Bima Sakti di Langit Pemana

Menikmati Pulau Pemana dari Desa Gunung Sari (3)

Tak hanya siang, menikmati Pulau Pemana dilihat dari Desa Gunung Sari juga makin asyik begitu beranjak senja. Saya sempat melihat bagaimana senja merambat pelan berganti petang mengiringi matahari kembali ke peraduan. Saat itu, langit makin indah dengan semburat jingga yang menghiasinya.

Semua itu saya lihat sampil melangkah menuju rumah milik Bapa (tetua) di Desa Gunung Sari di mana saya beristirahat. Hari makin gelap dan lampu-lampu di rumah penduduk Gunung Sari, mulai dinyalakan. Beruntung, sumber listrik di pulau ini cukup terjamin berkat pembangkit listrik tenaga diesel dari PLN. Makanya masyarakat desa bisa menikmati listrik 24 jam sehari.

Sesampainya di rumah, saya membersihkan badan. Tak sulit untuk mandi, karena di Pulau Pemana telah tersedia sumur-sumur air tawar. Usai mandi, saya terlibat perbincangan ringan namun seru dengan Bapa Desa Gunung Sari. Beliau banyak bicara tentang keadaan umum pulau ini. Pembicaraan baru terhenti ketika salah seorang kerabat Bapa Desa menawari saya untuk makan malam.

Wah kebetulan, ada kuliner khas yang disajikan malam itu yaitu sayur kacang hijau. Usai makan malam, perbincangan berlanjut sampai malam makin larut. Sengaja karena saya memang ingin menunda keinginan untuk tidur cepat. Itu karena saya ingin menengok ke langit Pemana yang dikatakan orang sangat indah.

Benar juga, tampak bintang-bintang bertaburan bak pasir di pantai. Gerakannya seolah bergeser menuju Pantai Woru di selatan Dusun Ngolo. Tak hanya itu, hamparan bintang galaksi Bima Sakti yang makin malam makin jelas terlihat, tersaji dengan megah. Sungguh pemandangan yang sulit didapat ketika saya berada di kota-kota besar.

Malam itu saya benar-benar terbuai dengan keindahan malam di Pemana. Tapi saya yakin di esok hari, pulau ini pasti belum berhenti memberi kejutan pada saya. Hanya sempat tidur sebentar, suara azan Subuh memanggil umat untuk menunaikan ibadah. Padahal langit rasanya masih gelap. Derap langkah beberapa pemuda menuju masjid, seakan memecah keheningan dusun kecil itu.

pulau pemana (5)Bagi yang mendamba panorama matahari terbit, itulah waktunya bergegaslah menuju Bukit Mbosa yang ada di sebelah timur Dusun Ngolo. Puncak Bukit Mbosa ditandai dengan sebuah talang air dengan hamparan ladang kacang hijau di sekitarnya. Saya menghela napas usai tersengal-sengal akibat terburu-buru mendakit bukit. Pandangan saya lempar jauh ke ufuk timur, menunggu matahari muncul.

Tepat pukul 6 pagi, semburat cahaya mulai terlihat yang datang perlahan bertambah terang. Muncullah juga bulatan Sang Fajar menyapa hari terakhir saya di Pulau Pemana. Tak ada kata-kata yang terucap dari mulut saya, hanya bergumam dalam hati; terima kasih Tuhan, terima kasih Indonesia, terima kasih Flores. (naskah dan foto: Pande Putu Hadi Wiguna-greenearthcadet@gmail.com/editor: Heti Palestina Yunani)