, cinta pada Indonesia.

Cinta yang cukup buta, bukankah seharusnya saya sudah keliling dunia? Tetapi saya memilih jalan ini, jalan gila yang kadang tidak dimengerti orang lain. Lalu seseorang berkata: ini anti mainstream yang terlalu. Bagaimana tidak? Ke Korea dengan salju dan sakuranya itu dalam 7 hari masih lebih murah dibandingkan ke Flores 5 hari.

Padahal kalau saya memilih korea, betapa bangganya saya memasang foto-foto itu di wall Facebook, sebuah stempel di paspor bertambah lagi. Aneka jempol berdatangan memberi dukungan. Tetapi saya memilih Flores (walaupun akhirnya batal meski sudah issued tiket seharga Rp 4 juta). Cinta memang buta.wina (3)

Suatu hari saya pernah menghadiri undangan perkawinan seorang teman bule Spanyol cantik, yang memilih pria Indonesia yang berprofesi sebagai beach boy. Mereka menikah sederhana di sebuah resto di Jimbaran. Pernikahan itu dihadiri oleh komunitas beach boy yang menikahi para perempuan bule dan mereka saling membawa anak masing-masing. Salah satu tamu sambil menggendong anak bayinya, berciuman sangat lama dengan pasangannya.

Saya tersipu, bukan malu tetapi kagum (untuk mengganti istilah ingin). Ciuman itu adalah ciuman paling profokatif sepanjang pesta sore itu. Sang isteri seorang perempuan berambut pirang yang terlihat sangat intelek, dan suaminya adalah pria Wonosobo berkulit gelap, amat gelap dengan rambut merah terpanggang matahari, penuh tattoo, anting berderet di salah satu sisi telinga. Kontras dan warna-warni.

Dan kami ( saya dan seorang teman) adalah orang asing di negeri antah berantah, sebab hanya kami yang berjilbab, di antara sekian banyak orang yang berpakaian minim (ingat, lokasi pesta di pantai). Dari peristiwa itu, ada dua hal yang saya dicatat:

  1. Diversity. Di lokasi ini ada berbagai warna kulit, keyakinan serta suku dan negara. Di sini juga ada warna warni penampilan, baik yang  tertutup seperti kami berdua, maupun semi telanjang.  Ibarat makanan, kami benar-benar gado-gado yang berisi segala sayur dan buah lalu disiram saus kacang. Kami berkumpul di sini, demi merayakan cinta. Kamilah sayur-mayur itu, dan saus kacang adalah cinta itu.
  2. Spirit keluarga. Selama pesta itu berlangsung, setiap orang terlihat bahagia, ngobrol, makan, minum. Tidak ada angpau dan gambar celengan, yang ada meja tempat kado. Dan kadonya bukan benda-benda mahal yang dibungkus kertas mahal. Beberapa kado berupa benda-benda pribadi seperti bunga meja, pigura foto, baju tidur, dan lain-lain, kado yang bisa dilihat semua orang, begitu transparan. Tidak ada pihak yang ingin untung atau mengambil keuntungan. Cinta adalah memahami satu sama lain, jelas, transparan, tidak basa-basi. Begitu pula konsep traveling: win-win solution. Antara partisipant, antara client dan organizer, semuanya saling membahagiakan. (naskah dan foto: Wina Bojonegoro/editor: Heti Palestina Yunani)